Setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda. Apakah akan menciptakan kebahagiaan atau menghancurkan kebahagiaan.

Tasya adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya. Keluarga yang harmonis, kaya, dan hangat.

Kehangatan itu mulai memudar sejak ia berada di bangku SMP. Karena ada perdebatan hebat antara keduanya yang menyebabkan mereka bercerai.

Dedaunan berguguran di bawah langit senja. Matahari tenggelam di pelupuk barat dan diikuti burung-burung. Indah, tetapi tak seindah hatiku saat ini.

Hati yang tadinya utuh, hancur berkeping-keping. Bisa terobati, tetapi membutukan waktu yang lama.

"Kenapa si Bu, Ibu harus cerai? Ibu nggak sayang sama Tasya?" (Ucapnya ketika dalam pelukan ibunya)

"Ibu sayaaang banget sama Tasya. Rasa sayang Ibu ke kamu melebihi apapun, Sya" (Terharu)

"Terus kenapa Ibu pisahan?" (Berkaca-kaca dan hanya matalah yang berbicara). Tetapi Tasya belum menemukan jawabannya.

"Ya Allah, Tasya nggak mau Ibu sama Ayah pisahan. Tasya udah nyaman, Ya Allah" (Pintanya setelah salat Subuh)

Pagi harinya, berita tentang perceraian orang tuanya menyebar ke sekolah. "Kasihan banget si, cantik-cantik nggak punya Ayah" (Bully seorang siswa)

"Sabar ya, Sya. Pasti ada hikmahnya ko" (Ucap Tya (sahabatnya) menyemangati). 

Pukul 15.30 bel sekolah berbunyi. Dari pagi sampai sore perutnya belum terisi makanan sedikitpun. Tidak selera. 

"Braakk!!" (Tabrak Tasya kepada seorang cowo) "Eh maaf-maaf nggak sengaja" (Ucap Tasya) 

"Iya nggak papa. Aku juga nggak sengaja" (Membereskan buku yang berserakan dan akan menyerahkannya, tiba-tiba... 

"Braaakk!!" (Tasya pingsan) "Astaghfirullohhal'adzim.. Toloongg" (Khawatir)

Randy namanya. Kelas 12. Pintar, putih, ganteng. "Ko Tasya bisa pingsan begini, Ran?" (Tanya ibu)

"Anu, Bu. Dari pagi sampai sore Tasya nggak mau makan" (Ucap Tya spontan) "Yang ditanya siapa yang jawab siapa" (Kesal) Tya hanya cengengesan.

Sebenarnya Ibu Tasya sudah mengetahui penyakit yang diderita Tasya yakni kanker otak. Penyakit itu diderita sejak ia di bangku SMP. 

Tetapi Ibu tidak mau Tasya dan teman-temannya mengetahui penyakit itu. Karena akan membuat Tasya takut dan kehilangan keceriaannya.

Beberapa jam kemudian, Tasya sadar. "Alhamdulillah" (Ucap ibu bahagia tapi menyembunyikan rasa sedih dan khawatir)

Pagi harinya, Tasya pulang. "Tasya sakit apa si, Bu? Ko sering pusing akhir-akhir ini?" (Penasaran)

"Kamu itu disuruh istirahat total dan nggak boleh mikirin yang berat-berat" (Tersenyum)

Sepanjang hari, hari-harinya diisi oleh Randy. Walaupun Randy kakak kelasnya.

"Kak, kapan-kapan ajak Tasya ke rumah kakak, dong?" (Mringis) "Iya deh, InsyaAllah" (Ucap Randy menyetujui)

Pintu kamar ibu terbuka dan ada berkas-berkas. Sontak membuatnya penasaran. 

Setelah melihat isi kertas itu, Tasya baru tahu bahwa dirinya mengidap penyakit yang berbahaya.

"Kanker otak? Jadi selama ini???" (Menangis) "Maafin Ibu, Sya. Ibu nggak bermaksud menyembunyikan ini semua" (Mengelus kepalanya)

"Kenapa dari dulu Ibu nggak mau cerita? Kenapa, Bu?? (Semakin deras dan pergi meninggalkan ibunya)

Di dalam kamar Tasya menangis deras. "Kenapa harus Tasya yang mempunyai penyakit ini, Ya Allah.. Kenapa??" (Ucap Tasya sedih)

Setelah membaca Al Quran, hati Tasya menjadi tenang. "Ya Allah, semoga prediksi dokter tentang riwayat umur hidupku salah" (Ucap Tasya berdoa)

Beberapa hari kemudian, Randy mengajak Tasya ke rumahnya. Randy akan menepati janjinya.

"Ayah... Ada tamu nih, Yah" (Panggil Randy). "Ayaahh..." Tetapi ayahnya tidak menjawab panggilan Randy itu. 

Dari halaman samping ada yang memanggil Tasya dan sontak membuatnya langsung menengok. 

"Tasya..." (Panggil ayah ketika masih di halaman). Melihatnya yang memanggil, Tasya langsung lari dengan cepatnya. 

Di sepanjang jalannya Tasya tidak sadar. "Jadi selama ini, penyebab cerainya ibu gara-gara Kak Randy" (Ucapnya)

"Terus aku suka Kak Randy ternyata saudaraan. Ya Allah, kenapa cobaan ini berat banget, Ya Allah" (Ucapnya dalam hati tanpa melihat kanan kiri)

Tiba-tiba dari arah kanan ada mobil melintas dengan laju tinggi. "Teeettt... Dubrakk!!!" (Tasya tertabrak mobil dan dilarikan ke rumah sakit)

Randy yang sedang mencari Tasya dan melihat mobil ambulance, langsung lari ke arah mobil itu. Dan benar, ternyata Tasya.

Semuanya khawatir dan teman-temannya sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk.

Sudah beberapa jam Tasya belum sadarkan diri. "Ibu... Ayah... Kak Randy.. Maafin Tasya yaa..." (Nafasnya serak)

"Maafin aku juga, Sya. Aku nggak tahu akan berakhir kayak gini" (Ucap Randy menangis) Ibunya terus memegang tangannya sambil menangis.

"Tasya sayang sama Ibu..." (Ibu mencium kening Tasya). Genggaman ibu semakin erat, tetapi genggaman Tasya semakin melemah.

"Ayah... Ibu... Tasya pengin Ayah sama Ibu seperti dulu lagi" (Ucapnya membuat semua terdiam)

"Iya, Sya. Demi kebahagiaanmu Ayah berjanji" (Tersenyum meski deras air matanya). 

Setelah membaca dua kalimat syahadat Tasya meninggal. "Tasyaaaaa" (Jerit Ibu tidak percaya Tasya pergi)

Beberapa hari kemudian akhirnya rujuk kembali dan istri keduanya diceraikan.