Tidak ada isu yang paling hot hari ini selain seputar perpolitikan Indonesia. Karena tema inilah yang paling mudah digoreng untuk meriuhkan suasana sekaligus menjadi penambah pundi-pundi uang bagi pihak-pihak yang berkepentingan di dalamnya. 

Dan tiada satu person yang paling tersoroti dalam hal ini selain sosok fenomenal Rocky Gerung (RG) yang belakangan terpaksa harus terkena delik atas pengaduan beberapa kalangan yang berkeberatan atas ucapannya mengenai kefiksian kitab suci beberapa waktu lalu di acara Indonesia Lawyers Club (ILC).

Tentu kita tidak bisa menyangkal adanya unsur-unsur politik di dalam kekontroversian ini. Tetapi pada kesempatan kali ini, saya tidak akan membahas dan masuk ke ranah politik, apalagi pendekatan hukum.

Alih-alih murni berdasarkan analisis ilmiah dari sudut pandang ilmu logika. Dan saya sangat berterima kasih kepada Dr. Otong Sulaeman juga rekan-rekan peserta short course Filsafat Islam yang telah memberikan pencerahannya.

Dari serangkaian ucapannya di media, kita dapat mengatakan bahwa pernyataan kontroversi RG didasarkan pada penalaran dua proposisi berikut: pertama, “fiksi mengaktifkan imajinasi”; dan kedua, “kitab suci mengaktifkan imajinasi”. 

Dari dua proposisi ini, kemudian diambil kesimpulan bawa kitab suci itu fiksi. Model penalaran ini bertumpu tiga buah kata, yakni “fiksi”, “kitab suci”, dan “mengaktifkan imajinasi”, yang dianggap RG satu sama lain memiliki relasi.

Dalam ilmu logika, terdapat empat jenis relasi, yaitu ekuivalensi (bermakna sama dengan simbol =), diferensia (bermakna saling lepas dengan simbol ⊃⊂), umum-khusus absolut yang dalam matematika disebut himpunan bagian (bersimbol ⊂), dan umum-khusus beririsan (bersimbol ∩).

Untuk pengambilan kesimpulan berdasarkan dua proposisi hanya dapat diambil secara benar jika berada dalam dua kondisi: pertama, jika kedua pernyataan yang dijadikan sebagai proposisi sama-sama memiliki relasi ekuivalensi. Sebagai contoh, jika A ekuivalen dengan B; dan B ekuivalen dengan C, maka A ekuivalen dengan C.

Atau keduajika kedua pernyataan membentuk silogisme deduktif di mana ketiga konsep tersebut membentuk relasi umum-khusus absolut secara bertingkat. Sebagai contoh, semua manusia mengalami kematian; Rocky Gerung adalah manusia, maka simpulannya Rocky Gerung pasti mengalami kematian.

Sekarang mari kita uji pernyataan RG dengan asumsi yang pertama (ekuivalen). Pertanyaan mendasarnya ialah apakah di antara “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” terjadi relasi ekuivalensi? Jelas tidak! 

Mengaktifkan imajinasi bukanlah sifat substansial dari fiksi melainkan sekadar sifat aksidentalnya. Kita tidak bisa menyatakannya secara bolak-balik seperti “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi” dan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi”.

Dr. Otong Sulaeman mengungkapkan, “setiap fiksi memang mengaktifkan imajinasi, tetapi yang dapat mengaktifkan imajinasi bukan hanya fiksi melainkan juga biografi tokoh besar, foto seseorang, bahkan kuliah ilmiah seorang profesor.” 

Jadi, alih-alih berelasi ekuivalensi, “fiksi” dan “mengaktifkan imajinasi” memiliki model relasi himpunan bagian [fiksi merupakan bagian dari hal-hal yang dapat mengaktifkan imajinasi, tetapi tidak dengan sebaliknya].

Begitu pun dengan relasi “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” karena keduanya memiliki substansi yang berbeda. Daripada dianggap sebagai relasi ekuivalen, keduanya lebih tepat memiliki relasi umum-khusus beririsan, karena harus diakui bahwa ada sebagian kesamaan antara “kitab suci” dan “mengaktifkan imajinasi” seperti perihal eskatologis.

Setelah gagal lulus dalam ujian kondisi pertama, mari kita uji pertanyaan RG dengan kondisi kedua (silogisme). Dr. Otong Sulaeman menggambarkan bahwa jika hendak dipaksakan apa yang dikehendaki oleh RG, maka penggambarannya adalah:

Dari diagram ini terbaca bahwa premis pertamanya (mayor) sudah salah karena terbalik, bukan “setiap yang mengaktifkan imajinasi adalah fiksi”, tetapi yang benar adalah “setiap fiksi mengaktifkan imajinasi”. 

Pun dengan premis keduanya (minor) karena tidak semua isi kitab suci mengaktifkan imajinasi, melainkan sebagiannya saja. Kalau pengujian kebenaran setiap premisnya saja sudah salah, maka pengambilan keputusan hanya akan menimbulkan kesesatan simpulan.

Tidak Seutuhnya Salah

Memang, sebagaimana telah disampaikan di atas, jika dikaji dalam pandangan murni ilmu logika, pernyataan RG jelas mengandung kecacatan. Tetapi pertanyaannya, apakah kita mesti mengaplikasikan pernyataan baku sesuai kaidah ilmu logika di dalam setiap perbincangan tatap muka?

Saya beri contoh. Dalam suasana percakapan, Jaelani berkata bahwa Alquran adalah obat. Dalam konteks ini, saya yakin mitra bicaranya akan segera memahami maksud yang dikehendakinya, bahwa Jaelani memang ingin mengatakan bahwa Alquran mengandung unsur pengobatan/penyembuhan tanpa bermaksud bahwa esensi dari Alquran itu sendiri adalah obat

Mitra bicaranya pun paham bahwa Jaelani tidak sedang mengatakan bahwa keseluruhan isi Alquran—adalah obat—melainkan sekadar untuk menyebut sebagiannya saja.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita telah terbiasa mendengar kata-kata semacam “warga Bekasi berdemo”, “Banser membakar bendera tauhid”, atau “Remaja tawuran” dan langsung memahami bahwa yang dimaksud ialah bukan seluruh warga Bekasi berdemo atau seluruh anggota Banser membakar bendera, atau seluruh remaja tawuran. Dan memang itulah yang sedang dimaksudkan oleh bung Rocky. 

Ketika memberi contoh kefiksian kitab suci, beliau segera memberi contoh hal-hal yang berbau eksatologis yang baginya memiliki padanan dengan fiksi karena keduanya sama-sama mengaktifkan imajinasi. Apakah mengaktifkan imajinya termasuk substansi atau sekadar aksidental, dalam sebuah percakapan redaksi ini sudah tidak terlalu berpengaruh lagi.

Tetapi harus diakui juga bahwa untuk pernyataan RG ini tidak bisa disamakan secara total dengan contoh-contoh yang sudah saya berikan di atas, sebab beliau telah berani masuk ke ranah yang dianggap sakral oleh, setidaknya, masyarakat Indonesia, yaitu agama.

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, hal-hal yang berbau agama, entah itu konsep abstraknya, ritualistiknya, maupun sekadar atribut keagamaannya, sama-sama bernilai suci sehingga kita harus berhati-hati ketika membicarakannya—tentu saja berbeda dengan budaya di Barat yang cenderung bebas dan terbuka.

Nah, persoalannya ialah ketika RG mencoba untuk menyandingkan hal yang sakral dengan sesuatu yang telah lazim dianggap berkonotasi negatif (fiksi). Redaksi fiksi secara umum kita pahami sebagai sesuatu yang tidak faktual, karangan manusia, memuat kepalsuan, cerita-cerita yang sulit untuk diverifikasi kebenarannya, atau sebagaimana yang dipahami oleh RG—sesuatu yang mengaktifkan imajinasi. 

Maka wajar ketika mereka mencoba untuk mengartikulasikan pemaknaan ini kepada kitab sucinya masing-masing, muncul keberatan.

Ini bagaikan ucapan “Jackson itu pincang” yang meskipun secara fakta memang demikian keadaannya, tetapi siapa yang mau dipanggil dengan sebutan yang berkonotasi “negatif”? 

Orang-orang ribut mengenai kata pincang yang secara lazim telah dipahami sebagai suatu redaksi yang kurang baik digunakan, tetapi kemudian RG—dalam beberapa kesempatan—hendak menyampaikan bahwa pincang itu bukanlah suatu redaksi yang berkonotasi buruk melainkan sebaliknya.

Di atas semua perdebatan ini, setidaknya kita tetap harus berterima kasih kepada bung Rocky yang telah memunculkan percakapan “kefilsafatan” dan “logika” di ranah publik sehingga mulai hilanglah persepsi buruk mengenai filsafat atau logika yang kadung dianggap ilmu sesat-menyesatkan, di luar konteks apakah ilmu tersebut telah digunakannya secara benar atau salah.