Satu kabar baik datang dari dunia perfilman Indonesia. Film Dilan 1990 berhasil membukukan 3 juta penonton hanya dalam waktu 10 hari. 

Sayangnya, belakangan, kisah cinta Dilan dan Milea menuai kritik. Penggambaran Milea dianggap merendahkan perempuan.

Dalam cerita novel maupun filmnya, Dilan memang sering menyebut Milea sebagai sosok yang cantik. Ambil contoh kutipan Dilan yang paling terkenal: “Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore, tunggu saja.”

Milea digambarkan bukan perempuan pintar. Representasi sosok Milea yang cantik namun tidak pintar ini dianggap sebagai upaya meletakkan perempuan sebagai objek pemuas imajinasi visual semata. Dengan kata lain, Pidi Baiq, penulis cerita, seolah-olah sengaja menegakkan hegemoni patriarki melalui karyanya.

Pertanyaannya, salahkah menjadi perempuan cantik? Apakah kecantikan selalu jadi sarana objektifikasi perempuan?

Naomi Wolf, feminis dan penulis buku The Beauty Myth, tentu akan menjawab ya. Baginya, kecantikan adalah mitos yang diciptakan kapitalis untuk mengeksploitasi perempuan secara ekonomi melalui produk-produk kosmetik.

Pandangan Wolf barangkali benar. Namun, jika fenomena ini dilihat dalam konsep modal erotis (erotic capital) yang dicetuskan oleh Catherine Hakim (2010), kecantikan justru jadi modal penting untuk perempuan.

Erotika sebagai Modal 

Secara singkat, modal erotis merupakan kombinasi dari daya tarik estetik, visual, fisik, sosial, dan seksual yang dimiliki seseorang untuk menarik orang lain. Ada enam bagian dalam modal erotika, kecantikan adalah salah satunya. Namun begitu, standar “cantik” bisa berbeda-beda sesuai waktu dan budaya.

Di masa lalu, perempuan yang memiliki mata dan mulut mungil dianggap cantik. Sedangkan masyarakat modern menekankan pada fitur photogenic sehingga perempuan dan laki-laki dengan mata dan mulut berukuran besar dengan garis wajah tegaslah yang dianggap menarik.

Daya tarik (attractiveness) juga bisa dicapai dengan hal-hal yang terukur. Misalnya, seberapa simetris wajah atau level warna kulit.

Elemen kedua adalah sexual attractiveness yang merujuk pada kemenarikan tubuh. Berbeda dengan kecantikan wajah yang statis, sexual attractiveness adalah tentang bagaimana orang bergerak, berbicara, dan berperilaku. Elemen ini bisa tertangkap jelas jika direkam dengan video.

Elemen ketiga dari modal erotis adalah kemampuan sosial, berkaitan dengan keterampilan dalam berinteraksi, karisma, dan kemampuan untuk membuat orang lain tertarik. Keterampilan-keterampilan ini pun bisa dipelajari.

Kelincahan (liveliness) merupakan elemen keempat. Hal ini merupakan perpaduan dari kondisi fisik yang prima, energi sosial, dan selera humor yang baik. 

Orang-orang yang terlibat dalam berbagai kegiatan dapat menjadi sangat menarik untuk orang lain. Di banyak budaya, liveliness ditunjukkan dengan kemampuan berdansa atau keterampilan olahraga tertentu.

Elemen kelima dari modal erotis adalah presentasi sosial, yakni gaya berpakaian, jenis parfum, perhiasan, gaya rambut, dan beragam aksesoris yang dikenakan untuk menunjukkan status sosial dan style masing-masing orang. Tak dimungkiri, orang-orang yang fashionable tentu lebih menarik dari orang-orang yang berpenampilan seadanya.

Elemen terakhir adalah seksualitas itu sendiri, yakni kompetensi seksual, imajinasi erotis, energi, serta hal lain yang membuat seseorang dapat memuaskan pasangannya. Aspek terakhir dari modal erotis ini memang sifatnya privat, sedangkan lima aspek lainnya dapat terlihat jelas dalam konteks sosial.

Keenam aspek ini berkontribusi dalam menentukan modal erotis, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Mana elemen yang dianggap lebih penting dari yang lain sangat bergantung pada waktu dan tempat.

Di beberapa tempat, modal erotis dan modal budaya (cultural capital) berkelit-kelindan. Para geisha di Jepang, misalnya, dikagumi karena keterampilan artistik (menyanyi dan menari) serta kemolekannya.

Modal Erotis Bisa Diciptakan

Yang perlu digarisbawahi adalah, sebagaimana jenis modal lain, aspek-aspek modal erotis juga dapat diupayakan. Hal ini bertentangan dengan kepercayaan masyarakat yang menganggap bahwa kecantikan adalah semata anugerah tuhan atau nasib yang statis.

Kritik berbasis dikotomi cantik versus pintar yang menerpa Milea pun tak luput dari keyakinan ini. Ada kepercayaan bahwa kepintaran lahir dari ketekunan belajar, membaca buku, dan berlatih mengerjakan soal latihan.

Kecerdasan dianggap sesuatu yang diperoleh lewat kerja keras. Sedangkan bentuk wajah dan tubuh adalah lotre yang dimenangkan secara acak. Anugerah yang didapat tanpa usaha.

Padahal, posisinya bisa saja terbalik. Faktor genetis berperan penting dalam menentukan kecerdasan seseorang. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Medical Research Council Social and Public Health Sciences Unit Glasgow, Skotlandia, bahkan menunjukkan bahwa kecerdasan anak ditentukan oleh gen ibunya. 

Di sisi lain, sering kali penampilan fisik yang menarik diperoleh lewat kerja keras yang memakan waktu dan biaya. Di tahun 2015 saja, konsumsi kosmetik Indonesia berada di angka Rp11 triliun. Belum lagi banyaknya buku-buku self-help yang mengajarkan bagaimana cara mengembangkan keterampilan sosial yang relevan dengan modal erotis. 

Peran Modal Erotis

Peran dari modal erotis sangat jelas. Kita harus berhenti jadi munafik dan mengakui bahwa orang-orang cantik dan tampan memang kerap mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam kehidupan ini.

Pemain sepak bola David Beckham adalah contoh yang bagus tentang pentingnya modal erotis. Pendapatannya dari dunia modelling dan kontrak iklan jauh lebih tinggi dibanding sebagai atlet.

Studi yang dilakukan Harper (2000) di Inggris menemukan bahwa orang bertubuh tinggi dan/atau berpenampilan menarik memperoleh pendapatan lebih tinggi. Studi terbaru dari Judge et al. (2009) menunjukkan bahwa penampilan, kecerdasan, kepribadian, dan rasa percaya diri berperan dalam menentukan pendapatan, baik untuk perempuan dan laki-laki.

Selain di dunia kerja, modal erotis juga berguna dalam urusan cari jodoh (marriage market). Dalam hubungan heteroseksual, laki-laki cenderung menukar kekuatan ekonomi mereka dengan kecantikan perempuan.

Studi yang dilakukan oleh Buss (1989, 1994) di 37 negara dan 5 benua menunjukkan bahwa bahkan perempuan berpendidikan cenderung menginginkan pasangan laki-laki yang stabil secara ekonomi; sebaliknya, laki-laki mencari perempuan dengan fisik menarik.

Kencan modern, baik offline maupun online, pun demikian, setidaknya di awal hubungan. Jujur sajalah, apa pertimbangan kita men-swipe match Tinder kalau bukan foto profil? Jadi, berhenti menyalahkan Dilan yang memilih Milea karena ia cantik.

Pernikahan juga sangat mungkin menjadi sarana mobilitas sosial, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, modal erotis menjadi modal penting bagi perempuan yang ingin menaikkan status sosial lewat perkawinan.

Dalam masyarakat modern, mendongkrak status sosial perempuan lewat marriage market atau labour market ternyata sama pentingnya (Thelot, 1982; Erikson and Goldthorpe, 1993; Hakim, 2000).

Daya tarik fisik dan seksualitas makin penting dalam masyarakat modern. Maka, modal erotis menjadi sama berharganya dengan modal ekonomi, sosial, dan budaya. 

Pertanyaan berikutnya, mengapa kita sungkan mengapresiasi penampilan perempuan layaknya kita mengapresiasi kecerdasan?

Merayakan Feminitas

Perempuan sebenarnya menghabiskan lebih banyak waktu “menimbun” modal erotis. Feminitas ideal dalam masyarakat patriarki mengharuskan perempuan berdandan dan bersikap lembut, menyenangkan bagi orang lain.

Sayangnya, masyarakat – yang di masa lalu sangat didominasi laki-laki – mencegah perempuan untuk mengeksploitasi modal ini. Caranya dengan menyebarkan wacana bahwa modal erotis tidak berguna.

Perempuan yang menunjukkan kecantikan dan seksualitasnya otomatis dianggap bodoh. Dalam budaya populer, ada mitos dumb-blonde yang mengacu pada sosok perempuan cantik, pirang, dan bodoh. Di industri Hollywood, praktik ini sangat lumrah hingga sempat dikecam oleh aktris Salma Hayek.

Kedua, dengan membangun standar moral tertentu. Pekerjaan-pekerjaan yang mengeksploitasi modal erotis perempuan, seperti stripper, diberi stigma sebagai pekerjaan hina.

Perempuan muda cantik yang ingin menikahi lelaki kaya dilabeli sebagai “perempuan matre” yang mengkhianati kesucian cinta dalam perkawinan. Padahal, logika utama di balik julukan “matre” ini adalah bahwa laki-laki harus mendapatkan apa yang mereka inginkan dari perempuan secara gratis, terutama seks.

Kecantikan dan upaya mempercantik diri dianggap sebagai tindakan objektifikasi dari laki-laki. Para peserta kontes kecantikan, misalnya, mendapatkan banyak kritik. Kecerdasan dan kecantikan dilihat sebagai dua entitas terpisah yang tak mungkin dimiliki sekaligus oleh perempuan. Perempuan yang memiliki keduanya, tidak diizinkan untuk menggunakannya semaksimal mungkin.

Pada akhirnya, apakah kita ingin merangkul dan merayakan feminitas yang perempuan miliki untuk berdaya di tengah himpitan patriarki yang telanjur kuat atau ikut merepresinya dalam standar moral patriarki?

Referensi:

Buss, D. M. (1989). Sex differences in human mate preferences: evolutionary hypotheses tested in 37 cultures. Behavioural and Brain Sciences, 12, 1–49.

Buss, D. M. (1994). The Evolution of Desire: Strategies of Human Mating. New York: Basic Books.

Erikson, R. and Goldthorpe, J. H. (1993). The Constant Flux. Oxford: Clarendon Press.

Hakim, C. (2000). Work-Lifestyle Choices in the 21st Century: Preference Theory. Oxford: Oxford University Press.

Hakim, C. (2010). Erotic Capital. European Sociological Review, Col. 26, No. 5, 499-518.

Harper, B. (2000). Beauty, stature and the labour market: a British cohort study. Oxford Bulletin of Economics and Statistics, 62, 771–800.

Judge, T. A., Hurst, C. and Simon, L. S. (2009). Does it pay to be smart, attractive, or confident (or all three)? Relationships among general mental ability, physical attractiveness, core self-evaluations, and income. Journal of Applied Psychology, 94, 742–755.

Thelot, C. (1982). Tel Pe`re, Tel Fils? Position Sociale et Origine Familiale. Paris: Dunot.