April 1830

Buliran tanah aku lihat tanpa henti lepas dari asalnya, dicangkuli dengan lemas oleh orang-orang yang aku awasi sejak pagi tadi hingga tengah siang ini. Sengat matahari sangat menusuk tenggorokan yang membuatku tanpa henti meneguki anggur yang kubawa dari kantor pagi tadi.

Kasat mata semuanya tampak tenang, mereka tak pernah berkata apapun padaku atau pengawas yang lain kala  bekerja, namun aku tahu benar bahwa diamnya mereka tak lebih dari raungannya yang dipasung tanpa daya sekecilpun oleh kami.

Diponegoro! Dia pangkal dari semua ini, hanya bermodal uang yang dikumpulkan dari hasil pertanian tanahnya di Tegalrejo sini dan juga selentingan bahwa dia mendapat bisikan gaib di sebuah gua sudah buat dia gembung dan melawan kami yang Nederland ini.

Memang bisa saja barangkali perang lima tahun yang selesai kemarin itu akan dibukukan sebagai sejarah mengagumkan buat orang jawa, namun aku yakin mereka yang kini bekerja di bawah pengawasanku, juga bagi siapa saja yang kini bekerja menanam kopi dan nila di lahannya sendiri tengah mengutuknya, Diponegoro itu!

“Hindia harus mengganti semua kerugian yang Diponegoro lakukan!” begitu kata Gubernur Jenderal Van Den Bosch di hari pertamanya di Batavia untuk menggantikan De Kock. Dan beginilah sekarang: Jawa dipasung tanam paksa oleh kami, lantaran perbuatan bodohnya sendiri, selama lima tahun.

“Ratu Adil. Ratu Adil pasti akan datang.” Begitu gumaman para pekerja yang kadang aku dengar, alih-alih gumaman, itu hanya sebuah pelipur luka menganga belaka baginya yang tak mampu bersuara pada kami lantaran dia yang tanpa daya, dia yang tanpa panutan, dan dia yang tanpa tujuan. Bahwa mereka yakin seseorang entah siapapun itu tengah bertapa di sebuah gua, mendapat bisikan dari yang mereka sebut sebagai leluhur untuk memimpin bangsanya.

Tak sadarkah mereka bahwa semua itu hanya dapat terjadi di masa para nabi masih ada saja? Karena jangankan hanya Diponegoro yang tak sebagai raja manapun, bahkan Mataram telah kami remukan sampai batu terakhirnya! Bodoh memang.

Kata seorang bupati, “Purbowaseso sudah tak ada lagi, semua-semua sudah ada pada Nederland”

Maka aku jawab, “Iya, semua ada pada kami, dan apapun yang ada pada kami entah itu senapan, atau hanya sebatas topi pet dan sepatu akan membuat gentar kalian yang jawa.” Iya hanya karena mereka melihat manusia bertopi pet maka seakan mereka tangah diancam moncong meriam tepat pada kepalanya yang kosong. Alam pikiran orang jawa itu telah jatuh serendahnya, sehinanya.

Maka jangan salahkan kami yang Nederland dan terpelajar ini mendarat di sini untuk mengurus semua kekayaan ini, karena kalian hanya seakan sapi yang di beri lahan koin emas. Kekayaan ini, yang membuat aku ke tanah ini, tanah yang berawan panas, membuatku tak lagi dapat merasakan salju turun! Juga nyamuk, serangga kecil yang mewabahkan malaria di tanah jawa sekarang, tak terkecuali kepada mereka yang bekerja di depanku. Malaria telah membuat malam hari macam penentuan siapa yang hidup dan siapa yang mati, oleh seekor nyamuk.

Katanya, sekarang adalah bulan pasa dan bagi yang beragama Islam harus tidak makan dan minum seharian penuh, tak peduli entah dia tengah bekerja berat atau tengah dijangkiti malaria—seperti para pekerja yang aku awasi sekarang ini yang kulihat tubuhnya tinggal kulit melekat pada tulang belaka.

Aku teguk lagi anggur untuk membasahi tenggorokanku, tiba-tiba tak seberapa jauh dariku seorang pekerja roboh. Para pekerja lain mendekatinya, barangkali ingin menolong. Aku pun mendekatinya, seketika rubungan pekerja yang mengelilingi orang yang roboh tadi pecah kala aku sudah ada di tengah mereka.

Aku lihat dengan berdiri, tubuh-tak-berdaging orang itu menggelepar di tanah kering yang membuat sebagian tubuhnya yang bertelanjang dada dibaluti debu, sementara sebagian tubuh yang lain mengkilat lantaran sinat matahari yang menyiram kulit sawo matang berkeringatnya. Kedua bibirnya bergetaran dan sepasang matanya melihatku seorang, barangkali ingin meminta tolong karena mereka yang berada disampingku tak mungkin menggerakan diri mereka tanpa perintahku.

Namun sepasang mata itu sudah tertutup, tubuhnya diam, begitu juga aku dan para pekerja. Kataku, “Kowe bertiga tempatkan dia di sebelah sana.” , aku menunjukan pada sebuah pohon besar, “Setelah itu lanjutkan pekerjaan kalian!” Dan tiga orang di antara mereka pun mengangkat pekerja yang sudah jadi bangkai itu ke bawah pohon besar yang aku tunjuki.

Pohon itu bersandingan tepat dengan sebuah padang rumput cukup luas, yang, tadinya adalah rumah Diponegoro. Sekarang rumah pemantik perang lima tahun itu hanya tempat ternak merumput belaka. Malaria dan puasa telah melemahkan para pekerja, beberapa pekerja lain aku lihat tubuhnya bergetaran dan berkeringat.

Kowe semua puasa?” tanyaku, dan dijawab anggukan enggan, toh sebenarnya aku pun enggan bertanya. Dan sebenarnya pula aku enggan peduli! Entah mengapa, rendahnya pikiran dan diri mereka telah buatku tak dapat lihat mereka sebagai manusia yang utuh, saat masih di Nederland pun oleh seorang yang baru pulang dari Hindia ini berkata, “Mereka sebatas seperempat manusia.” Sekarang aku melihatnya sendiri, dan aku tak sangkal secuilpun pendapatnya.

Mereka kembali pada pekerjaannya masing-masing, tentang puasa pernah aku berbincang sedikit dengan seorang Bupati yang taat beragama—kalau tak dikatakan fanatik, “Saat berpuasa, kami diwajibkan menahan segala hal; makan, minum, syahwat serta angkara murka.”

Untuk kesekian kalinya aku meneguk anggur, ternyata telah habis. Untuk kulit putih macam aku ini sungguh menyiksa untuk terus-menerus dipanggang sinar matahari. Aku seka keringat dari keningku dan bersamaan dengan itu berlarian seorang anak kecil seumuran sembilan tahun dari arah barat menuju ke salah satu pekerja.

Bocah itu kurus menyedihkan dengan perutnya yang buncit, entah apa yang bocah itu ingini dari orangtuanya namun ulahnya mengganggu pekerjaan. Ini tak dapat dibiarkan atau aku harus bersiap buat kena damprat atasan.

“Hei! Suruh anakmu pulang!” Perintahku sembari mengacungkan tangan dan mendekati mereka. Pekerja itu menatap anaknya dan mengangguk panik—mengangguki apa yang jadi perintahku, dan anak itu tak gubris. Barangkali anak itu dengan segala kebodohannya belum ditelan keagungan Nederland yang kuasa semua yang ada di hindia ini, termasuk bocah yang satu ini.

“Aku bilang! Suruh anakmu pulang!” Raungku tepat di depan pekerja itu. Lalu pekerja yang tubuhnya bergetaran dan sepertinya tengah demam itu membisikan sesuatu pada anaknya. Terlalu lama. Baik, biar aku yang buat anak itu pulang. Aku tarik anak itu dari pelukan ayahnya lalu kulemparkan. Seketika anak itu menangis, hanya menangis bukannya lari dan pulang.

“Pulang!” Bentakku, aku sedikit pusing dan kelakuan anak yang hanya menangis ini menambahinya. Akhirnya aku berjalan cepat menuju anak itu dan menendangnya, tepat di perut. Seketika anak itu diam, tangisnya, juga geraknya. Aku terengah-engah, dalam sekejap pekerja itu menghampiri anaknya yang tengah diam seakan beku, lekas memeriksa dan memelukinya.

Segalanya diam, para pekerja lain hanya melihat, kupalingkan wajah dan angin kering yang aku rasai sedari tadi berhembus kini hilang seakan dirampas, maka pepohonan dan rerumputan seketika berhenti dari ayunannya, bahkan debu yang ringan itu sekarang melesak ke bumi seakan seberat buah kelapa.

Aku hadapkan lagi wajahku pada ayah dan anak itu, dan kini aku lihat anak itu sudah sendiri lagi, menggelepar di tanah pemantik perlawanan ini. Namun yang buatku terkejut adalah pekerja yang kini berjalan cepat mendekatiku dengan sebilah cangkul. Merasakan adanya bahaya, buru-buru aku tarik pistol dari sarungnya.

Belum sempat kuacungkan pistol ini tapi punggung cangkul pekerja itu aku lihat mengelebat cepat kearah wajahku, tepat menghantam dagu. Seakan tengah ada petir tengah menyambar di dalam leherku, tanpa daya tubuhku terhuyung kebelakang dan terjatuh. Aku tak dapat rasakan tenggorokan, lidah juga gigiku, barangkali daguku lepas dari engselnya.

Pekerja itu melihatku yang kesakitan ini dengan tatapan kosong tanpa makna. Hanya sebentar dia melihatku dan kini dia berjalan menuju anaknya, menggendongnya dan lekas berjalan perlahan kearah timur, ke arah kantor pengawas. Aku jadi ingat bahwa pernah ada seorang pengawas sepertiku yang tewas dibunuh pekerjanya dan pekerja yang pembunuh itu lekas menyerahkan dirinya sendiri kepada kantor pengawas, untuk selanjutnya digantung. Apapun alasannya, membunuh kulit putih adalah kejahatan tak terampuni,

Nafasku memendek seakan hanya sampai di hidung saja. Di detik-detik terakhir ini seketika aku ingat lanjutan perbincanganku dengan bupati itu tentang puasa. “Dari guruku yang Eropa aku tahu bahwa Nabimu beserta pasukannya pernah berperang saat puasa. Tadi kau bilang saat puasa harus menahan amarah, lantas mengapa Nabimu dan pasukannya membunuh?” tanyaku.

Bupati itu tersenyum kecil, “Tuan, kala perang itu, yang dibinasakan oleh Nabiku beserta pasukannya tak lain adalah amarah itu sendiri.”