Digital Native: Perdebatan Baru di Era Digital

Digital native (digital sejak lahir) merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Marc Prensky melalui serangkaian artikelnya di tahun 2001 untuk merujuk pada sebuah generasi yang sejak lahir telah berada pada lingkungan yang terpapar teknologi digital —dimulai pada tahun 1990 (Istiana, 2016). Prensky melihat terdapat perbedaan antara digital native dan generasi sebelumnya dalam cara berpikir dan menggunakan pikiran untuk memproses informasi. 

Hal tersebut salah satunya didasarkan pada pengamatannya tentang generasi sekarang yang cenderung multitasking, dapat mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu seperti mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Namun demikian, apa yang menjadi pandangan Prensky ditentang oleh tokoh lain, Selwyn. 

Selwyn menganggap bahwa konsep digital native tidak dapat secara objektif menggambarkan budaya generasi muda dan teknologi yang mereka gunakan (Pendit, 2012). Hal tersebut, bagi Selwyn, salah satunya disebabkan oleh belum adanya bukti empirik yang memperlihatkan bagaimana budaya generasi muda dan penggunaan piranti digital dapat menciptakan pola berpikir yang baru; yang lain dari generasi sebelumnya.

Meskipun perdebatan terkait definisi yang paling tepat untuk menggambarkan genearsi kelahiran tahun 90-an belum juga final, kita tidak dapat memungkiri bahwa kondisi obyektif masyarakat, khususnya Indonesia saat ini menunjukkan adanya penggunaan teknologi digital secara masif. Melansir data dari Kompas.com (Pertiwi, 2018), terdapat riset yang dilakukan ‘We Are Social’ yang mengungkap pola pemakaian media sosial orang Indonesia. 

Penelitian tersebut memaparkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga jam 23 menit per hari untuk mengakses media sosial. sedangkan jumlah penggunanya, menurut laporan berjudul “Essential Insight Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Araound The World”, dari total populasi yang jumlahnya 265,4 juta jiwa, 130 juta di antaranya aktif menggunakan sosial media atau sekitar 49%. Beberapa media teratas yang paling sering digunakan di antaranya adalah Youtube, Facebook, WhatsApp dan Instagram.

(Gambar 1.1 peta penggunaan sosial media populer)

 

Sosial Media sebagai Medium Berpolitik

Meskipun statistik dapat menjelaskan seberapa banyak orang yang mengakses sosial media setiap harinya dan seterusnya, pertanyaan “berapa di antaranya yang menggunakan sosial media sebagai medium politik?” masih sulit dijawab dengan angka-angka. Namun bukan berarti hal tersebut sama sekali menjadi alasan untuk tidak menggagas sosial media memiliki peran penting dalam politik. 

Misalnya, pda salah satu riset[1] yang dilakukan untuk melihat peran sosial media dalam peningkatan partisipasi pemilih pemula, menunjukkan bahwa mayoritas pelajar melihat urgensi sosial media untuk penyampaian visi misi dan program bagi calon eksekutif maupun legislatif. Hal tersebut didasarkan pada harapan mereka untuk dapat melihat secara jelas dan mudah, apa saja yang ditawarkan oleh para calon. Sehingga pemilih dapat menentukan pilihannya dengan cerdas (Anshari, 2013).

Meminjam pemikiran Chavez, 2012; Riaz, 2010; Stietglitz & Dang-Xuan, 2012, komunikasi politik —khususnya kampanye, melalui sosial media memang dinilai penting. Hal tersebut selain digunakan sebagai platform menyampaikan gagasan para calon, juga dapat dipergunakan untuk menjaring opini public (ibid., hlm. 93). Sosial media menjadi medium strategis bagi politisi untuk berdialog dan membangun diskusi dengan masyarakat umum. 

Politisi besar, atau setidak-tidaknya yang sekarang sedang berkontestasi dalam Pemilihan Umum 2019, memiliki sosial media seperti instagram dan twitter untuk menyampaikan gagasan dan branding diri. Seperti misal Sandiaga Uno dengan akun @sandiuno di instagram dan twitter, Joko Widodo dengan akun @jokowi di sosial media yang sama, dan beberapa politisi lain.

Tokoh lain dengan pemikiran serupa, misalnya Douglas Hagar (2014) dalam Campaigning Online: Social Media in the 2010 Niagara Municipal Elections menuturkan, media sosial bisa berkontribusi pada keberhasilan politik. Ini karena media sosial membuat kandidat dalam sebuah pemilihan bisa berinteraksi dengan para calon pemilih dengan skala dan intensitas yang tak bisa dicapai lewat pola kampanye tradisional seperti kampanye dari pintu ke pintu, brosur, bahkan peliputan oleh media cetak dan televise (Ardha, 2014). Hal ini membuat studi tentang sosial media menjadi bagian tak terpisahkan dari studi politik. Lalu, seberapa mampu politisi kita memanfaatkan sosial media sebagai pundi-pundi suara?

Mungkin untuk membuka perdebatan akan hal ini, kita bisa menengok sedikit jauh pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 yang menarungkan Hillary Clinton dan Donald Trump. Dalam pernyataan resmi pada berbagai media, Trump dengan tegas menyebutkan bahwa kemenangannya tidak lepas dari peran sosial media, khususnya facebook. Sedangkan konspirasi keterlibatan Rusia menjadi persoalan lain yang dapat kita berbincangkan. 

Namun poin pentingnya adalah, Trump berhasil menggunakan sosial media sebagai alat kampanye. Yang perlu kita ingat, respons publik di sosial media tidak secara otomatis menggambarkan kondisi sebenarnya. Karen North, Kepala Profesor Program Master Media Sosial di University of Southern California mengatakan perbedaan hasil perhitungan cepat dengan jajak pendapat politik yang ramai di jagat maya merupakan suatu kejutan yang memang bisa berbeda dengan dengan hasil sesungguhnya. 

Menurutnya, sosial media yang mewakili beragam latar belakang usia, ras, gender, status sosial ekonomi, sebaiknya hanya digunakan untuk memprediksi tingkah laku pemilih. Hal itu merupakan hal-hal lazim yang kerap dibagikan ke banyak orang.

Sedangkan pada kasus Pilpres Amerika Serikat 2016, Trump seringkali membawakan isu yang dapat diafirmasi sebagaian kalangan namun mereka tidak dengan menyatakan dukungan di muka umum misalnya dengan merespons positif di sosial media. Hal tersebut yang membuat Trump menang sekaligus kalah di sosial media: kalah dalam hal respons namun menang dalam hal memberikan pengaruh. 

Meskipun kita tidak dapat memungkiri bahwa jumlah suara yang diperoleh oleh Hillary sebenarnya lebih banyak dari yang didapatkan oleh Trump, dan kita juga tidak dapat mengklaim bahwa sosial media adalah satu-satunya faktor. Karena di balik itu semua, banyak hal yang turut andil dalam kemenangan Donald Trump di Pilpres Amerika Serikat 2016.

Social Network Analysis: Pemilih dan Politisi Harus Melek Teknologi

Lebih jauh, sosial media tidak hanya menyajikan input dan output dalam putaran singkat: kandidiat menyuarakan, masyarakat memberi respons, tanggapan dikeluarkan melalui gagasan-gagasan selanjutnya. Karena dengan kemajuan teknologi di lain sisi, semua data dari sosial media dapat dikaji dan dianalisa sehingga hasil akhir mampu memberikan gambaran lebih utuh terkait perilaku pengguna sosial media. 

Pernah mendengar big data? Big data merupakan data yang dihasilkan dari segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Semua proses digital dan pertukaran data pada media sosial menghasilkan data. Perangkat dan sistem mobile serta perangkat dan sistem sensor juga mengirimkan dan menghasilkan data (Miranda, 2014).

Saat ini, sebuah lembaga media karnels asli buatan anak bangsa: Drone Emprit[2], menjadi salah satu platform yang bergerak dalam analisis big data. Drone Emprit sendiri merupakan sebuah sistem yang berfungsi untuk memonitor serta menganalisa media sosial dan platform online yang berbasis teknologi big data. Drone Emprit menggunakan keahlian Artificial Intelligence (AI) dan Natural Learning Process (NLP). 

Drone Emprit mampu menyajikan peta Social Network Analysis tentang bagaimana sebuah hoaks berasal, menyebar, siapa influencer pertama, dan siapa groupnya. Seluruh koding dilakukan dengan rumus dan menampilkan hasil yang lebih akurat. 

Bahkan melalui Drone Emprit Academic Open Data, masyarakat umum —khususnya akademisi, dapat berpartisipasi dengan mendaftarkan diri, untuk kemudian diakomodir dalam sebuah grup WhatsApp yang akan mendiskusikan isu-isu apa saja yang menarik untuk digali dari interaksi orang-orang di sosial media.

Misalnya, pada kasus yang baru-baru ini naik ke muka publik yang ramai terkait Sandiaga Uno yang diduga melangkahi makam seorang kiyai. Drone Emprit menampilkan peta analisis mulai dari tren sampai SNA yang terbentuk sebagai berikut:

(Gambar 1.2 peta SNA isu Sandiaga dan Makam)

Masih banyak analisis yang dapat kita peroleh dengan mengakses https://pers.droneemprit.id/sandi-dan-makam-mbah-bisri/ dalam konteks kasus ini. Bahkan kita bisa melihat apa saja respons masyarakat sosial media atas isu tersebut khususnya di twitter. Jika terdapat kebingungan: apa kiranya makna SNA di atas? Secara singkat, dapat dijelaskan bahwa isu Sandi dan Makam diperdebatkan di sosial media dengan lebih banyak memancing emosi negatif. 

Mengapa demikian? Karena melalui peta ini, kita dapat melihat suatu reaksi positif atau negative dari warna garis yang ada. Hijau menandakan adanya reaksi positif misalnya memaklumi, meminta Sandi meminta maaf secara halus dan lain sebagainya. sedangkan warna merah mengindikasikan adanya reaksi negative bisa dengan umpatan atau kata-kata kasar.

Paparan di atas menjadi cambuk baik untuk pemilih maupun politisi. Bagi pemilih, konten ini dapat membantu kita untuk melihat sejauh mana kemungkinan hoaks yang muncul atas suatu isu. Kita bahkan bisa melihat kubu mana yang paling banyak menggunakan akun bot dalam memainkan isu, sehingga ke depan tidak mudah terprovokasi dengan menuding pihak satu dan yang lain. sedangkan bagi politisi, tren-tren isu seperti ini dapat digunakan untuk mengasah kepekaan dalam menawarkan gagasan. 

Dengan mengamati bahasa dan gaya yang disukai oleh masyarakat di sosial media menurut rentan usia atau daerah tempat tinggal. Teknologi digital yang terus menerus menghadirkan kebaruan sudah saatnya menjadi wadah bagi pemilih maupun kandidat untuk menciptakan Pemilihan Umum yang sehat, damai, dan penuh rasionalitas bukan hanya sentiment maupun fanatisme.

Kesimpulan

Sosial media jika digunakan dengan optimal oleh para kandidat, dapat menjadi pundi-pundi suara yang bermanfaat bagi kemenangannya pada kontestasi politik. Dengan membaca tren yang berada di masyarakat, politisi dapat mengenali dan memutuskan strategi yang paling tepat digunakan untuk berkampanye di sosial media. Meskipun kampanye konvensional dan membangun militansi lewat jalur non-virtual juga penting, namun kampanye sosial media tidak boleh dianggap remeh karena hampir 50% masyarakat Indonesia ternyata aktif di sosial media.

Kemajuan teknologi dan keberadaan digital native yang makin sadar akan perubahan, membuat kandidat yang akan bertarung harus lebih cerdas dalam mengemas dirinya. Sosial media dapat dioptimalkan sebagai medium untuk menyampaikan gagasan menyesuaikan apa yang disukai masyarakat. Yang tidak kalah penting, sosial media membuat para kandidat dapat terus di kontrol oleh publik. 

Masyarakat juga bisa turut berdialog dengan menyampaikan kritik dan masukan. Tentu ada syarat yang harus dipenuhi: dialog dibangun di atas nilai-nilai kedamaian dan tidak melanggar hukum yang ada.

Kemampuan manusia yang semakin tinggi dalam ilmu pengetahuan diharapkan linear dengan kualitas demokrasi. Hoaks harus diperangi, tim-tim siber yang mulai marak menyebarkan provokasi harus dihilangkan dari peredaran. Tugas untuk menjaga kedamaian Pemilihan Umum 2019 mendatang tidak hanya berada di tangan KPU, Banwaslu, atau instansi lain yang terkait, akan tetapi kita semua. Pemilih cerdas, memilih politisi berkualitas. Politisi cerdas, memberikan yang terbaik bagi calon pemilihnya. Sosial media, mampu mempertemukan keduanya: sebagai pundi suara dan alat kontrol tepat guna.


DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, E. (2016, November 11). 'Kekalahan' Media Sosial dan Kemenangan Donald Trump . Retrieved November 20, 2018, from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161111162018-185-172043/kekalahan-media-sosial-dan-kemenangan-donald-trump

Anggraini, V. A. (2018, Januari 3). Drone Emprit Buatan Anak Bangsa. Retrieved Oktober 15, 2018, from Good News From Indonesia: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/03/drone-emprit-buatan-anak-bangsa

Anshari, F. (2013). Komunikasi Politik di Era Media Sosial. Jurnal Komunikasi, Vol. 8 No. 1, 91-102.

Ardha, B. (2014). Social Media sebagai Media Kampanye Partai Politik 2014 di Indonesia. Jurnal Visi Komunikasi Volume 13, No. 01, 105-120.

Ike Atikah Ratnamulyani, B. I. (2018). Peran Media dalam Meningkatkan Partisipasi Pemilih Pemula di Kabupaten Bogor. Sosiohumaniora - Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora, 154-161.

Istiana, P. (2016). Gaya Belajar dan Perilaku Digital Native terhadap Teknologi Digital dan Perpustakaan. SLiMS Commeet West Java 2016 (pp. 343-350). Bandung: UNPAD Press.

Laksana, N. C. (2018, Maret 13). Ini Jumlah Total Pengguna Media Sosial di Indoensia. Retrieved November 21, 2018, from Okezon.com: https://techno.okezone.com/read/2018/03/13/207/1872093/ini-jumlah-total-pengguna-media-sosial-di-indonesia

Mahdi Shiddieqy Setatama, D. T. (2017). Implementasi Social Network Analysis dalam Penyebaran Country Branding "Wonderful Indonesia". Ind. Journal on Computing, 91-104.

Miranda, E. (2014, April 30). Big Data. Retrieved November 22, 2018, from Binus University: https://sis.binus.ac.id/2014/04/30/big-data-2/

Pendit, P. L. (2012). Digital Native, Literasi Informasi dan Media Digital. Universitas Kristen Satya Wacana.

Pertiwi, W. K. (2018, Maret 1). Riset Ungkap Pola Pemakaian Medsos Orang Indonesia. Retrieved November 20, 2018, from Kompas.com: https://tekno.kompas.com/read/2018/03/01/10340027/riset-ungkap-pola-pemakaian-medsos-orang-indonesia?utm_source=Line&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sticky_Mobile

R, J. I. (2016, Agustus 19). Cerdas Membangun Personal Branding untuk Sosial Media. Retrieved November 22, 2018, from Liputan6.com: https://www.liputan6.com/tekno/read/2581129/cerdas-membangun-personal-branding-untuk-media-sosial

Suastha, R. D. (2016, Desember 12). Gedung Putih: Putin Terlibat Langsung Peretasan Pemilu AS. Retrieved November 20, 2018, from CNN Indonesia: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20161216093105-134-180013/gedung-putih-putin-terlibat-langsung-peretasan-pemilu-as

Sugiarto, T. (2014, Maret 29). Media Sosial dalam Kampanye Politik. Retrieved November 20, 2018, from Kompas.com: https://nasional.kompas.com/read/2014/03/29/1153482/Media.Sosial.dalam.Kampanye.Politik

[1] Riset ini dilakukan di Kabupaten Bogor dengan mengambil 40 sekolah menengah umum dengan jumlah 100 siswa berusia 17 tahun ke atas dan masyarakat umum dengan jumlah 50 usia pemilih.

[2] Dapat dibuka di laman https://pers.droneemprit.id/