Terkadang senyum tipis keluar sendiri ketika secara 'iseng' membaca hasil liputan lama sewaktu berstatus wartawan dulu.

Pada pertengahan tahun 2017, persisnya pada bulan puasa, waktu itu sekembalinya bertugas, saya sejenak mampir di salah satu mini market di sepanjang jalan Otista, Jakarta Selatan. Kesempatan yang saya gunakan untuk beristirahat sejenak sembari mendengarkan rekaman transkrip hasil wawancara yang belum selesai dijadikan tulisan berita.

Di keadaan tenang dan fokus sambil menikmati kopi hitam dengan ditemani sebatang rokok pada sore hari itu (meski agak segan di tengah suasana orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa dan menunggu waktu berbuka saat itu, tetapi harus saya akui, melawan dahaga dan nafsu memang bukan perkara gampang. Itulah mengapa saya melipir ke mini market).  

Tak lama suara keras seperti sesuatu yang hancur terdengar di telinga saya. Sebagai wartawan pemula yang masih berjiwa idealis nan mengebu-gebu, saya pun bergegas melihat dan memeriksa sumber suara yang baru saya dengar tadi.

Baca Juga: Laku Wartawan

Benar saja, telah terjadi kecelakaan lalu lintas di depan mata saya, di mana sang pengendara sepeda motor tunggal menabrak beton pembatas Busway Transjakarta. Motor tersebut terlihat hancur pada bagian depan kanan, sehingga membuat pria pengendara tersebut mengalami luka sobek dan patah tulang di bagian kaki. 

Itu terlihat dari erangan sang pengendara yang tak henti meringis kesakitan dan mengatakan bahwa kaki kanannya tak bisa digerakkan saat hendak diangkut menggunakan mobil bak terbuka yang diberhentikan oleh warga sekitar untuk membawa pria itu ke rumah sakit.

“Tolong, bang, kaki jangan ditarik,” ujar pria itu seingat saya.

Aneh tetapi nyata. Meski kejadian kecelakaan lalu lintas seperti itu terlalu amat sering terjadi di jalan raya, terutama di daerah perkotaan, tidak ada satu pun petugas kepolisian yang hadir, setidaknya untuk melihat situasi dan kondisi korban. Yang ada hanya para warga setempat dan beberapa pengendara ojek online yang ikut bergotong-royong membantu mengevakuasi korban dan sepeda motornya.

Saat itu ada hal yang membuat saya sebenarnya ragu untuk menulis kejadian ini sebagai sebuah berita untuk dipublikasikan. Keraguan itu muncul ketika sesaat sebelum pria pengendara nahas itu diantar ke rumah sakit, seorang wanita yang mengaku istrinya datang ke lokasi kejadian dan langsung berteriak histeris menanyakan keadaan pria yang masih menahan spakit di kakinya itu.

Melihat keadaan tersebut, sang suami yang tergeletak di pinggir jalan hanya bisa berkata kepada istrinya.

“Maafin ayah ya, bu, kita ngak bisa pergi lebaran,” ungkapnya dengan masih meringis kesakitan, seingat saya pada waktu itu.

Kejadian seperti ini, di satu sisi, membuat saya merasa apakah etis menulis berita hanya untuk kepentingan kinerja saya, di mana sebagai wartawan pemula memang saya dituntut untuk harus sigap dengan keadaan sekitar? Kejadian tabrakan tadi secara tidak langsung seperti rezeki yang tak bisa saya tolak, atau lebih tepatnya sangat sulit untuk ditolak.

Namun, sebagai manusia biasa yang dianugrahi oleh Tuhan rasa simpati dan empati, saya merasa khawatir dalam benak. Saya berpikir, apakah ini namanya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain? Atau ini yang namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan orang lain? Apakah ini ambisi untuk membuktikan dan mencari pengakuan dari para jajaran redaksi bahwa saya telah pantas disebut wartawan yang peka dengan keadaan sekitar? Entahlah.

Mungkin juga para pembaca merasa hal ini seperti perasaan yang terlalu dilebih-lebihkan. Pun tadinya juga saya merasa seperti itu setelah sekian lama kejadian itu berlalu. 

Tetapi ketika Anda memosisikan diri anda seperti saya pada waktu itu di mana sanggat sulit bagi seorang wartawan pemula membedakan hal yang etis untuk dijadikan bahan berita mana yang tidak, terlebih jika menyangkut topik kemanusiaan atau peristiwa yang memakan korban, saya yakin sedikit banyak Anda pasti mengerti.

Namun terlepas dari dilema yang saya sempat alami, menjadi wartawan, meskipun hanya sebentar, adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya, kebanggaan yang bisa saya pastikan tidak dapat diukur dengan sekadar uang berapa pun nominalnya. 

Terlebih banyak pengalaman berharga yang tidak didapatkan oleh profesi lain menjadikan profesi wartawan sesuatu yang istimewa bagi saya. 

Dan kejadian kecelakaan lalu lintas tadi pada akhirnya tetap saya tulis dan dipublikasikan pada laman situs berita merdeka dot com dengan judul "Diduga meleng, pengendara NMAX tabrak separator busway di Otista," tanggal 19 Juni 2017.