Pukul 06.00 WIB, hari ke 24 di Januari tahun ini, mobil Avanza merah yang sengaja saya sewa dari seorang teman meluncur dari Kota Jambi menuju satu sisi di Kabupaten Tebo yang berbatasan dengan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Tepat satu jam tiga puluh menit perjalanan dari Kota Jambi, mobil membawa kami sampai pada portal PT Wira Karya Sakti, tepatnya di wilayah distrik 3. Saya yang sengaja meneruskan mimpi indah sejak keberangkatan dari Kota Jambi terbangun ketika mendengar suara Ucok, supir yang dari tadi mengendalikan mobil memberi tahu bahwa ada pemeriksaan.

“Mbak, ada pemeriksaan. Aku mesti bilang apa?”

“Turunkan kaca. Jawab saja pertanyaan satpam,” jawabku sekenanya. Tentu saja jawaban ini adalah jawaban bercandaku pada Ucok. 

Tak lama seorang satpam dengan wajah cukup ramah menghampiri sembari berkata, “Selamat pagi, ibu. Mau ke distrik 8, ya?” ucapnya ramah.

Ah, ternyata satpam itu mulai hafal dengan wajah yang pasaran ini.

Tak kuhiraukan wajah Ucok yang masih terheran melihat reaksi satpam yang dengan ramahnya menyapa kami di portal tadi. 

“Kok ramah, ya, mbak? Bukannya harusnya mereka memeriksa kita dengan ketat? Kita, kan, masuk wilayah konsesi mereka?” Dan saya seolah-olah tak peduli dengan keheranan si Ucok.

“Banyak hal yang akan kamu temui sepanjang perjalanan kita hari ini yang akan membuatmu lebih heran lagi. Simpan energimu. Kamu harus kuat mengendarai mobil ini selama satu hari penuh,” ucapku sembari membenahi posisi duduk agar terasa lebih nyaman.

Untuk melupakan rasa pusing dan mual yang saya tahan sejak tadi, saya berusaha mengalihkan perhatian pada jajaran akasia dan ekaliptus yang begitu rapi di sepanjang jalan koridor yang kami lewati. 

Ya, sepanjang jalan koridor hanya pohon akasia dan ekaliptus yang kami lihat. Karena kami sedang berjalan di tengah konsesi sebuah perusahaan pemilik konsesi terluas di Provinsi Jambi.

Perusahaan tersebut adalah PT Wira Karya Sakti, anak perusahaan Sinar Mas yang memiliki izin lebih dari 293.000 ha yang tersebar di 5 Kabupaten di Jambi.

Satu jam telah berlalu. Sembari menikmati barisan akasia dan ekaliptus yang ditanam tak kurang dari 1.000 batang setiap ha, kami menikmati perjalanan dengan dialog sederhana tentang hal-hal yang kami lihat.

Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, akhirnya kami tiba di kantor distrik 8 yang terletak di desa Bukit Bakar.

Kami disambut oleh tim Forest Protection. Mereka mempersilakan kami duduk di kursi teras kantor dan tak lupa memesankan beberapa cangkir kopi untuk kami seruput bersama di pagi hari yang belum terlalu panas udaranya, sembari menikmati hamparan akasia yang seolah tak ada ujungnya.

“Tim kita sudah siap. Kami akan memperkenalkan ibu dengan tim medis kami, seorang dokter cantik, muda, dan masih gadis; serta seorang mantri ganteng yang bertugas di kantor distrik,” seloroh Pak Adi sambil tertawa kecil. 

Tak lama kemudian, datang dua orang menghampiri kami. Satu orang perempuan muda, cantik, berhijab, dan satu lagi seorang pria muda yang dengan paras yang lumayan ganteng.

Mereka berdua adalah dokter Priselia dan mantri Afdhal, tim medis yang disiapkan oleh PT WKS untuk melakukan pengobatan di wilayah SAD Tumenggung Apung, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo yang tinggal di sekitar konsesi perusahaan.

Hari ini, saya akan melakukan pemantauan kegiatan pengobatan gratis yang akan dilakukan oleh perusahaan sebagai salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam melakukan pemberdayaan SAD di bidang kesehatan. Komitmen ini adalah salah satu hasil kesepakatan proses penyelesaian konflik yang dilakukan oleh SAD Kelompok Tumenggung Apung dan PT WKS melalui proses mediasi beberapa waktu lalu.

Tepat pukul 09.30 WIB, setelah melakukan pengecekan seluruh persiapan, kami mulai bergerak menuju pemukiman SAD Kelompok Tumenggung Apung. Dua portal dan dua kali pemeriksaan harus kami lalui. Hingga tiba saatnya seluruh mobil rombongan tiba di sebuah musala pada perkampungan yang tidak terlalu padat perumahan.

Masyarakat mulai berdatangan. Ada warga SAD dan ada masyarakat umum. Setelah tim perusahaan menyampaikan sambutan sebagai pembuka, proses pengobatan bagi masyarakat dimulai.

Satu per satu warga yang mendaftar untuk berobat diperiksa. Dokter dan mantri melakukan rekam medis dan pendataan identitas pasien dengan sabar. Data pribadi pasien dicatat dengan rapi.

Perhatian saya tiba-tiba tertuju pada seorang perempuan berwajah hitam manis. Rambutnya yang terlihat kurang terawat diurai hingga menutupi seluruh bahunya. Wajahnya sangat les. Ketika berjalan menuju meja pemeriksaan, dia terlihat tidak bertenaga.

Dia adalah perempuan SAD. Tanpa berkata apa-apa, perempuan itu duduk di depan dokter yang telah menunggunya. Dokter mulai mengamati wajah perempuan itu. Memeriksa tekanan darah dan memeriksa suhu badan.

Baca Juga: Meja Nomor 14

“Tekanan darah dan suhu badan ibu normal. Ibu tidak sakit,” kata dokter. 

Tapi perempuan itu tidak bereaksi sedikitpun. Hanya diam menunduk.

“Ibu ada keluhan?” Dengan sabar dokter berusaha melakukan dialog dengan pasien.

“Saya hamil,” kata perempuan itu lirih.

Dokter tersenyum seolah mengerti apa yang menjadi keluhan pasiennya.

“Ooo, ibu hamil. Ibu mual dan pusing, ya, kalau pagi?” tanya dokter.

Perempuan itu mengangguk.

“Nggak apa-apa, itu biasa. Nanti setelah usia kehamilan ibu lebih dari 4 bulan, semua akan baik-baik saja,” pesan dokter dengan penuh keramahan.

Namun perempuan itu seolah tak ingin beranjak dari hadapan dokter. Dengan wajah penasaran, dokter kembali bertanya, “Nama ibu siapa? Biar kami data. Bulan depan akan kami bawakan vitamin untuk ibu,” tanya dokter penuh semangat.

Perempuan itu menggeleng, entah apa maksudnya. Dokter kembali mengulang pertanyaan yang sama. Perempuan itu kembali menggeleng. Dokter yang dengan penuh kesabaran menunggu jawaban mulai menunjukkan wajah bingung.

Saya yang dari tadi mengamati dialog yang terjadi antara dokter dan perempuan itu akhirnya mendekat. Dengan hati-hati saya bertanya, “Ibu tidak tahu nama ibu?” dan perempuan itu mengangguk.

Spontan saya lihat wajah dokter penuh keheranan. Tapi bagi saya, yang sudah biasa bergaul dengan SAD, tidak heran melihat kejadian ini. Banyak perempuan SAD yang tidak tahu siapa nama dirinya. Bahkan yang sudah menikah sekalipun.

Untuk mendapatkan jawaban dan mengetahui siapa nama perempuan SAD, biasanya yang kami lakukan adalah dengan mencari siapa suaminya atau ayahnya. Karena biasanya suami atau ayah mempunyai nama panggilan untuk istri atau anak perempuannya.

Ah, semoga tak ada lagi perempuan di muka bumi ini yang tidak tahu namanya sendiri, siapa pun dia dan dari mana pun asalnya.

Buat kamu perempuan yang tidak tahu namamu, semoga kandunganmu baik-baik saja, dan kamu bisa melahirkan anak yang suatu saat harus bernama.