Rinai hujan baru saja datang. Menggodaku untuk sekedar membasahi telapak kaki. Menjejak tanpa sandal atau bahkan sepatu. 

   Sudah lama tempat ini tak kusinggahi. Sudut kebun dengan pepohonan pisang yang rimbun. Kulihat beberapa tandan telah ranum. Terjerat belukar yang meliuk menggamit batang semu. 

   "Banyak nyamuk, Cin. Pulanglah, biar  Ibu yang melanjutkan pekerjaan itu," ucap Ibu saat melihatku menarik-narik pelepah pisang yang telah kering. 

    Aku menggeleng. Senyum manis mengembang dari sudut bibirku yang memucat. Jujur. Sebenarnya aku enggan untuk kembali bermain dengan sabit yang tajam. 

   Gemerlap kota dengan lampu berwarna warni , memantul dari gedung pencakar langit, telah lama melupakanku pada tanah  kelahiranku. Aku bahkan sering merasa sangat terpaksa untuk pulang ke desa. 

   Jika bukan karena ibu yang merindukanku, mungkin aku lebih memilih tetap tinggal di kota. Tetapi kali ini aku sangat rindu dengan kebun pisang itu. 

   Bayangan masa kecil menari-nari di pelupuk mataku. Masih kuingat dengan jelas, saat aku dan teman-temanku bermain di bawah pohon pisang. 

   "Ambilkan daunnya, Cin. Aku yang jadi penjualnya!" teriak Lastri, sahabat masa kecilku. 

   "Iya. Tunggu sebentar ya, aku masih memotong batangnya!"   teriakku dari balik pohon yang telah tumbang. 

    Saat itu Lastri menungguku bersama dua teman lainnya. Menata lapak-lapak pasar tradisional yang kami ciptakan. 

    "Daunnya kuletakkan di pagar. Aku juga jualan ya? Nanti kita gantian belinya," ucapku kepada Lastri. 

   Ia pun setuju dengan usulanku. Bergegas kami menyiapkan dagangan masing-masing. Beberapa lembar batang pisang yang sudah kupilih, kuiris tipis berbentuk segi empat. Lalu kutumpuk di atas batu bata. Menyerupai tempe yang di tata dengan apik di pasar tempat ibuku berbelanja. 

   Lastri duduk agak jauh dariku. Dia terlihat menumbuk beberapa potong kulit kayu dan mencampurnya dengan air. Rupanya ia sedang membuat sambal untuk menu kerupuk pecel miliknya. 

   Aku belum berhenti menyiapkan daganganku. Kulanjutkan dengan mengiris jantung pisang berwarna merah. Bentuk kotak dengan ukuran lebih lebar, sebagai pengganti daging di lapak buatanku. 

   **

   "Cin, pulanglah. Biarkan Ibu sendiri. Nanti kamu lelah," pinta ibu lebih mengkhawatirkan diriku. 

   Aku tersadar dari lamunanku. Kembali dengan senyuman kusambut perkataan ibu. Kulangkahkan kaki mendekatinya. Terlihat keriput di pipinya melukiskan ibu telah memasuki usia senja. 

   "Biarkan Cinta di sini, Bu. Cinta rindu dengan kebun pisang seperti dulu," ucapku lalu duduk. 

    Ibu berhenti membersihkan pelepah pisang yang telah kering. Beberapa masih berserak di antara pohon yang telah membusuk. Bau amis sisa gerimis, berpadu dengan aroma dahan-dahan yang terbungkus lumut dan tumbuhan paku. 

   Ia menatapku dengan netranya yang tak lagi bening. Warna kecoklatan dan sedikit buram terkadang mengganggu penglihatan ibu beberapa bulan terakhir. 

    Kami berbincang. Mengenang masa kecil saat ayah masih di sisi kami. Kebun yang tak terlalu luas itu tak pernah lepas dari perawatan ayah. 

   Beberapa pohon buah pun seringkali mengabdikan diri. Meruntuhkan berpuluh buah dan menukar dengan berjuta rupiah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk biaya sekolah hingga aku selesai kuliah. 

   Namun waktu semakin beringsut meninggalkanku. Kebun pisang yang dulu rimbun tetiba tersapu penyakit yang tak diketahui dari mana berasal. Dedaunan hijau menggulung menyimpan ulat yang meringkuk. Bahkan beberapa tandan tak pernah lagi menua seperti biasanya. 

    Ayah dan ibu sangat sedih. Kebun miliknya tak lagi dapat menjadi sumber penghasilan. Buah-buah pisang pun beracun, tak boleh lagi dimakan. 

   Beberapa orang tetangga berama-ramai menebangnya. Ada yang mengubur dan bahkan membakarnya. Kebun pisang tempatku bermain berubah menjadi lautan api. 

    Aku hanya mampu tertegun. Tak ada kata yang terucap. Buliran bening perlahan turun, jatuh membasahi pipiku yang memucat. 

   "Sudahlah, Ma. Memang kebun sudah rusak," ucap suamiku berusaha menghiburku. 

   "Bukan masalah rusaknya, Mas. Tetapi..., " aku terdiam dalam kebekuan. 

     Mulutku terkunci. Tak ada lagi alasan yang akan kuucapkan. Suamiku tak akan pernah tahu betapa kenangan masa kecil itu menari-nari dalam anganku. 

   Ia meraih bahuku. Mengajakku pulang ke rumah ibu. Ibu pun terlihat sangat sedih. Tak ada lagi beberapa sisir pisang hasil panen dari kebun. Tak ada lagi kebahagiaan saat memberiku oleh-oleh untuk kubawa ke kota. 

  "Apa kata tetanggamu, Nduk. Kamu ke kota tidak bawa apa-apa," keluh ibuku saat menatap bagasi mobilku yang masih kosong. 

   "Nggak apa-apa, Bu. Nanti aku belikan saja di pasar. Iya kan, Mas?" kulirik suamiku yang berdiri di sisi ibu. 

    "Iya, Bu. Nggak apa-apa. Memang kebunnya tidak panen," hiburnya seraya merangkul ibu. 

      Aku pun pamit untuk kesekian kalinya. Tanpa membawa pisang hasil panen kebun sendiri. Hingga setahun berlalu dan berganti ke tahun berikutnya. Aku tak lagi punya waktu untuk menjenguk ibu. Banyak alasan untuk membuatku tak bisa pulang. 

    **

    "Cinta lagi sibuk dengan pekerjaan, Bu. Mungkin minggu depan baru bisa pulang," ucapku menjawab pertanyaan ibu. 

   Lalu kuletakkan gawai di meja tanpa menunggu jawaban dari ibu. Terjadi berkali-kali dan aku sadar telah lama mengabaikan ibu karena kesibukan pekerjaanku. 

    Bulan berlalu. Tahun berganti. Kebun pisang itu telah pulih kembali. Penyakit tanaman telah menyingkir dari desa tempat aku dilahirkan. Namun aku tetap tak bisa pulang untuk sekedar menikmati hasil panen kebun ibuku. 

   Ayahku telah lama tiada sejak kebun pisang itu tertimbun abu sisa pembakaran. Bukan karena kesedihan kehilangan kebun, tetapi karena kehilangan diriku beberapa lama. 

    Suatu hari ibu bercerita. Ayah sangat rindu kepadaku saat dalam sakitnya. Lalu ibu menelfonku. Tetapi aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. 

   Ibu tak tega memberitahu jika ayah sakit dan memintaku pulang. Ayah rindu berkebun bersamaku, memetik buah pisang, kemudian memintaku menggorengnya. 

    Kami lalu duduk bersama. Bercerita di teras sambil menikmati pisang goreng yang masih panas. Ibu seringkali menyibukkan diri. Lalu lalang membuatkan kopi dan menata meja makan.

     ***

     "Bu, maafkan aku ya," pintaku kepada ibu. 

      Buliran bening membasahi pipinya. Ibu mengangguk dalam diam. Kembali melangkah meraih pelepah-pelepah yang menggantung pasrah. 

     Rambutnya telah memutih. Bahkan tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Tetapi ia tak pernah lelah untuk selalu membuatku bahagia. 

    "Panggil suamimu, Cin.. Biar mengangkat setandan pisang di sudut kebun itu. Ibu sudah tidak kuat sekarang," ucap Ibu dengan suaranya yang melemah. 

    Akupun mengangguk mengiyakan. Segera kupanggil suamiku yang masih sibuk memainkan gawainya. 

    "Nanti jika kamu balik ke kota, bawa semua pisangnya. Bagikan kepada para tetangga," pinta Ibu. 

    "Iya, Bu. Siap," kata suamiku. 

      Kebun pisang yang penuh kenangan kini telah tertimbun belukar. Ibu semakin senja. Setiap hari melalui kehidupan dalam sunyi yang mencekam. 

     "Kapan kamu balik ke kota, Cin?" tanya Ibu kepadaku. 

    "Aku tidak balik ke kota, Bu. Aku tetap di sini menemani Ibu, "  ucapku meyakinkannya. 

    "Lalu suamimu?" tanya Ibu ragu. 

    "Biar balik ke kota mengantarkan pisang, besok balik ke sini lagi," jawabku. 

     "Memangnya suamimu tidak bekerja? Kok bolak balik," lanjut Ibu. 

      Kami pun tersenyum sambil memeluk Ibu. Menjelaskan jika kami memutuskan pulang ke desa. Pekerjaan di kota telah purna. Biarlah berganti dengan generasi muda yang lebih cerdas dan kompeten di bidangnya. 

    Usia kami pun tak lagi muda. Biarlah kembali menikmati hari tua di desa. Hidup di rumah sederhana dengan kebun pisang yang rindang. Mengisi hari dengan membersihkan belukar yang menggamit batang. 

   Desa bukanlah tempat tercela. Tetapi desa tempat kembali untuk memulai hidup tanpa gemerlap lampu dan polusi yang menusuk nyeri. 

Nganjuk, Januari 2021