Kajian mengenai filsafat memang tidak ada habisnya bila dibicarakan. Mulai dari ontologi, epistemologi, etika, estetika, dan sebagainya. 

Namun, di sini penulis akan mencoba menjelaskan bagaimana seseorang bisa sampai ke idea—kategori kajian epistemologi—yang dimulai dari objek bayang-bayang benda indrawi hingga realitas matematis yang jelas sampai ke idea itu sendiri.

Masih ada yang belum tahu apa itu idea? Setyo Wibowo mengartikan idea sebagai perangkuman dari segala eidos, dan keduanya memiliki akar kata wied yang merujuk pada aktivitas melihat (Idein) yang bentuk perfect-nya menjadi mengetahui (Oida).

Penjelasan ini akan dimulai dari tingkatan paling bawah terlebih dahulu. Bila meminjam bahasa Setyo Wibowo dalam bukunya Paideia, kenapa penjelasan tersebut dimulai dari tingkatan bawah, itu karena proses pengetahuan berjalan dialektis dari tingkatakan bawah ke tingkatan paling atas supaya seseorang sampai ke idea.

Pertama di wilayah doxa (opini) dan tingkat pengetahuannya masih berupa dugaan-dugaan maupun othak-athik gathuk, yang mana objeknya dari bayang-bayang indrawi.

Sebagai contoh di atas, katakanklah saat kita mendapatkan informasi mengenai si A dari tetangga maupun teman bahwa si A seorang pezina yang mana informasi itu masih berdasarkan katanya dan katanya. Lalu dengan itu, kita langsung melakukan analisis, maka pengetahuan yang dihasilkan berupa dugaan-dugaan/prasangka.

Kedua masih di wilayah doxa (opini), tapi tingkat pengetahuannya berupa kepercayaan dan objeknya benda-benda indrawi. Di sini seseorang mulai menggunakan alat indra (mata, telinga) untuk melihat dan mendengarkan pernyataan/klarifikasi secara langsung dari pihak terkait.

Lantas, apakah permasalahan itu langsung selesai? Tentu saja tidak. Plato mengatakan, memuaskan diri hanya dengan pengetahuan indrawi itu sama artinya dengan berpuas pada opini (doxa).

Kenapa demikian? Karena hal tersebut masih pada tataran pengetahuan inderawi bukan idea.

Bagi Plato, suatu realitas alat indrawi hanyalah suatu tipuan karena selalu berubah-ubah dan hanya tunduk pada becoming (hukum kemenjadian), sebagaimana permisalan di bawah ini:

Si A hari ini mengatakan “iya” dan di kemudian hari si A mengatakan “tidak”. Kasus lain bisa dilihat pada contoh suatu meja: hari ini suatu meja tampak sangat bagus, akan tetapi, dengan berjalannya waktu, benda indrawi tersebut akan berubah warnanya, bentuknya, dan bahkan rusak dan membusuk. 

Begitu pun dengan semua person. Alhasil, kepada sesuatu yang berubah, tingkat pengetahuan yang dimiliki sebatas doxa.

Ketiga beralih di wilayah episteme (Sains) dan berada di tingkat pengetahuan yang bersifat dianonia (rasio diskursif analisis) serta objeknya berupa realitas matematis yang jelas.

Menariknya di sini, seseorang berusaha mencari pengetahuan yang sebenar-benar pengetahuan dengan kerja keras. Ini bertujuan untuk memahami informasi kasus yang pelik itu dengan mudah.

Data-data yang telah diperoleh dari usaha itu kemudian dikumpulkan dan dipahami track recordnya serta dipahami pula hubungannya dengan lingkungan sekitar. Selanjutnya akan dilacak untuk menemukan suatu hal yang abstrak yang kiranya pola-pola itu bisa diargumentasikan untuk menentukan benar dan salahnya.

Pengetahuan yang dibentuk oleh jiwa di tingkatan ini tidak lagi bersifat indrawi. Data indrawi tetap digunakan meskipun sudah diabstrakkan sehingga terlepas dari informan, pendengar, dan apa pun yang bisa diraba, dilihat maupun didengar.

Bila penulis meminjam bahasa Setyo Wibowo tentang hal ini, Plato mengatakan, “pengetahuan yang dimilki adalah pengetahuan rasional yang diskursif dan matematis (dianoetik): ada analisis, ada argumentasi dan rumusan untuk sampai ke sebuah kesimpulan.”

Kebenaran pada tingkatan ini sudah ditemukan antara hoax dan tidaknya informasi itu. Namun, Plato mengajak kita untuk naik lebih tinggi lagi sebagai penyadaran diri akan adanya bentuk pengetahuan yang paling tinggi, yaitu noetik/noesis akan idea.

Intuisi dalam skema pengetahuan Plato, pada dasarnya dijadikan sebagai pijakan seseorang untuk selalu beranjak naik, yang semulanya hanya sekadar pengetahuan bayang-bayang ke pengetahuan benda indrawi berlanjut ke penalaran matematis.

Selain itu, selarasnya idea membuat seseorang rela berkorban untuk menggeluti dan menguak informasi kasus yang pelik tersebut. Hingga pada akhirnya ditemukanlah ada tidaknya suatu kejanggalan atau masalah dalam informasi itu. 

Idea akan keselarasan inilah yang membuat seseorang berani untuk membebaskan diri dari cengkeraman dugaan-dugaan ataupun opini lingkungan sekitar.

Keempat berada di wilayah epiteme (Sains) juga, namun tingkat pengetahuannya di rasio intuitif (noesis) serta objeknya berupa forma, idea, serta rupa yang jelas. Plato mengartikan ketegasan dan keadilan dengan menjalankan tugas sesuai dengan bagian-bagiannya dalam tingkatan ini.

Plato juga menyebutnya dengan nama keadilan harmoni. Kenapa demikian? Karena bila jiwa bekerja secara proporsional sesuai bagian-bagian dan juga fungsinya, maka ia akan menjadi seseorang yang sehat dan harmonis.

Hal itu mengandung arti, orang-orang/seseorang yang terlibat dalam penyebaran maupun yang memercayai informasi kasus yang pelik tersebut, haruslah memosisikan dirinya sesuai porsinya masing-masing.

Maksudnya, mereka harus pandai bertutur kata dalam pengertian tidak menyebarkan informasi/berita dengan sembarangan yang masih simpang siur kualitasnya. Mereka juga harus menelaah terlebih dahulu berita/informasi yang didapat supaya tidak langsung memercayai.

Tampaknya Plato tidak puas sampai di situ saja. Ia tidak akan pernah puas jikalau hanya dikatakan konsepsi jiwa sebagai harmoni atau keadilan sebagai keselarasan.

Alasan tersebut cukup sederhana, karena ia menanyakan kembali dengan pertanyaan tentang suatu kebaikan. Lebih kurang begini pertanyaannya: “Apakah sesuatu yang harmonis dan selaras dengan sendirinya baik?” 

Bila melihat teks alegori gua kembali, ini erat kaitanya dengan simbol matahari yang merupakan manifestasi dari kebijaksanaan.

Proses naik dari tingkatan pengetahuan paling rendah ke tingkatan paling atas untuk menuju idea, itu dinamakan dialektika. Proses-proses yang dilalui seperti tercermin dalam contoh kasus di atas, itu juga merupakan bentuk dialektika yang secara jelas terlihat.

Berkaca pada pendapat Plato, menurutnya, dialektika adalah proses progress of thought, kemajuan berpikir, lewat dialog di mana para mitra wicara maju pelan-pelan dari bayang-bayang sampai ke kontemplasi idea. Sehingga ada yang menyebut, dialektika sebagai salah satu pendidikan tertinggi dari Plato.

Referensi

Wibowo, A. Setyo. 2017. Paideia. Yogyakarta: Kanisius.