Aku terbangun oleh hangatnya sinar mentari pagi yang menembus jendela kamarku. Aku segera bangkit dari tempat tidurku. Kupandang kalender di sebelah foto kedua orang tuaku saat mereka menikah. Sebuah lingkaran menandai  hari ini, tanggal 14 Februari.

Pada tanggal inilah, dua puluh tahun lalu, Mamaku berpulang ke rumah Bapa Surgawi. Tak seperti anak-anak lain yang bertumbuh dalam dekapan kasih ibu, aku tak pernah satu detik pun merasakan hangatnya dekapan kasih Mama. Mama meninggal saat melahirkanku, putri tunggalnya.

Ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunanku. “Santi, sudah bangun?” tanya Papaku dari balik pintu. “Sudah, Pa”, sahutku. “Jangan lupa masukkan bunga tabur ke bagasi mobil, ya. Kita berangkat satu jam lagi.”

***

Dengan mobil sedan tua, kami berangkat ke sebuah pemakaman di luar kota Salatiga. Letaknya di kaki sebuah bukit di daerah wisata Kopeng. Dari daerah itulah Mama berasal.

“Mamamu dulu kembang desa. Cantik sepertimu. Kami pertama berjumpa saat ada kemah mahasiswa di desa asal Mamamu. Saat itu Papa jadi ketua mahasiswa yang harus mengurus izin ke kepala desa. Waktu itu hujan deras. Papa naik motor dari Semarang. Boncengan dengan teman yang badannya lumayan gemuk. Beberapa meter dari rumah Pak Kades, ada turunan tajam. Namanya jalan kampung, penuh lumpur kalau hujan. Papa lambat mengerem. Motor oleng di jalan berlumpur itu. Akhirnya kami berdua nabrak pohon pisang di depan rumah Pak Kades. Luka sih nggak serius, tapi baju kami belepotan lumpur.

Begitu mendengar suara tabrakan, Pak Kades dan putrinya keluar rumah. Duh, malu benar Papa waktu itu. Ganteng tapi penampilan seperti kerbau.  Pak Kades dan putrinya mempersilahkan kami masuk rumah. 

Kami diberi kaos ganti. Lalu putri Pak Kades menyajikan pisang goreng dan teh hangat. Saat itulah Papa kenalan dengannya. “Saya Lestari,” kata Mamamu saat itu sembari tersenyum. Dan senyum lesung pipit itu yang membuat Papamu terpesona,” kisah Papaku dalam perjalanan ke pusara Mama.

Entah sudah berapa kali aku mendengar kisah yang sama setiap kali Papa mengajakku ke Kopeng. Anehnya, Papa tak pernah menceritakan mengapa Mama meninggal dua puluh tahun silam. 

Aku hanya menduga, Mama meninggal karena suatu penyakit yang telah ia derita sebelum ia melahirkanku. Kenangan pahit tentang perginya Mama waktu itu tentu tak ingin Papaku kenang. 

Meski begitu, Papa selalu mengisahkan nostalgia tentang Mama dengan penuh semangat. Gambarannya tentang perjumpaan pertama dengan Mama terasa begitu segar.

***

Mobil berhenti di kaki bukit. Kami berdua bergegas turun.  Sebuah jalan setapak dengan pohon pinus di kanan-kirinya mengantar kami ke pusara Mama.

Begitu tiba di depan pusara Mama, Papaku berkata, “Santi, ada satu hal yang belum pernah Papa ceritakan padamu.” Aku terdiam sejenak. “Tentang apa, Pa?” selidikku. “Tentang saat-saat terakhir sebelum Mamamu meninggal. Papa pikir, saat ini saat paling tepat untuk memberitahumu tentang apa yang sebenarnya terjadi dua puluh tahun lalu.” Papaku menghela nafas. 

“Saat mengandungmu, Mamamu sebenarnya menderita suatu penyakit serius yang menyerang rahimnya. Dokter mengatakan bahwa sangat sulit menyelamatkan Mamamu dan kamu yang saat itu dalam kandungan. Pilihannya adalah menyelamatkan salah satu: Mamamu atau kamu. 

Begitu mendengar perkataan dokter itu, Papa dan Mamamu menangis. Kami tak mengira bahwa rasa nyeri yang Mamamu rasakan adalah gejala awal dari penyakit itu.” Papa menghentikan sejenak kisahnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sehari sebelum persalinan, dokter datang menemui kami berdua. Ia bertanya, apa pilihan yang kami putuskan. Mamamu dengan berlinang air mata berkata, ”Dokter, tolong selamatkan bayi saya. Dokter tidak perlu merasa bersalah kalau  memang akhirnya saya tidak bisa bertahan hidup,” tutur Papaku.

Papaku kembali menghela nafas panjang sebelum meneruskan ceritanya. "Papa sengaja tak mengisahkan ini semua karena menunggumu tumbuh dewasa. Papa tak ingin menceritakan ini padamu di tahun-tahun yang telah lalu karena Papa cemas, kamu akan justru merasa ikut bersalah atas kematian Mamamu," ujar Papaku dengan suara bergetar haru.

Mendengar penuturan Papaku, aku tertegun. Kupandang batu nisan Mamaku. Maria Lestari. Nama yang bersahaja. Namun di balik nama itu, ada sesosok wanita yang tangguh. 

Hari ini, di depan pusara Mama, aku berlutut. Aku larut dalam doa. “Terima kasih, ya Bapa. Engkau memberiku seorang Mama yang telah rela mengorbankan dirinya untukku. Tambahkanlah kebahagiaan Mamaku di sisi-Mu. Aku berjanji untuk jadi pribadi yang rela berkorban seperti Mamaku.”

Angin sepoi-sepoi bertiup dari sela-sela pepohonan pinus di sekitar pemakaman itu. Entah dari mana, aku mencium aroma harum semerbak bunga. Yang jelas, aroma itu bukan dari bunga tabur yang kami bawa. 

Sejenak kupandang sekeliling pusara Mama. Tiada bunga yang tumbuh. Aku tersenyum bahagia. Aku percaya, doaku didengar oleh Bapa Surgawi. Aku yakin, Mamaku saat ini sedang tersenyum bahagia memandang Papa dan aku yang berdoa di depan pusaranya.

Roma-Aquila, senja 2018