Antusias sekali orang Indonesia jika ditanyai “apakah obyek wisata terkenal di Indonesia?” Jawaban dari masyarakat pada umumnya akan mempromosikan Bali, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan berbagai budaya peninggalan Hindu-Budha. Mengapa muncul perasaan bangga ini? Karena inilah Indonesia, dimana candi tersebut dengan tenang dikelilingi suara azan setiap hari. Disambut dengan doa agar tetap dirahmati oleh tuhan dari setiap pemeluk agama.

Raja Salman saja datang ke Indonesia untuk melihat keberagaman yang ada. Kenapa beliau tidak datang ke pesantren saja jika dia membawa nama agama saat kunjungan yang dilakukan beberapa tahun silam? Pemimpin Negeri Saudi Arabia itu malah penasaran dengan Bali yang notabene merupakan provinsi yang sangat toleran dan menunjukkan damainya negeri kita. Memang dulu pernah terjadi pengeboman beberapa kali di Bali, sebenarnya semua hal itu bisa kita perbaiki agar dunia melihat betapa tolerannya Indonesia yang sempat digaduhkan oleh pihak yang kurang bertanggung jawab.

Agama dan keberagaman Kepercayaan.

Kasus intoleransi atas kebebasan beragama dan berkeyakinan mengalami kenaikan , data dari Komnas HAM sepanjang 2016, berdasarkan pengaduan masyarakat, tercatat ada 97 kasus. Data ini mengalami peningkatan, karena pada 2014 tercatat ada 76 kasus dan 87 kasus di tahun 2015. Secara Konstitusional Indonesia menjamin para penganut agama dan kepercayaan di berbagai daerah yang termasuk kawasan NKRI. Tapi, akhir-akhir ini seringkali muncul isu politik yang menyerang keberagaman Suku, Agama, Ras dan Kebudayaan.

Apabila seluruh masyarakat memahami sebab adanya hal yang berbau pemecahbelah bangsa, berarti pihak ataupun oknum tersebut tidak senang melihat keberagaman kita. Ada sekelompok orang yang menganggap suku-nya adalah yang paling hebat, daerah-nya paling subur, dan lebih celaka jika membawa keterangan bahwa Agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Padahal agama adalah doktrin pembenaran agama itu sendiri. Jika melihat keberagaman agama di dunia, ada 2400 Agama, 4200 dalam hal pengakuan eksistensi kepada tuhan.

Berdebat tentang agama yang paling benar tidak menyelesaikan suatu hal, bahkan hanya menghabiskan energi. Kehidupan dunia akan maju jika penggunaan akal dan perasaan dalam bernegara digunakan. Si A yang beragama x diperintahkan oleh tuhannya untuk berlaku baik dan menjunjung tinggi kedamaian, si B juga memiliki perintah yang sama dari agamanya. Lalu apa yang menjadi pembeda dan penyebab perpecahan? Karena A dan B lupa bahwa mereka adalah rakyat Indonesia dan semua hal dilakukan untuk tanah air tercinta. Agama pasti memberikan pahala jika kita berbuat yang baik dan bagus untuk negeri. Maka tindakan kita harus memberikan kebaikan dan dampak positif bagi lingkungan, pasti tuhan masing-masing agama akan mencatatnya sebagai ibadah.

Mengunjungi berbagai daerah terpencil

Luasnya negeri yang beragam budaya suku bangsa ini akan terasa bila sudah mendatangi berbagai daerah lain dari lokasi tempat tinggal kita. Betapa tenangnya kehidupan di desa nan asri dan belum dihebohkan dengan isu politik ataupun ekonomi yang identik dengan perkotaan. Hal demikian seringkali didapatkan dari kunjungan ke desa. Sudah saatnya mahasiswa dan kaum muda tidak terlalu sibuk dengan kehidupan materialistik.

Seringkali rasa kemanusiaan tidak muncul dan tak dibincangkan lagi di berbagai waktu dan kesempatan luang kaum intelektual. Fokus dalam kuliah membuat anak muda lupa bahwa ilmu mereka yang bersfat teori tidak akan berjalan sesuai harapan jika tidak turun langsung kemudian memahami permasalahan di masyarakat. Bila ingin tahu Indonesia yang masih nature, pure dan orisinil, datangilah kampung-kampung diberbagai daerah Indonesia. Hiduplah dengan kebudayaan yang merupakan bagian dari negara kita sendiri. 

Hilangkan sikap dan kebiasaan stereotipe yang membuat diri tertutp dengan kebudayaan lain. Meskipun tidak paham dengan bahasa masyarakat di daerah yang didatangi, pasti ada pemahaman dengan kebaikan dan nilai luhur yang dijunjung tinggi di kebudayaan masyarakat. Bila berbeda dengan budaya di daerah kita, jangan diejek dan direndahkan kebiasaan adat istiadat dan budaya orang lain. Karena mencela budaya orang lain bisa menjadi awal perpecahan.

Memunculkan Rasa kebangsaan dan Bangga Akan Keberagaman.

Merasakan bagian dari Indonesia adalah salah satu sikap yang menunjukkan tingginya rasa kebangsaan seseorang. Sampai saat ini masih saja ada yang ingin menggantikan ideologi bangsa, berarti keinginan itu didasari kurangnya rasa cinta terhadap bangsa. Bayangkan keindahan alam dan anugerah dari tuhan seringkali dirasakan masih kurang oleh berbagai pihak. Bukan negara yang salah, tetapi oranag itu yang kurang memahami tentang bangsanya. Ibaratkan Katak dalam tempurung, dia tidak tahu negeri timur tengah tidak seidaman yang dibayangkan, pun negara eropa tidak sebebas yang pernah terlintas di opini umum. Negara-negara lain saja bisa dikatakan kagum dengan Indonesia yang memiliki keberagaman dan tidak mudah dipecah belah.

Berkaca pada sejarah, paham komunis yang ingin menggantikan ideologi bangsa sudah jelas gagal dan berujung di tragedi 65. Sekarang muncul segelintir orang yang merasa tidak puas dan ingin menggantikan ideologi islam dan ingin mendirikan negara yang dipimpin satu agama. Ada apa dengan bangsa ini? Tidakkah puas dengan keadaan merdeka saat ini? Perlu ditanyakan kepada para penerus bangsa agar tidak terdoktrin dengan negara yang ingin menggantikan ideologi pancasila. Munculkan argumen yang mendorong rasa kemanusiaan dan toleransi sehingga keberagaman akan dirasakan manfaatnya.

Kebhinekaan Merupakan Nilai yang Sangat Tinggi

Perbedaan jangan dijadikan sebagai hal yang sakral. Berbeda seharusnya menjadi suatu pembangkit untuk meningkatkan rasa persatuan. Dengan adanya perbedaan itulah membuat kita saling mengisi. Negara yang berlandaskan asas kekeluargaan tidak akan memandang suku, agama, ras maupun budaya dari keluarganya sendiri. Aktifitas yang bisa dilakukan sebagai wujud nyata dari sikap menjunjung tinggi perbedaan adalah membantu semua orang tanpa melihat bagian luar/ fisik. Belajarlah membantu orag lain seperti sikap orang buta. Dia membantu, hidup berdampingan dengan masyarakat tanpa melihat warna kulit/ras orang di sekitarnya. Sisi lain dari orang buta, dia senantiasa percaya bahwa orang yang membantunya menyeberang adalah orang baik, tidak perlu menanyakan agama si penolong karena ia yakin bahwa apapun agama orang yang menolongnya, pasti semua agama mengajarkan kebaikan dan kedamaian.

Bersikaplah seperti orang bisu disaat kehebohan datang. Jangan menambah keruh suasana, jadilah pendengar yang baik karena tuhan memberi dua telinga dan satu mulut yang berguna untuk lebih banyak mendengar bukan menyebarkan kebencian yang berasal dari rasa kurang puas. Saat ada paham yang ingin memecahbelah bangsa bertindaklah bagai orang tuli. Emosi yang mudah tersulut dengan hal-hal berbau pelecehan SARA bisa diredam apabila kita tidak terpancing dengan tindakan yang sia-sia itu. Bersikap tenang membuat diri menjadi lebih dewasa. Sayang sekali bila masyarakat yang hidup dengan kebhinekaan malah diadu domba dengan keberagaman. Bertentangan sekali dengan hakikat dari keberagaman, bahwa beragam itu menunjukkan keserasian, keselarasan dan keharmonisan.

Keberagaman dan perbedaan adalah hal yang wajar, identitas suku, ras, dan agama yang disikapi dengan bijak dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain. Keberagaman justru merupakan kekayaan negara Indonesia. Dari hal yang simple itulah negara kita kaya dan dijunjung tinggi dengan rasa persaudaraan dan toleransi yang tinggi. Jangan lagi kita memunafikkan diri, saat berhubungan dengan orang luar negeri kita bangga dengan keberagaman Indonesia. Namun, didalam negeri kita masih saja intoleran dan menganggap semua yang melekat di pribadi masing-masinglah yang paling benar.