“Da leba’ kambang baro’ ma lao disasi’a?” Artinya: jangan pernah berkata sembarang ketika berada di laut.

Ini nasihat ibuku setiap aku mau ke laut, padahal aku cuma mau bermain di pantai dan mandi di pinggir laut. Dia takut sekali jika aku melakukan hal yang tidak-tidak apalagi sampai berbicara sembarang yang akan membuat penghuni laut marah karena itu dilarang (pimali).

Begitulah awalnya, sehingga aku punya ide untuk menuliskan ini. Ya itu, karena keluargaku terutama nenek ummi (nenek) dari ibuku dan ummiku (ibuku) adalah perempuan-perempuan dari suku Mandar yang konservatif. Karakternya keras dan teguh pada prinsip yang dianutnya. Termasuk segala hal yang berhubungan dengan budaya Mandar.

Mulai dari asimilasi antara Islam dan petuah leluhur alias Kalinda’da (semacam pantun), sampai pada pimali, atau Pamali atau dalam bahasa Jawa adalah “ora ilok” yang maksudnya sebagai sesuatu yang dilarang.

Nah, karena ummiku, kami anak-anaknya (apalagi yang perempuan) ketika akan melakukan sesuatu tidak lepas dari kata Pimali.

Pimali mulai dari soal tempat makanan: Jangan makan dari penutup benda karena nanti menjadi orang yang akan menutupi sesuatu atau dalam bahasa Mandarnya “Pisambo siri” maksudnya, menjadi tumbal atau tameng atas sesuatu yang tidak kita lakukan.

“Jangan mengambil nasi (makanan) langsung dari panci.” kami harus menaruh nasi dulu di tempat (sangku atau wakul) ketika akan makan. Jika mengambil dari panci ke piring, ditakutkan nanti perempuan yang mendatangi laki-laki alias lebih agresif ke laki-laki. 

Perempuan juga tidak boleh menyanyi di dapur, karena nanti jodohnya laki-laki tua (mending laki-laki tua sebenarnya, daripada laki-laki yang jahat he he he).

Perempuan juga tidak boleh memakai piring rusak, walau cuma sedikit istilah Mandanya keba’ . Piring dari plastik juga dilarang dipakai karena harga diri dan mahar perempuan bisa rendah atau turun karena piring (maaf) dianggap ringan dan murahan.

Lalu ada pimali dalam menggunakan penjepit makanan atau Sipi ketika dibuka lebar-lebar karena dikhawatirkan akan jadi pencuri dan takutnya dimakan buaya ketika di laut atau sungai (bua’lipas: semoga tidak terjadi). 

Kemudian ada bantal alias pa’disang yang tidak boleh diinjak, diduduki, dan dilempar (dibuang-buang) ketika diberikan kepada orang lain karena bantal berhubungan dengan kepala karena perbuatan itu bisa menyebabkan sakit kepala.

Gadis-gadis juga dilarang BGT duduk di depan pintu karena takut jodohnya tidak datang. Bisa jadi pintu menghalangi sesuatu masuk. 

Kemudian tidak boleh makan di waktu akan shalat magrib. Apalagi makan sambil tidur (ini karena takut  menelan tulang ikan kali ya?). Lalu ada pimali menggoyang-goyangkan kaki dengan main-main (me’mer). Tidak boleh membunyikan mulut dengan bunyi-bunyi tertentu atau makode-kode istilah Mandarnya. 

Dan segala-sesuatu pimali yang berhubungan dengan “malam” karena dilakukan di malam hari. Mulai dari cari kutu malam-malam, menyisir rambut malam-malam, menjahit malam-malam, mencuci malam-malam, mandi malam-malam dan lain-lain (Ah, malam yang begitu menakutkan?).

Begitulah pimali-pimali dan pimali (banyak BGT ya? Cape’ deh!). Sampai-sampai orang tua selalu bilang Pimali; “Eh Kabe’ da bassa die’, da’ bassa dio, artinya, anakku jangan begini, jangan begitu. 

Aku selalu menjawab dengan: “So?”, “Apa hubungannya?” “Apa yang akan terjadi? “ takutnya tidak dalam Al-Quran dan hadis.”

Ternyata, setelah diamati dan dialami langsung memang ada hubungannya sehingga bisa mengakibatkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan agama tentu saja melarang kita berbuat hal-hal yang kurang baik bagi mahluk hidup di sekeliling kita apalagi terhadap manusia dan alam sekitar.

Islam & Mandar atau Mandar Vs Islam? 

Vis-à-vis… Bagaimana Islam memandang Pimali? Agama memandang budaya kita ini? 

Ada pendapat ummiku, dari petuah leluhurnya yang harus diteliti lebih lanjut mengatakan bahwa: menurut asal katanya Pimali berasal dari bahasa Arab “faala atau fiilmadi” yang artinya perbuatan. Fiilmadi kemudian menjadi pimali yang bisa diartikan perbuatan yang sudah terjadi.

Dan perbuatan ini biasanya terbukti benar terjadi. Sesuatu bila dilakukan berupa larangan akan terjadi sebagai sebab akibat. Sehingga itu dilarang dilakukan lagi karena sudah ada pengalaman sebelumnya (ada yang mengalami).

Sehingga menurutku, Islam dan Mandar tidak terjadi vis-à-vis atau saling berhadap-hadapan karena saling berhubungan dan melengkapi satu sama lain. Istilah take and give ada disini.

Agama membantu budaya untuk subur, budaya membantu agama agar tetap dijalankan. Sustabinility budaya akan jalan terus seiring dengan kepatuhan pada agama begitu pula sebaliknya.

Adalah hal yang baik dan menjadi anjuran agama untuk mematuhi orangtua lewat nasihatnya, larangannya (pimalinya). Orangtua atau dan leluhur kita melarang mengerjakan sesuatu yang akan kita lakukan demi kebaikan kita sendiri karena mereka sudah mengetahuinya sebelumnya apa yang akan terjadi karena terjadi pada mereka sebelumnya (sebab-akibat) karena yang kita lakukan biasanya memang sebuah kesalahan (mengulang perbuatan mereka di masa lampau).

Misalnya anak Gadis harus memakai piring besar ketika makan karena katanya biar maharnya tinggi (sugesti dengan ukuran piring yang besar). Tapi, jika dilihat secara logika memang harus pakai piring besar karena kalau pakai piring kecil makanannya bisa tumpah.

Ini sesuai dengan agama, ketika Allah berfirman, “AKU sesuai prasangka hamba-KU” jadi ketika hamba (kita) berprasangka ketika makan dari.

Dengan piring besar mahar kita akan tinggi semoga akan terjadi (padahal mahar orang Sulawesi memang tinggi, btw asal tidak jadi cewek matre saja he he).

Lihat, bagaimana Cina yang tetap maju walaupun tetap menggunakan Fengshui untuk kehidupan mereka. Mereka tetap menjaga kelokalan fengsui dan perangkat-perangkat didalamnya istilah bekennya Aura, Chi, Shio, dan sebagainya dan sebagainya (kagak ngerti dah’).

Spirit leluhur yang menjadi inspirasi untuk maju. Contohnya, saja fengsuhi rumah, yang begitu detail dan jelas terlihat jelas bagaimana local wisdom leluhur, dan tetua-tetua mereka begitu kaya dan mendalam terhadap kehidupan wawasan kehidupan yang begitu arif dan bijak.

Walaupun, Cina termasuk negara yang sudah sangat maju dan ekonominya sangat bagus tidak lupa menjaga tradisi yang dipercaya turun-temurun karena tetap menjadi sumber kekuatan mereka dalam hidup. 

Mandar kini…

Pimali juga dapat dikatakan sebagai identitas alias jati diri orang Mandar khususnya dan Sulawesi umumnya karena pimali mengkonstruksi kepribadian orang Mandar. Dan Mandar tidak akan kalah ketika mereka tetap menjaga pimali walau dianggap kuno dan terbelakang. 

Bukankah yang terbelakang itu yang tidak mau melihat kebelakang, belajar dari kesalahan orang tua-orang tua, nenek moyang, nenek alias kanne-kanne kita sehingga pimali dapat dijadikan pedoman.

Ideologi yang mampu kita pertahankam di era tehnologi ini karena dalam kehidupan ini yang berubah adalah ilmu pengetahuan dan tehnologi tapi aturan main akan jalan terus yaitu aturan main dalam hidup.

Pimali menjadi sumber inspirasi kehidupan yang lebih baik, tuntunan hidup, aturan, rambu-rambu jalan di zaman modern yang bisa terus dipergunakan demi ketenangan, ketentaraman, kedamaian, kepercayaaan-dirian, dan lain-lain sehingga istilah life ready seperti dalam iklan berlaku dalam mempertahankan dan menyakini pimali tadi. Bagaimana? kita masih merespon larangan ini, kan?

(Nb; tulisan ini pernah diikutkan dalam lomba esai 2013. Namun, tidak masuk dalam kategori apa pun).