Batin terguncang dan luka yang tak kunjung sembuh. Itulah yang dia rasakan saat itu. Terus berpikir tanpa menghiraukan kesehatannya yang semakin hari semakin kering bagaikan sungai yang tak lagi berjumpa air.

Setetes demi setetes cairan infus masuk ke tubuhnya melewati lorong pipa kecil yang berliku, namun semua itu kosong ditatapnya. 

Bahkan sesekali tiang itu menjelma jadi laki-laki di matanya, laki-laki yang terus dia harapkan untuk datang dan menanyakan kabarnya.

Tubuhnya terus berkecamuk seakan ingin memisahkan diri dari wanita itu dengan alasan tak tahan akan penderitaannya, penderitaan yang terus menerus dia terima akibat dari kebodohannya.

Luka lama yang dia terima seakan tak pernah memberinya jera, dia melupakan semua itu bagaikan tak pernah terjadi kepadanya, dia tak pernah menoleh dan terus menatap ke depan tanpa berpikir panjang, bahkan saat seseorang menyebut namanya di belakang sana pun dia enggan berbalik.

Janji manis dari lelaki itu membuatnya melupakan semua, seakan yakin mendapatkan kebahagiaan ketika jari-jemarinya digenggam. Pipinya memerah, senyumnya melebar, perasaannya entah berada pada surga tingkatan ke berapa saat lelaki itu mengucapkan kata cinta padanya.

Namun, kini semua itu hanya menjadi kenangan indah tak kala air mata membanjiri pipinya yang merah merona saat mengingat masa-masa itu, bahkan sesekali dia tertawa sebelum hatinya kembali meronta menjerit tak kuat dengan bebannya, beban yang dia derita dari kelemahannya.

"Riani, tidak usah kau cerita padaku" ujar Eni. Eni adalah salah satu sepupu Riani yang sudah ia anggapnya sebagai kakaknya sendiri.

Dia mengatakan begitu lantaran sangat kesal saat menasehati Riani. "ini bukan pertama kalinya aku melarangmu pacaran, tapi sudah ribuan kali" kembali ujarnya dengan rasa kesal.

Riani kembali menangis terseduh karena tak tahu lagi harus bercerita dengan siapa, bahkan burung yang sedang bernyanyi saat itu hanya lewat tanpa menyapa. 

Terus terpuruk dan tenggelam dalam kesedihan, bagaikan pohon yang terus berguguran daunnya ditiup angin. Riani adalah wanita asal Sinjai yang masih melekat pada dirinya keturunan suku Bugis. 

Sabar dan penyayang namun dia juga dikenal sebagai sosok yang mudah luluh. Sifatnya itulah yang kadang kala membuatnya sering terperosok dalam jurang yang dipenuhi dengan duri tersususn rapi di dasarnya dan dimaknai sebagai kata "cinta" di mulut lelaki.

Terus terbaring di sebuah kasur bertiang besi yang ditata indah itu membuatnya merasakan tidak nyaman, namun untuk beranjak dari kasur itu ia pun sangat kesulitan. 

Selama tiga hari Riani merasakan penderitaan itu. Ia merasa, seperti terbaring dalam tumpukan bebatuan yang tajam. Selanjutnya, ia keluar dari rumah sakit. Maunuju kampusnya.

Namun, dalam perjalanan, udara sejuk dari pepohonan yang hijau membuat yang lain menarik nafas panjang.Tapi tidak bagi Riani. Hiruk-pikuk suasana kampus yang terlihat ramah di mata orang lain, tak berlaku sama bagi Riani. 

Baginya tidak ada yang istimewa di hari itu. Bahkan pakaian hitam dengan toga sebagai mahkotanya pun tidak membuat suasana hatinya tenang. 

Hari itu tepat pada tanggal 30 Oktober, adalah hari ulang tahunnya yang ke 21 dan ia juga diwisuda, layaknya hari istimewa.

Stamina kembali dan perasaan senang bukanlah alasan kenapa Riani keluar dari rumah sakit, melainkan tuntutan sebagai mahasiswa yang harus menyelesaikan studinya. Dengan perasaan yang bingung bercampur sedih, Riani terus berjalan menyusuri jalan setapak menuju kampusnya.

Canda tawa di sepanjang jalan semakin membuat langkah kakinya terus berayunan. Semakin kencang geraknya, semakin besar pula harapnya. 

Dia iri dengan mereka yang berkumpul melepas tawa seakan tak ada beban yang diderita.

Terlintas dalam pikirannya untuk mengakhiri penderitaan yang dialaminya saat duduk di bangku pinggiran jalan, namun ada rasa takut dengan kematian yang masih terbayang dan menjadi alasan kuat baginya agar hidupnya tidak berakhir tragis.

Mentari menghilang perlahan-lahan seakan mengisyaratkan perpisahan, burung-burung pun kembali ke sarangnya dengan sangat senang bagaikan rumah adalah tempat terakhir yang ingin di tujunya. semua itu terjadi begitu saja tanpa dia sadari.

Sendirian dalam kamar membuatnya tidak merasakan kenyamanan, mata tertutup namun bayangan lelaki itu terus ada bagaikan dia adalah langit-langit di kamarnya.

"Riani apa kabar" terdengar suara lelaki itu saat Riani mengankat telfonnya. Diam tanpa sepatah kata, munkin karena rindunya yang semakin hari semakin bertambah sehingga membuat mulutnya terkunci.

"Maaf ya, karena saat itu aku meninggalkanmu" kembali suara lelaki itu. "Aku rindu dan aku ingin kamu kembali ke pelukanku" ujar lelaki itu kembali. Namun Riani etap terdiam.

Tiba-tiba terlintas di pikiran Riani tentang apa yang pernah di ucapkan Eni sepupunya. "Andaikan dia serius mencintaimu maka dia akan datang kehadapan orang tuamu dan melamarmu, bukan mengajakmu berpacaran". Namun kata itu bukanlah alasan kenapa Riani terus berpikir keras, melainkan saat Eni mengatakan untuk tidak pernah menganggapnya lagi sebagai adiknya jika mendengar dia kembali berpacaran.

Perasaannya kacau, hatinya gundah, tubuhnya kaku. Ingin berteriak namun tak tahu harus dengan siapa suaranya itu di peruntukkan.

Di balik rasa senang dengan ajakan laki-laki itu juga terselip rasa sedih yang sangat mendalam teringat dengan kata-kata sepupunya yang sudah dianggapnya kakak kandung sendiri.

Dengan perasaan sedih, nafasnya yang sesak, dan suaranya yang parau, terpaksa Riani menolak ajakan lelaki itu untuk kembali ke pelukannya. "Eni, kau menang. Biarlah sedihku ini kutanggung sendiri" gumannya dalam hati.

Ingin terbang dan menjauh dari perannya namun sayap-sayap cantiknya telah patah sehingga membuat dirinya tetap berada dalam panggung yang penuh sandiwara itu. 

Terus mencoba merajut kembali sayapnya namun semua sia-sia karena kini tak tahu lagi ia harus memulai dari mana.

Kamarnya yang luas itu kini terasa sempit baginya, langit-langit kamar yang usang menjadi gambaran hatinya yang kacau, senja yang menyapa di balik jendela kaca tak lagi di pedulikannya. 

Ia hanya bisa terdiam dengan sejuta luka, bersembunyi di balik senyuman palsu, menangis dalam doanya, dan menunggu keajaiban datang.