Di saat seperti sekarang, yang mana minat baca (literasi) masyarakat Indonesia menduduki peringkat yang sangat miris sebagai bangsa yang memiliki perjuangan dan sejarah semangat yang tinggi, dikagetkan dengan beberapa berita yang mengatakan bahwa ada buku yang disita, dilarang, dan tidak boleh dibaca oleh masyarakat.

Sebelum lebih jauh kita bicara tentang literasi Indonesia, penulis ingin mengutip laporan dari UNESCO tentang minat literasi masyarakat Indonesia. Dalam laporan tersebut, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 63 negara yang dilakukan survei.

Bila dilihat dari hasil penelitian (survei) ini, dapat disimpulkan bahwa minat baca kita sangat miris, di bawah batas minim (lemah).

Perlu diakui, sejarah Indonesia memang sejarah yang sangat memberikan ketakutan dan kelemahan bangsa ini sampai sekarang. 

Berbagai alasan menjawab mengapa ada buku-buku dengan kategori tertentu yang dilarang untuk dibaca. Kemudian pertanyaan yang timbul apakah dalam hidup ini memang ada sejarah bangsa ini yang disembunyikan, namun pada umumnya kita mempercayai bahwa dengan memahami sejarah maka bangsa ini akan mencapai cita-cita adil makmur.

Mungkin agak aneh jika kita harus memberanikan diri untuk mempertanyakan kembali bangsa kita, apakah ada sejarah yang disembunyikan sehingga ada buku-buku yang menjelaskan tentang sejarah justru tidak boleh dipelajari.

Apa pun yang dapat dipergunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus memahami apa fungsi dari buku dan yang pada intinya kenapa sejarah dituliskan.

Sebagai bangsa yang memiliki sejarah tentu harus dipelajari oleh generasi ke generasi, tidak jadi suatu bangsa yang memiliki impian untuk masa depan bila generasinya tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang bangsanya.

Penting untuk dititik-beratkan sebagai pembahasan dalam tulisan ini adalah penulis mengajak pada pembaca untuk mencari alasan yang dapat menjadi solusi tentang masa depan bangsa ini yang akhir-akhir ini dikagetkan dengan tersitanya buku-buku yang berkaitan dengan sejarah kelam bangsa ini.

Pada dasarnya tentang "buku kiri" adalah buku yang berisi tentang sejarah kelam yang berkaitan dengan organisasi yang terlibat dalam mengantarkan bangsa ini menuju pintu gerbang kemerdekaan.

Perlu diakui bahwa kemerdekaan bangsa ini adalah hasil dari persatuan nasional bangsa Indonesia yang terdiri dari masyarakat majemuk (berbagai latar belakang) merebut kembali bangsa ini dari kekuasaan bangsa asing yang menjajah.

"Pembelajaran yang berharga untuk bangsa yang bercita-cita adalah bangsa yang tidak lupa pada sejarah bangsanya," kata Bung Karno (Soekarno) "JAS MERAH" singkatan dari "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah". Itulah pentingnya sejarah bagi suatu bangsa yang bercita-cita dan agar tidak kembali pada masa lalu yang kelam.

Tidak ada alasan untuk menyita buku.

Penulis menyadari untuk mengatakan perkataan di atas, bahwa tidak ada alasan untuk menyita buku. Bagaimana alasan bangsa ini untuk maju adalah mengetahui sejarah bangsanya termasuk sejarah yang membahagiakan atau menyedihkan.

Buku kiri itu apa sih? Untuk menjelaskan pertanyaan tersebut, maka sedikit penulis akan menjelaskan tentang buku kiri.

Buku kiri merupakan buku-buku yang dengan getol dan semangatnya menentang sistem kehidupan yang tidak memberikan hak manusia secara merata sebagai satu-kesatuan (hubungan sosial) dan menjunjung tinggi nilai-nilai manusia sebagai manusia yang merdeka.

Jika dihubungkan dengan sejarah Indonesia, maka yang menjadi alasan dan yang bahkan sampai sekarang pun belum memiliki kecerahan dalam melihat sejarah bangsa ini adalah buku kiri disamakan dengan pemahaman Marxisme, hasil dari pemikiran tokoh abad ke 18-an di Eropa yang menggegerkan itu.

Paham atau metode yang ditawarkan Karl Marx, yang kemudian dikenal dengan sebutan "MARXISME" inilah yang kemudian melahirkan organisasi/partai bernama PKI di Indonesia atau ideologi komunisme di dunia.

Singkat dalam sejarah pendiri ideologi marxisme yakni Karl Marx pernah dalam bukunya mengatakan bahwa "agama adalah candu" yang memiliki sejarah sebab-sebab seorang Karl Marx mengatakan demikian adalah karena sebagian orang borjuis (pelaku/pengguna system kapitalisme) menggunakan agama untuk melancarkan penindasan mereka terhadap kaum buruh dalam dunia industri.

Perkataan demikian itu memang melahirkan satu sejarah di Eropa yang mana agama-agama di sana di tolak dengan berbagai argumen dan demonstran besar-besaran untuk menghapuskan doktrin-doktrin agama waktu itu.

Berlainan dengan di Indonesia, sejarah paham ini masuk mula-mula yang sebagai mana tujuan dari pendiri (pemikiran asalnya) adalah menolak segala eksploitasi manusia dan kehadiran paham/ideologi marxisme waktu itu bersamaan dengan berlakunya sistem penindasan yang diterapkan di Indonesia oleh bangsa penjajah terhadap rakyat Indonesia.

Ada yang mengatakan bahwa paham ini dibawa oleh seorang dari bangsa Belanda yang bersimpati terhadap perjuangan rakyat Indonesia, namun bila dilihat dalam sejarah bangsa ini ada banyak anak muda waktu itu yang belajar tentang ideologi ini pada saat belajar di luar negeri.

Penulis hendak bukan ingin menginstruksikan pada siapa pun, namun kejadian akhir-akhir ini juga membuka mata dan pikiran kita semua untuk mencari tahu tentang problem bangsa kita yang sampai sekarang belum dapat dikatakan telah menemukan penjelasan dan kepastian tentang adanya buku-buku yang disita.

Untuk kita, apakah membaca buku berarti manusia mati akal sehatnya dalam melihat dan menilai sesuatu, kita tidak punya alasan untuk mengatakan demikian itu.

Sebagai penutup dari tulisan ini, penulis mengutip perkataan Bung Karno untuk generasi bangsa ini: Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa pahlawannya."