Twitter tidak lagi sekedar platform sosial media untuk menyampaikan berita di antara individu di dalam masyarakat tanpa batas nasional. Twitter telah berkembang pesat dan berperan penting dalam dunia diplomasi pula. Para pemimpin dunia, termasuk Presiden Joko Widodo, menggunakan twitter untuk menyapa dunia. Situs web seperti twiplomacy.com bahkan telah mencatat ada lebih 700 akun Twitter resmi milik pemerintah dan kepala negara angota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dengan jumlah total follower lebih dari 325 juta.

Sebagai bagian dari strategi diplomasi digital, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) juga memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (TIK) dalam pelaksanaan Bali Democracy Forum (BDF) 2019 melalui tagar/hashtag “#BDF2019”. Tujuan utamanya adalah untuk melakukan diseminasi informasi mengenai BDF2019 melalui berbagai platform media sosial, termasuk Twitter, kepada masyarakat luas. 

Kemlu RI telah menjalankan diplomasi twitter ini sebenarnya sejak 2010 ketika akun resmi ini didaftarkan dan hingga kini memiliki 164 ribu lebih follower.

 

Bali Democracy Forum 2019 merupakan forum diplomasi multilateral tahunan Indonesia. Melalui Kementerian Luar Negeri, pemerintah Indonesia telah menyelenggarakan BDF sejak 2008. Tema BDF 2019  "Democracy and Inclucivity" sangat menarik. BDF ini lebih merupakan forum antar-warganegara dari komponen perempuan, media, civil society, dan kelompok milenials melalui Bali Democracy Student Conference (BDSC).

Selain itu, Kemlu RI juga mengundang 140 negara dan organisasi internasional telah diundang ke BDF 2019. Sebanyak 81 negara dan organisasi sudah menyatakan hadir, termasuk enam menlu (Palestina, Kenya, Kepulauan Solomon, Selandia Baru, Fiji, dan Australia) dan 6 wakil menteri (Venezuela, Malaysia, Timor Leste, Singapura, Qatar, dan Maladewa). Kehadiran berbagai unsur masyarakat ini  mencerminkan arti penting dan daya tarik BDF yang masih tinggi hingga kini.

Pantauan percakapan Twitter ini diambil dari Drone Emprit Academic (https://dea.uii.ac.id/) sejak 3 hingga 7 Desember 2019. Pantauan ini secara khusus melihat interaksi percakapan (cuitan) Twitter di akun resmi @Kemlu_RI. Peningkatan perhatian pengguna Twitter terhadap pelaksanaan BDF tampak pada 3, 4, dan 5 Desember 2019 yang terdiri dari aktifitas mention, reply, dan retweet

Selain #BDF2019, akun @Kemlu_RI selama 5 hari itu sebenarnya juga membicarakan isu-isu strategis lain dalam politik luar negeri Indonesia (lihat top hashtag). Dari 1.000 lebih mention itu, #BDF2019 memiliki 461 tweet terbanyak, diikuti #IndonesianWay (237 tweet), #IniDiplomasi (44 tweet), #Indonesia (23 tweet), #BDSC2019 (13 tweet), dan seterusnya. #BDSC2019 yang termasuk salah satu kegiatan dalam BDF 2019 ternyata hanya memperoleh popularitas 13 retweet.  

Yang menarik dari top hashtags di atas adalah tagar #IniDiplomasi hanya memiliki 44 tweet selama penyelenggaraan BDF 2019 ini. Sedangkan tagar #SahabatKemlu justru tidak muncul. Padahal kedua tagar ini tampaknya merupakan tagar resmi akun twitter Kemlu. Jika diperhatikan pada cuitan akun tersebut, kedua tagar itu seringkali muncul dan bahkan di-mention oleh akun-akun perwakilan RI di luar negeri, baik kedutaan besar, konsulat jendral, dan perwakilan tetap.

Data top influencer ini menunjukkan aktifitas akun @Kemlu_RI dalam mendorong tagar #BDF2019 selama forum itu berlangsung. Dengan 164 ribu follower, akun ini melakukan 470 engagement (dalam hal aktifitas reply dan retweet) mengenai topik #BDF2019. Sedangkan akun-akun lain, baik akun personal maupun lembaga, melakukan engagement kurang dari 100.

Kondisi ini secara sederhana memperlihatkan kurangnya aktifitas kerjasama tweet dan retweet di antara akun Kemlu_RI dengan akun-akun di lingkungan Kemlu sendiri, baik di Jakarta maupun perwakilan RI di luar negeri. Sementara itu, jangkauan akun Kemlu RI ke masyarakat tampak terbatas. Hanya 3 akun pribadi yang memiliki tingkat engagement lebih dari 30, yaitu @antilalat, @kangdede78, dan @Liwangjemmy. 

Padahal Kemlu sudah mencanangkan diplomasi digital ini secara resmi sejak awal 2017. Sejak itu, Kemlu cukup aktif menggunakan berbagai platform media sosial sebagai bagian strategi diplomasi publik di era digital. Kemlu RI juga menginisiasi beberapa forum nasional dan internasional mengenai diplomasi digital yang melibatkan masyarakat umum, kelompok muda milenial, influencers, kelompok bisnis digital, dan diplomat.  Secara lebih rinci, daftar top influencer ini juga memperlihatkan akun-akun twitter lain yang aktif dalam percakapan #BDF2019.

 

Data twitter di akun @Kemlu_RI mengenai #BDF2019 ini pada dasarnya sejauh mana diplomasi twitter dalam kegiatan tahunan BDF 2019. Di satu sisi, data itu memperlihatkan intensitas interaksi percakapan #BDF2019 ini telah berhasil menjadi top hashtag selama penyelenggaraan BDF 2019. Bahkan tagar tersebut mampu ‘mengalahkan’ tagar resmi Kemlu, yaitu #IniDiplomasi dan #SahabatKemlu. Kedua tagar ini biasanya selalu ditulis dalam berita-berita twitter Kemlu. Untuk memperluas jangkauan berita dan percakapan Twitter, tagar juga perlu dibuat dalam Bahasa Inggris, termasuk bahasa nasional di negara tempat perwakilan berada. 

Di sisi lain, diplomasi twitter perlu mempertimbangkan pola-pola mention (tweet dan retweet) di antara top influencer. Walaupun top influencer masih termasuk di dalam internal Kemlu, namun aktifitas Twitter perwakilan RI di luar negeri perlu lebih merata. Hal ini khususnya di negara-negara yang mengirimkan delegasi resmi maupun peserta ---baik mahasiswa, media, atau masyarakat sipil--- ke perhelatan BDF 2019. Top influencer perlu diperluas di antara warga Indonesia yang menjadi diaspora dan warga asing yang menjadi sahabat Indonesia (friends of Indonesia) di berbagai negara. 

Pada akhirnya, diplomasi Twitter lewat akun @Kemlu_RI perlu disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah dalam diplomasi mengenai isu-isu khusus pada suatu periode waktu tertentu. Prioritas perhatian diplomasi dalam bentuk tagar atau hashtag khusus ---seperti #BDF2019--- perlu dikembangkan sesuai kebutuhan diplomasi Indonesia di negara-negara tertentu. Melalui Twitter, Kemlu RI telah menunjukkan simbolisasi ‘negara hadir’ dan telah berperan penting dalam menyebarluaskan informasi diplomasi RI ke masyarakat luas, baik nasional maupun internasional.