Bagaimana baiknya kita memandang bangsa ini? Apakah manusiawi, adil, dan bijaksana? Atau, malah provokatif, diskriminatif, dan primitif? Apa pun bisa menjadi jawaban, tergantung dari sudut mana kita memandang. Yang pasti, Indonesia seperti kita pahami adalah negara yang dibangun dengan fondasi humanisme-religius-sosial.

Tak berarti bahwa dengan pandangan demikian kita adalah penganut Karl Marx, sosialis tulen, atau pun komunis. Kita murni dan patuh pada sabda kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil dalam artian memandang siapa pun pada timbangan yang sama tanpa melihat aspek sosiokultural, apalagi agamanya.

Beradab pula dalam artian bahwa kita memperlakukan manusia dengan beradab. Tidak sama-sama disiksa. Sebab, sama-sama disiksa pada dasarnya juga dapat dipelesetkan sebagai keadilan.

Atas dasar itulah kita pernah beramai-ramai membantu para pengungsi Rohingya. Melalui bantuan itu, kita tampak sekali sebagai penyambung berkat Allah. Kita tak tahan melihat derita lantaran mereka “terusir” dari tanahnya oleh pemerintahnya sendiri. Simpati pun berlipat-lipat.

Apalagi setelah diketahui, di perjalanan, para pengungsi harus berhadapan dengan ganasnya laut dan itu hanya bermodal kapal seadanya. Tujuan mereka bahkan masih sumir, yaitu sekadar pergi dari negaranya menuju negara di mana mereka bisa diterima. Terkatung-katung bahasa gaulnya.

Pesta Kemanusiaan

Ya, kita sepaham, pada kondisi demikian, Rohingya harus ditolong dan diterima. Tak elok rasanya membiarkan orang yang minta tolong dibiarkan begitu saja. Di mana nurani kita sebagai bangsa yang ber-Tuhan? Syukurlah, kita memang bangsa yang beragama sehingga karena itu, hati kita tergerak untuk mengulurkan tangan.

Bahkan belakangan, kita tak lagi sebatas menerima, tetapi sudah pada tahap menjemput. Sungguh sebuah perilaku yang beradab karena kita berani menerima orang lain yang pada hakikatnya bukan senegara dengan kita. Inilah dan di sinilah kita dapat menerjemahkan kemanusiaan yang universal itu dengan benar.

Ya, sekali lagi, applause harus dialamatkan pada kita. Kita telah mengerjakan “pesta kemanusiaan” ini dengan baik. Bukan kali ini saja kita melakukannya. Pernah pada suatu masa, Kontingen Garuda diberangkatkan dengan misi perdamaian, sebuah misi yang beririsan dengan kemanusiaan. Dan, perbuatan itu bukanlah perbuatan yang sia-sia sebab belakangan, kita menuai apa yang telah kita tanam melalui sikap filantropi negara lain ketika negeri ini diluluhlantakkan Tsunami Aceh.

Tanpa pamrih dan seketika, neggara-negara lain sudah berdatangan. Kapal Perang Amerika langsung berlabuh. Maka, belum sampai sepuluh tahun, Aceh sudah pulih, bahkan maju pesat melebihi perkiraan. Maaf, saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus membantu agar kelak kita juga dibantu.

Sebab, kita tentu tak berharap ke depan terkena bencana lagi. Kita pasti sepaham bahwa apa yang kita kerjakan merupakan manifestasi dari kemanusiaan dan tujuan bangsa. Artinya, apa yang kita lakukan adalah tulus demi kemanusiaan itu sendiri.

Lagipula, saya yakin, kita sepemahaman bahwa yang membuat bangsa ini besar sama sekali bukan ekonomi, apalagi militer. Bangsa yang besar itu adalah mereka yang bisa mengelola isu kemanusiaan dengan baik. Jadi, kebesaran sebuah bangsa bukan dari seberapa mampu menaklukkan, melainkan seberapa mau membantu.

Dalam hal Rohingya, Indonesia telah melakukannya pada posisi masih banyak bangsa lain acuh tak acuh. Karena itu, kita patut dibubuhi predikat bangsa yang besar. Selamat untuk kita, Indonesia.

Sayangnya, sikap kita terhadap kemanusiaan itu tak konsisten, apalagi kongruen. Di saat kita menerima beribu-ribu pengungsi Rohingya, kita malah mengabaikan beribu-ribu anak bangsa yang telah lama tersandera di negeri ini. Banyak pengungsi anak bangsa yang justru luput, bahkan sengaja diluputkan dari perhatian.

Baik itu pengungsi karena bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Pengungsi Sinabung, misalnya, baru-baru ini. Mereka hampir kehilangan masa depan lantaran kehilangan tanah, sawah, tempat tinggal, tetapi kita malah tak peduli. Kita malah sibuk mengurusi tetangga.

Bukan hanya itu, yang tak dapat diterima akal adalah ketika banyak anak bangsa diusir dari tanah leluhurnya hanya karena mereka beda agama, atau bahkan beda mazhab dengan kita. Persis seperti yang dialami oleh Rohingya. Mereka itu, sekadar menyebut contoh, kaum Ahmadi yang kini menjadi orang buangan, Syiah asal Sampang yang harus “ditobatkan”. Warga minoritas di daerah lainnya juga sampai hari ini, seperti GKI Yasmin, harus melewati tembok besi hanya untuk membuat rumah ibadah.

Akan tetapi, betapapun jemaat GKI Yasmin berkoar-koar di Istana, mereka tetap didiamkan. Yang sempat lebih memilukan adala ketika terjadi pembakaran gereja di Singkil, Aceh. Ini memilukan karena pada saat yang sama warga Rohinya dipeluk oleh warga dan pemerintah Aceh, tetapi warga Kristen di Aceh Singkil sendiri malah harus diusir dan diungsikan. Mereka dikeluarkan dari tanah leluhurnya.

Salah Sasaran

Pertanyaannya, mengapa sikap kita kepada pengungsi ini berbeda? Apa motifnya? Apakah karena pengungsi dari negeri lain—dalam kamus penulis saya sebut saja pengungsi impor—lebih mahal ketimbang pengungsi asal Indonesia? Saya sebenarnya tak mau menyanyakan ini, tetapi baiklah itu ditanyakan: apakah karena Rohingya Muslim dan kita juga rata-rata Muslim? Pertanyaan ini ada benarnya, tetapi ada juga celahnya. Kalau ditarik dari garis Muslim, bukankah Ahmadi dan Syiah juga Muslim?

Saya hanya menduga—mudah-mudahan ini salah—bahwa dasar kita pernah membantu Rohingya tidak semata karena kemanusiaan, tetapi karena ada hal-hal lain, semisal seagama. Dugaan saya ini bukan tanpa dasar sebab menurut Eliot Smith, seorang psikolog sosial dari Indiana, menyatakan bahwa streotipe berpotensi melahirkan diskriminasi.

Menurut dia, aspek primordial sempit ini bisa menggiring seseorang untuk berprasangka yang lalu membenci. Karena sudah membenci, alih-alih ditolong, yang dibenci itu secara perlahan malah dilumat dan dikeluarkan.

Sekali lagi, andai itu benar, di sinilah kita sudah salah sasaran. Semakin salah sasaran lagi karena atas dasar kebencian, kita malah lebih memerhatikan orang lain yang sama sekali tak senegara dengan kita. Tak ada diskriminasi yang lebih keji selain diskriminasi yang sampai lebih memerhatikan orang seberang daripada orang dalam.

Saya tak mau mengatakan, ayo, jangan tolong Rohingya. Justru sebaliknya, ayo tolong mereka. Hanya perlu digaungkan agar setidaknya perlakuan kita juga sama dengan pengungsi di negeri ini.

Tak terbayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang saban hari sudah “terusir” dari tanahnya tak kunjung diperhatikan, tetapi ketika baru saja pengungsi-impor datang, kita malah menolongnya, bahkan menjemputnya. Pada taraf yang lebih luas, kita bahkan bersuara lantang di PBB dan ASEAN. Pernahkah kita menyuarakan hal yang sama pada kasus pengungsi yang ada di negeri ini?

Kalau tidak, apa yang salah dengan negeri ini. Yang lebih dalam untuk dipertanyakan: bagaimana kita menerjemahkan kemanusiaan dan bagaimana kemanusiaan Indonesia itu sesungguhnya? Sekali lagi, mengutip kalimat pada paragraf pembuka di atas: terserah Anda dan itu tergantung dari mana kita memandang.

Bagaimana baiknya kita memandang bangsa ini? Apakah manusiawi, adil, dan bijaksana? Atau, malah provokatif, diskriminatif, dan primitif? Apa pun bisa menjadi jawaban, tergantung dari sudut mana kita memandang. Yang pasti, Indonesia seperti kita pahami adalah negara yang dibangun dengan fondasi humanisme-religius-sosial.

Tak berarti bahwa dengan pandangan demikian kita adalah penganut Karl Marx, sosialis tulen, atau pun komunis. Kita murni dan patuh pada sabda kemanusiaan yang adil dan beradab. Adil dalam artian memandang siapa pun pada timbangan yang sama tanpa melihat aspek sosiokultural, apalagi agamanya. Beradab pula dalam artian bahwa kita memperlakukan manusia dengan beradab. Tidak sama-sama disiksa. Sebab, sama-sama disiksa pada dasarnya juga dapat dipelesetkan sebagai keadilan.

Atas dasar itulah kita pernah beramai-ramai membantu para pengungsi Rohingya. Melalui bantuan itu, kita tampak sekali sebagai penyambung berkat Allah. Kita tak tahan melihat derita lantaran mereka “terusir” dari tanahnya oleh pemerintahnya sendiri. Simpati pun berlipat-lipat.

Apalagi setelah diketahui, di perjalanan, para pengungsi harus berhadapan dengan ganasnya laut dan itu hanya bermodal kapal seadanya. Tujuan mereka bahkan masih sumir, yaitu sekadar pergi dari negaranya menuju negara di mana mereka bisa diterima. Terkatung-katung bahasa gaulnya.

Pesta Kemanusiaan

Ya, kita sepaham, pada kondisi demikian, Rohingya harus ditolong dan diterima. Tak elok rasanya membiarkan orang yang minta tolong dibiarkan begitu saja. Di mana nurani kita sebagai bangsa yang ber-Tuhan? Syukurlah, kita memang bangsa yang beragama sehingga karena itu, hati kita tergerak untuk mengulurkan tangan.

Bahkan belakangan, kita tak lagi sebatas menerima, tetapi sudah pada tahap menjemput. Sungguh sebuah perilaku yang beradab karena kita berani menerima orang lain yang pada hakikatnya bukan senegara dengan kita. Inilah dan di sinilah kita dapat menerjemahkan kemanusiaan yang universal itu dengan benar.

Ya, sekali lagi, applause harus dialamatkan pada kita. Kita telah mengerjakan “pesta kemanusiaan” ini dengan baik. Bukan kali ini saja kita melakukannya. Pernah pada suatu masa, Kontingen Garuda diberangkatkan dengan misi perdamaian, sebuah misi yang beririsan dengan kemanusiaan.

Dan, perbuatan itu bukanlah perbuatan yang sia-sia sebab belakangan, kita menuai apa yang telah kita tanam melalui sikap filantropi negara lain ketika negeri ini diluluhlantakkan Tsunami Aceh.

Tanpa pamrih dan seketika, neggara-negara lain sudah berdatangan. Kapal Perang Amerika langsung berlabuh. Maka, belum sampai sepuluh tahun, Aceh sudah pulih, bahkan maju pesat melebihi perkiraan. Maaf, saya tidak sedang mengatakan bahwa kita harus membantu agar kelak kita juga dibantu.

Sebab, kita tentu tak berharap ke depan terkena bencana lagi. Kita pasti sepaham bahwa apa yang kita kerjakan merupakan manifestasi dari kemanusiaan dan tujuan bangsa. Artinya, apa yang kita lakukan adalah tulus demi kemanusiaan itu sendiri.

Lagipula, saya yakin, kita sepemahaman bahwa yang membuat bangsa ini besar sama sekali bukan ekonomi, apalagi militer. Bangsa yang besar itu adalah mereka yang bisa mengelola isu kemanusiaan dengan baik. Jadi, kebesaran sebuah bangsa bukan dari seberapa mampu menaklukkan, melainkan seberapa mau membantu.

Dalam hal Rohingya, Indonesia telah melakukannya pada posisi masih banyak bangsa lain acuh tak acuh. Karena itu, kita patut dibubuhi predikat bangsa yang besar. Selamat untuk kita, Indonesia.

Sayangnya, sikap kita terhadap kemanusiaan itu tak konsisten, apalagi kongruen. Di saat kita menerima beribu-ribu pengungsi Rohingya, kita malah mengabaikan beribu-ribu anak bangsa yang telah lama tersandera di negeri ini. Banyak pengungsi anak bangsa yang justru luput, bahkan sengaja diluputkan dari perhatian.

Baik itu pengungsi karena bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Pengungsi Sinabung, misalnya, baru-baru ini. Mereka hampir kehilangan masa depan lantaran kehilangan tanah, sawah, tempat tinggal, tetapi kita malah tak peduli. Kita malah sibuk mengurusi tetangga.

Bukan hanya itu, yang tak dapat diterima akal adalah ketika banyak anak bangsa diusir dari tanah leluhurnya hanya karena mereka beda agama, atau bahkan beda mazhab dengan kita. Persis seperti yang dialami oleh Rohingya. Mereka itu, sekadar menyebut contoh, kaum Ahmadi yang kini menjadi orang buangan, Syiah asal Sampang yang harus “ditobatkan”. Warga minoritas di daerah lainnya juga sampai hari ini, seperti GKI Yasmin, harus melewati tembok besi hanya untuk membuat rumah ibadah.

Akan tetapi, betapapun jemaat GKI Yasmin berkoar-koar di Istana, mereka tetap didiamkan. Yang sempat lebih memilukan adala ketika terjadi pembakaran gereja di Singkil, Aceh. Ini memilukan karena pada saat yang sama warga Rohinya dipeluk oleh warga dan pemerintah Aceh, tetapi warga Kristen di Aceh Singkil sendiri malah harus diusir dan diungsikan. Mereka dikeluarkan dari tanah leluhurnya.

Salah Sasaran

Pertanyaannya, mengapa sikap kita kepada pengungsi ini berbeda? Apa motifnya? Apakah karena pengungsi dari negeri lain—dalam kamus penulis saya sebut saja pengungsi impor—lebih mahal ketimbang pengungsi asal Indonesia? Saya sebenarnya tak mau menyanyakan ini, tetapi baiklah itu ditanyakan: apakah karena Rohingya Muslim dan kita juga rata-rata Muslim? Pertanyaan ini ada benarnya, tetapi ada juga celahnya. Kalau ditarik dari garis Muslim, bukankah Ahmadi dan Syiah juga Muslim?

Saya hanya menduga—mudah-mudahan ini salah—bahwa dasar kita pernah membantu Rohingya tidak semata karena kemanusiaan, tetapi karena ada hal-hal lain, semisal seagama. Dugaan saya ini bukan tanpa dasar sebab menurut Eliot Smith, seorang psikolog sosial dari Indiana, menyatakan bahwa streotipe berpotensi melahirkan diskriminasi.

Menurut dia, aspek primordial sempit ini bisa menggiring seseorang untuk berprasangka yang lalu membenci. Karena sudah membenci, alih-alih ditolong, yang dibenci itu secara perlahan malah dilumat dan dikeluarkan.

Sekali lagi, andai itu benar, di sinilah kita sudah salah sasaran. Semakin salah sasaran lagi karena atas dasar kebencian, kita malah lebih memerhatikan orang lain yang sama sekali tak senegara dengan kita. Tak ada diskriminasi yang lebih keji selain diskriminasi yang sampai lebih memerhatikan orang seberang daripada orang dalam.

Saya tak mau mengatakan, ayo, jangan tolong Rohingya. Justru sebaliknya, ayo tolong mereka. Hanya perlu digaungkan agar setidaknya perlakuan kita juga sama dengan pengungsi di negeri ini.

Tak terbayangkan bagaimana perasaan saudara-saudara kita yang saban hari sudah “terusir” dari tanahnya tak kunjung diperhatikan, tetapi ketika baru saja pengungsi-impor datang, kita malah menolongnya, bahkan menjemputnya. Pada taraf yang lebih luas, kita bahkan bersuara lantang di PBB dan ASEAN. Pernahkah kita menyuarakan hal yang sama pada kasus pengungsi yang ada di negeri ini?

Kalau tidak, apa yang salah dengan negeri ini. Yang lebih dalam untuk dipertanyakan: bagaimana kita menerjemahkan kemanusiaan dan bagaimana kemanusiaan Indonesia itu sesungguhnya? Sekali lagi, mengutip kalimat pada paragraf pembuka di atas: terserah Anda dan itu tergantung dari mana kita memandang.

#LombaEsaiKemanusiaan