Dimas Kanjeng (DK), nama ini beberapa hari belakangan santer terdengar di tengah bisingnya pemberitaan tentang pilkada DKI jakarta yang telah memasuki babak baru. Seakan menambah ramainya sensasi negeri ini, DK membawa kontroversinya sendiri.

Pemberitaan tentang dirinya telah menarik dan memantik banyak hal, mulai dari kasus pembunuhan, agama, hingga ilmu yang Ia miliki yang kono dapat mendatangkan uang dalam sekejab. Sensasi DK tak berhenti sampai disitu, sampai saat ini pengikutnya yang berasal dari beragam latar belakang masih terus mengkultuskan namanya.

Dari sekian banyak kasus yang menimpa ketua padepokan DK tersebut, ada satu hal yang mungkin menjadi akar dari semua permasalahan yang menimpa. Masalah tersebut adalah ilmu untuk mendatangkan uang yang banyak dibicarakan dan dipercaya oleh pengikutnya.

Demikian juga orang – orang yang bukan pengikutnya pun banyak yang mempercayai bahkan “menginvestasikan” uang yang dimiliki dengan harapan agar uang tersebut dapat kembali berlipat – lipat. Keinginan yang mungkin ada dalam benak kebanyakan orang tersebut buktinya berhasil membuat banyak orang tertarik dan berbondong – bondong datang kepada DK. Bahkan bukan hanya dari orang menengah kebawah saja, orang – orang terpelajar serta memiliki jabatan tak luput untuk mendatanginya dan akhirnya menjadi pengikut setianya.

Iming – iming uang berlimpah menjadi magnet yang sulit untuk dilewatkan bagi kebanyakan orang – orang di negeri ini. Menghasilkan uang dengan cara yang singkat, mudah, cepat memang selalu didamba. Tak ubahnya semut yang akan selalu bergerumul jika terdapat gula berserakan, manusia kini juga akan dengan mudah diiming – imingi limpahan uang.

Tak sedikit orang yang akhir – akhir ini telah “sadar” dirinya tertipu dengan nilai yang tidak sedikit, mulai dari jutaan rupiah hingga ratusan miliar. Masalah penipuan dan pengandaan uang ini juga yang akhirnya menjadi motif yang dituduhkan kepada DK saat polisi menetapkannya sebagai tersangka pembunuhan dua orang pengikutnya.

Apabila dirunut lebih jauh, permasalahan DK tak lebih dari betapa Ia sangat pandai melambungkan harapan banyak orang untuk dapat memiliki banyak uang dalam waktu yang singkat. Namun bukan berarti kesalahan hanya berasal dari DK seorang, perubahan budaya masyarakat yang semakin modern dan semakin mengedepankan pragmatisme juga memegang andil.

Kebutuhan masyarakat untuk mengumpulkan uang dengan segala cara hingga mengaburkan antara realita dan harapan yang semu. Pragmatisme telah membawa orang – orang memandang dunia hanya dengan satu kaca mata yakni uang. Masyarakat telah menjelmakan dirinya sebagai abdi dari uang, semua sendi – sendi kehidupan dapat terbeli dengan uang.

Bahkan kehormatan dan harga diri dapat koyak begitu saja dengan segepok uang yang dihidangkan. Maka tak heran jika banyak orang yang berlomba – lomba mengumpulkan benda yang diciptakannya sendiri itu dengan segenap usaha baik yang rasional maupun yang jauh meningalkan nalar.

Adam Smith seorang ekonom terkemuka pernah mengatakan bahwa Uang tak ubahnya siulan Iblis. Uang hanya akan membawa orang pada neraka yang tiada ujungnya. Begitu membutakan seseorang dari jalan – jalan kebajikan menuju jurang semu tanpa ujung yang hanya akan menghantarkan mereka pada penyesalan.

Dimas Kanjeng dan para pengikutnya merupakan satu fenomena gunung es, entah berapa banyak lagi kejadian serupa yang sampai saat ini belum kita ketahui. Kejadian ini harusnya menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk selalu membawa nilai – nilai perjuangan dalam setiap lini kehidupan dan mulai meningalkan cara instant untuk mendapatkan sesuatu. Pandangan instant untuk mendapatkan sesuatu hanya akan membuahkan kekecewaan harus segera ditingalkan, agar generasi penerus menjadi generasi yang optimis dan jauh dari romantisme harapan penganda uang.