Golongan putih (golput) menjadi topik bahasan yang terus mengemuka menuju hari pemilihan umum presiden dan legislatif. Terlebih setelah muncul kritik keras dari Romo Franz Magnis-Suseno di laman opini Kompas (12/3) untuk para Golputers, utamanya pada Pilpres.

Menurutnya, golput adalah tindakan immoral; dan pihak yang memilih golput dianggap bodoh, berwatak benalu, bermental tidak stabil, dan psycho-freak. Ciri yang terakhir tersebut agak kurang familiar – barangkali bisa diartikan sebagai psikologi orang aneh, sinting, atau kurang waras.  

Kali ini kritiknya jauh di luar dugaan. Dari awal sudah dinyatakan secara tegas bahwa ia tak akan bersikap santun dan tenang. Tampak dari pilihan katanya menunjukkan bahwa luapan emosi telah mendominasi, sehingga secara eksplisit kalimatnya lugas menyasar ulu hati pihak-pihak yang dituju. 

Wajar bila seorang rohaniwan, filsuf, pluralis mampu melontarkan pernyataan yang tidak sedap atas dasar keprihatinan dan kekhawatiran terhadap kondisi carut-marut perpolitikan negara kita. Alangkah bijak bila figur negarawan punya nasihatnya yang berimbang antara sisi rasional dan emosional. 

Terlepas dari itu, saya pribadi menaruh hormat kepadanya. Di usia senjanya, ia masih sudi memberikan pandangan politiknya. 

Namun, bagaimanapun, kritiknya tidak bisa dijadikan dasar argumen untuk memberangus golputers. Apalagi ini bisa dijadikan dalih oleh pihak lain untuk mengejek pihak yang telah memutuskan golput pada pemilu tahun ini. 

Kiranya perlu mengelaborasi paradigma golput dari pengalaman Romo Magnis dalam mengawal proses demokratisasi negara ini dengan alasan golput yang dibangun oleh kalangan menengah. 

Oleh karena itu, dialektika rasional perlu dibangun agar perbedaan penilaian tentang golput tidak menjadi pertengkaran akun di kolom-kolom komentar media sosial. 

Sikap Politik Golputers

Bila kembali pada identifikasi sifat-sifat psikologis orang golput yang diutarakan Romo Magnis, sebetulnya masih ada jarak pengertian yang cukup lebar.

Apa definisi bodoh, benalu, dan bermental lemah yang ia maksudkan? Bagaimana konteksnya seseorang bisa disebut bodoh, benalu, dan bermental rendahan hanya karena golput? Untuk perihal tersebut, saya bisa berbeda pendapat.

Pertama, bila definisi bodoh ialah lemah akal, atau kurang pengetahuan dalam konteks melek politik, rasanya itu tidak terjadi pada kelompok golputers yang notabene berasal dari kalangan menengah terdidik yang aktif mengikuti perkembangan politik. 

Justru mereka mengagitasi alasan golput karena menolak dibodohi orang, calon, dan partai politik dari pemilu ke pemilu. 

Ada jutaan masyarakat bodoh dari kalangan bawah yang tidak mengenyam pendidikan formal dan/atau tidak paham politik. Mereka ikut mencoblos calon-calon yang sebenarnya mereka tidak kenal. 

Sebenarnya mereka bisa dikatakan bodoh sesuai definisi di atas. Karena ketidaktahuannya, mereka tertipu janji manis kampanye. Tetapi rakyat kita terlalu baik. Dengan alasan bermasyarakat, mereka bersedia mencoblos agar tidak dituduh golput dan bodoh. 

Kedua, jika sifat benalu dilekatkan pada golput, maka sebenarnya para politisi yang telah terpilih di level legislatif dan eksekutif lalu menjadi pasien KPK adalah benalu yang paling nyata. Mereka tega menjadi “parasit” jabatan bagi negara dengan merampok uang rakyat dan kekayaan negara.

Ketiga, tak hanya menjadi benalu, para elite politik pilihan rakyat yang telah menjadi tersangka kasus korupsi menunjukkan bahwa mereka bermental rendahan dan psycho-freak.

Orang yang mencuri jelas ia kehilangan keseimbangan berpikir, dan pada akhirnya harus melakukan kezaliman seperti itu. Mereka tak punya rasa malu kepada rakyat yang selama ini diperas suaranya melalui pemilu. Bukankah ini jauh lebih mengecewakan?  

Dengan demikian, menjadi sebuah kesimpulan yang dangkal bila asumsi dari sifat bodoh, benalu, dan bermental rendahan tersebut disematkan kepada golputers. 

Lantas, apa alasan utama para golputers teguh pada pendiriannya? 

Golput menjadi ekspresi personal alami yang membuat angka pertisipasi pemilih menurun tiap masa pemilu. Alasannya adalah tidak mau terkungkung ke dalam politik emosional. 

Mereka mau berpikir bebas dari jerat-jerat sentimen partai politik demi menemukan cara-cara ideal bernegara. Mereka mengalihkan pandangan dari rivalitas dan polarisasi yang dibangun kubu koalisi. 

Romo Magnis menganjurkan, setidaknya bisa memilih calon yang memiliki keburukan lebih sedikit di antara calon-calon yang kurang baik itu. Pertanyaannya, mengapa harus konservatif memandang satu arah dengan dua kutub seperti itu? 

Di tengah pilihan yang buruk, naluri golputers secara jujur tidak bisa memihak. Maka golputers memilih memalingkan muka menjauh dari hiruk pikuk calon, dan memilih belajar menemukan permainan politik baru di masa mendatang. Biarkan mereka yang sama-sama buruk bertarung. 

Golputers tidak tergantung oleh siapa pun. Mereka tetap bertanggung jawab pada nasib bangsanya dengan terus bekerja dari semua lini.

Bila ditarik secara substansi pemilu, input pemilu sebenarnya sudah cacat sejak awal. Sistem politik kompromistis seperti ini, bila diteruskan, justru mengancam demokrasi itu sendiri. 

Rakyat tidak berdaulat menentukan calon wakilnya. Kandidat peserta pemilu telah dikooptasi partai politik, tentu dengan kekuatan modal. 

Bagaimana kita tahu bahwa mereka adalah calon-calon pemimpin yang baik kalau kita tidak bisa mengenali autentisitasnya? Bahkan untuk sekadar bertanya pun rakyat hanya bisa diwakili oleh panelis dan moderator debat.  

Maka golput sebenarnya adalah sebuah wujud perlawanan personal terhadap demokrasi yang setengah harga ini. 

Sulit berharap Indonesia akan maju dengan hanya disodori calon yang sama-sama buruk, kemudian kita dipaksa memilih yang jeleknya paling sedikit. Pada akhirnya, rakyat terjebak pada gambling, mencoblos calon yang seolah-olah dicitrakan baik saat kampanye dianggap tidak akan berbuat jahat. Belum tentu!

Jadi bisa kita simpulkan bahwa mereka yang memilih golput adalah tidak bodoh.

Justru para elite politik yang membuat sistem politik menjadi arena pertarungan menurunkan kepercayaan publik, bahkan berisiko mengancam tatanan sosial masyarakatlah yang seharusnya kita cap bodoh, bahkan pembodohan! 

Ada baiknya perspektif golput ini jangan dijadikan pertengkaran verbal. Cukup ini menjadi bekal pengetahuan yang tersembunyi di belakang punggung saja. 

Bagi mereka yang mantap dengan pilihan kandidat, dipersilahkan memilih dengan suka cita. Dan, bagi mereka para golputers, biarkan memanfaatkan kelonggaran wawasannya. Bukankah asas rahasia harus tetap dipegang?

Yang terpenting jangan apolitis. Artinya, tetap menggunakan haknya untuk ke TPS sebagai rasa hormat kepada saudara, teman, atau tetangga kita yang bertugas mengawal jalannya pemilu. Menjaga persaudaraan di tataran ini menjadi lebih esensial. 

Memilih untuk memilih atau memilih untuk tidak memilih harus diselesaikan di bilik suara. Dengan begitu, kita turut mencegah dari pembajak surat suara tidak tercoblos untuk kecurangan.

Terima kasih, Romo Magnis atas pandangan Anda membuka kesempatan kita berdialektika di tengah kabut politik yang makin hari makin mengurangi kejernihan kita berwarganegara.