Lebih dari dua minggu saya baru ingat seorang teman dari kota seberang mengirimkan tulisan.  Katanya, "Hasil imajinasi sore, Dien. Biar tak lupa, segera ku kirim padamu. Bacalah jika kau ada waktu."  Baru saja saya baca lagi, dirimu-kopi-dan sebuah senja....  Entah mengapa setelah membaca saya terdiam, semacam dejavu, entah bagaimana... 

Ruang dan waktu adalah sekat. Sedang ingatan menjadi bonus, mau disimpan atau dibuang, terserah. 

Pertemuan demi pertemuan silih berganti, dengan orang yang sama atau berbeda. Di antara ramai dan sepi, di antara perasaan nyaman dan tidak nyaman, di antara lelah dan payah atas hidup yang kadang membosankan tapi kadang begitu menyenangkan. 

Tetapi sesungguhnya hati punya cara sendiri untuk menyesuaikan rasa. Senja yang biasa misalnya, akan menjadi tak biasa sebab dipenuhi debar saat bertemu dengan seseorang yang sanggup menghadirkan perasaan-perasaan yang berbeda. Terkadang mata lebih banyak berbicara daripada bibir. Semacam membunuh waktu dengan pesona yang entah dari mana hadirnya. 

Saya seorang yang percaya senja dan kopi adalah sepasang sunyi yang menjelma puisi atau dongeng lengkap dengan kidungnya. Saya juga percaya setelah senja pergi atau kopi tandas, hidup tak sepenuhnya kosong. Ia menyimpan banyak rahasia. 

Dan pada akhirnya saya harus berkompromi dengan waktu. Berdamai dengan masa lalu. Sebab membuang kenangan tak semudah mematikan puntung rokok, melemparkannya ke tanah, lalu menggilasnya dengan ujung sepatu. 

Sebab cinta tak seharusnya menyakiti. Rindu biarlah berputar dalam lingkarannya sendiri.


Gelap, Gaduh, Gerimis

Dengan status (lumayan) dekat tanpa sering ketemu, satu-satunya komunikasi hanya lewat WhatsApp. Maka tak ada yang mengalahkan sensasi gaduhnya hati ketika bertemu langsung dengannya. Ngobrolin apa saja? Random. Coba simak, ini setelah lama puasa WhatsApp saking dianya repot. Sayanya sibuk, sibuk mikir gimana caranya nggak mikirin dia melulu.

“Sudah bahagia sepertinya..”

“Hay.. iya, banget! Chat sama kamu! Haha.."

"Sorry lagi ribet, banyak ini itu. Seperti yang sudah-sudah. Entahlah. Butuh upgrade." 

“Enjoy the moment, dear. Hidup emang suka diselipi yang riweh-riweh. Jangan terlalu kenceng kalo nggak mau sakit kepalamu kumat lagi. Ngaca gih, keliatan tuaan sepuluh tahun "

“Hahaha..." 

“Sorry, but how do you feel?”

“Emm.. nggak baik-baik amat sih. Ah sudahlah. Tapi bener ada yang bilang, kalau udah nggak bisa connect mau gimana juga yang ada hambar doang." 

"Iya. Tapi apapun jangan lupa bahagia.

“Sedang mencari.”

“Asyikin ajalah, banyak hal sederhana yang bisa bikin bahagia. Seperti chat begini hehe..."

“Hahaha.. kamu jadi kayak mbak itu dong." 

“Yee beda kali. Dia absurd kebanyakan halu." 

“Tapi kamu hebat, being single dan terlihat happy terus.”

“Gini, It’s my choice. Tapi ya namanya masih manusia, most days I’m fine, but in some days, i’m not fine. Nah ini berat. Masih kudu belajar menghadapi gelap dan terang dunia”

“Ya i know...”

"Eh lagi dimana?" 

"Di rumahlah, mau dimna lagi. Lagian gerimis, mana anginnya kenceng bener, mana lapar lagi duh..." 

"Gofood dong, jangan kayak orang susah deh. 

“Nggaklah. Makannya cuma berapa ongkirnya berapa. Kecuali bener-bener kepepet, bolehlah." 

"Itu ngirit apa pelit?"

"Dua-duanya hahaha..." 

“Eh ketawa dia. Baguslah. Hari gini makin susah ketawa lepas. Kebanyakan apalah-apalah.”

“Iya makanya the best laugh itu pas kita bisa ngetawain diri sendiri yes? 

“Yes!”

“Jadi mari tertawa, nangisnya udah kan? Atau butuh senderan? Gih lari ke hutan, mumpung pohon-pohon belum ditebang. Eh hatimu jangan ikut ditebang, cukup pohon saja, periiiih."

“Hahaha”

“Sini, sini peluk dulu..."


Padamu Yang Cahaya

Padamu yang cahaya aku percaya bahwa hidup tak perlu kucemaskan lagi. 
Mungkin tak pernah ada kita, hanya kau dan aku dan percakapan-percakapan pengisi sepi. 
Musim-musim yang bertukar peran menyisakan sedikit ruang untuk kita tuliskan. Entah sebagai puisi entah sekedar basa basi. 
Jika kelak kau lupa tak mengapa, aku saja yang mengingatnya. Merawat apa-apa yang sengaja ditingalkan waktu dan ditanggalkan rindu. 
Padamu yang cahaya aku percaya bahwa bertemu denganmu adalah salah satu cara Tuhan mencintaiku.


Kita

Kita mungkin hanya kebetulan-kebetulan yang disiapkan semesta. Aku tak kuasa. Sungguh tak kuasa. 
Bahkan bercangkir-cangkir kopi dalam perjamuan malam menuju larut dan tebal dinding yang dibangun waktu tak sanggup menyembunyikan rindu. Pun puisi-puisi tak menjamin akan membuat rindu jatuh direngkuhmu, mungkin hanya akan layu, mengering lalu mati di jalan aspal depan rumahmu