Apa harapan pembaca untuk 2020? Pastinya penuh dengan harapan baik, bukan? Ya, tentu semua orang menyelipkan doa-doa khusus dan harapan seiring bergantinya kalender kita.

Walaupun aku tak terlalu 'wah' dengan segala tradisi "tahun baru", tapi rasanya ikut menabung doa dan harapan tak ada salahnya. Untuk hal-hal baik, kenapa tidak? Jika semarak tahun baru dirayakan dengan pesta dan sebagainya, maka aku ingin ikut menyemarakkan dengan doa-doaku saja.

Harapan tiap orang berbeda-beda, tapi tujuannya pasti sama yakni melangkah menuju perubahan baik. Begitu pula denganku, aku berharap semua aspek dalam hidupku berubah menjadi lebih baik.

Sebenarnya, doa dan harapan baikku ini tak terkhusus dan menunggu hari-hari tertentu; tahun baru misalnya. Semua itu selalu kusemogakan tiap harinya dan ini menjadi bentuk mengingatkan diri sendiri saja.

Sengaja aku menuliskannya di sini, semoga yang membaca ikut mengaminkan. Katanya, doa-doa akan diijabah jika sudah mendapat "amin" dari empat puluh orang, hehehe.

Terilhami dari salah satu penulis di Qureta ini juga, Mbak Cicci Zuhriah dengan tulisan aktualnya berjudul "Resolusi 2020: Hapus Dia dari Hidupku!". Sepertinya seru menyelisik resolusi dalam hidup masing-masing.

Aku jauh dari yang disebut baik, makanya aku sedang giat-giatnya memperbaiki diri untuk ke depannya. Benar-benar baru terasa kaki menginjak bumi dan beban di pundak lumayan berat. Kenapa? Karena aku bertanggung jawab untuk membahagiakan kedua orang tua lahiriah dan batiniah.

Kemarin-kemarin masih apa-apa minta mereka, sekarang aku berpikir 'apa yang yang bisa kuberikan untuk mereka'. Dan, ternyata itu berat sekali. Bagaimana tidak berat, aku harus menyatukan kebahagiaan untuk diriku sendiri, kebahagiaan untuk kedua orang tuaku, dan keinginan bermanfaat untuk sesama.

Dalam hidup ini, menerima semua kritik dan saran di segala bidang agaknya memang harus legowo. Sebuah kebenaran setidaknya pasti mengandung kesalahan; sebuah kesalahan setidaknya pasti mengandung kebenaran. Tidak ada apa pun di dunia ini yang seratus persen, kecuali baterai gawai dan sejenisnya.

Dengan demikian, aku harus banyak mengolah rasa atas apa yang terjadi. Memilah mana yang baik dan mana yang tidak. Sah-sah saja tiap orang memberi kritik dan saran dan perlakuan, tapi aku punya kewenangan untuk bersikap balik seperti apa.

Ibaratnya, orang lain sah-sah saja melempar batu kepada kita. Kita tak ada kehendak melarang-larang orang lain. Namun, kita bisa memilih opsi akan melempar batu balik atau membiarkannya. Biarkanlah, batu tak harus dibalas batu. Dan, mengalah bukan berarti kalah.

Terkadang, hidup ini malah menjadi rumit saat terlalu dalam memikirkan urusan orang lain. Fokus saja pada diri sendiri. Asal yakin yang diperbuat adalah benar dan baik, sudah cukup.

Harapan menjadi lebih baik tentu harus diimbangi dengan tindakan. Yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri adalah menutrisi otak dengan membaca buku. Meskipun hanya selingan, karena kepadatan kesibukan tiap hari, kurasa itu membantu sekali.

Membaca buku akan memperkaya wawasan dan mempertajam empati. Sebenarnya, aku ingin menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang dengan tulisanku. Tapi, rasanya masih jauh dari yang disebut "penulis". Semoga suatu saat, aku bisa mewujudkan harapan baik itu.

Aku sangat ingin menghabiskan sisa umurku untuk berguna bagi orang lain. Untuk menjadi berguna, tentu aku harus mengokohkan diriku sendiri terlebih dahulu. Pondasinya harus benar-benar kuat. Apa yang bisa kubagikan jika aku sendiri saja tak punya apa-apa?

Analoginya, apa yang bisa kutuliskan, jika aku saja tak suka membaca?

Semoga, suatu saat aku bisa mendirikan rumah baca dan sekolah gratis untuk mereka yang tidak mampu. Semoga, aku bisa memberikan bantuan materi maupun nonmateri untuk saudara-saudara yang sedang kesusahan.

Saat ini, aku sedang mengurangi hal-hal tak bermanfaat dalam hidupku. Misalnya, kecanduan media sosial. Sudah beberapa akun kutinggalkan. Kenapa? Untuk menciptakan ketenangan dalam diriku. Terkadang, melihat unggahan orang lain malah menjadi pemicu ajang perbandingan diri.

Aku sedang belajar untuk menikmati hidup tanpa meminta pengakuan dari orang lain; tanpa unggah ke media sosial dan berharap banyak like. Beberapa bulan terakhir, aku merasa hidupku benar-benar tenang.

Penerimaan diri dan mencintai diri sendiri sangatlah penting. Bagaimana orang lain akan menerima kita jika diri sendiri saja tak begitu adanya? Jadi, berhentilah membanding-bandingkan dengan orang lain. Ingatlah, kita hanya ada satu di dunia ini yang tak mungkin sama dengan siapa pun.

Semoga, aku lebih punya banyak waktu luang untuk sekadar menikmati senja sambil ngopi-ngopi cantik; berkebun kembali; mengantarkan ibu belanja; menonton televisi bersama keluarga; dan hal-hal sederhana lainnya.

Teruntuk pendidikanku, semoga lancar sampai selesai. Aku memang dilahirkan dengan kondisi fisik agak ringkih, oleh karenanya Tuhan sedikit menguatkan otakku. Agar aku mencari makan menggunakan otak, bukan otot.

Tentang teman hidup, aku tak pernah alpa mendoakannya. Di dalam kesendirianku ini, tak pernah sepi dari rapalan doa untuk 'dia' nanti. Sengaja aku setia menunggunya yang akan benar-benar menemaniku hingga akhir hayat, bukan sekadar singgah saja. Masa jagain jodoh orang terus? Hehehe.

Di kalender baru, aku ingin menikmati hidup lebih mengalir. Mengurangi sisi perfeksionisku yang berpengaruh buruk. Mencoba lebih luwes dan fleksibel terhadap kehidupan.

Aku percaya, tiap manusia mempunyai takdir baik asal mau berusaha. Semuanya sudah teratur dengan porsi masing-masing.

Seperti yang disampaikan Umar bin Khattab: "Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku."

Sudah, cukup berusaha baik dan mengingat pesan baik tersebut. Akhir tulisan, maafkanlah segala "keakuanku" dan rangkaian kata yang lebih mirip diary ini.

Selamat berganti kalender, semoga 2020 penuh kebaikan dalam hidup kita!