Diriku dan dirimu
Sebatas penonton
Yang termangu dijejali babak tiada akhir
Tentang pertarungan demi pertarungan menguasai kebenaran
nan erangan-erangan berlapis kegetiran
antara manusia yang butuh dimanusiakan
dan tentang manusia yang menodai perikemanusiaan

Adegan demi adegan
Tertonton mata, ditelan bulat olehnya
Namun siapa yang bisa menjamin bahwa mataku dan matamu lantas melihat?
Sebab menonton itu urusan layar, urusan permukaan, kepuasan!
Sedang maksud yang terdalam ditutup rapi yang melakoni
Tak untuk diklarifikasi
Begitu sulit terlihat mata hati!

Dirimu dan diriku
hanyalah pemirsa
yang bukan main banyak omongnya!
Lirihkan kata dan tajamkan telinga
Bukankah pertarungan itu lebih sunyi dari pekikan suara kita sendiri?

Pengamat
itulah kita
Menyisiri tiap-tiap keriput yang menua
mengendap-endap curiga pada mulut-mulut garang nan rapat terkunci
berdesir pilu kala tatapan-tatapan nanar mengajak bersua
Ngos-ngosan berlari di depan masa
Yang kelak berujung beragam tanya

Kamu dan aku
Adakah yang lebih menyiksa semacam sepi dan tak berarti?
Adakah yang lebih tersiksa dari menerka-nerka sampai waktu terhenti?
Siapakah yang relatif benar dan mutlak berdosa?
Di antara mereka yang terkungkung drama?
Sebab satu pun kita tak pernah jadi saksi
Hingga di persimpangan kini,
seluruhnya kita berdiri
(dengan atau tanpa naluri)!