Tubuhnya ringkih, ia berjalan gontai menyusuri setiap sudut kota. Berkelok-kelok ke setiap gang. Seminggu lalu ia masih bisa menjualnya. Kini tak ada orang yang berminat membelinya. Dari jauh orang-orang yang berada di teras rumah segera masuk dan mengunci pintu. Mengetahui hal itu, ia hanya mengelus dada, menarik napas lebih panjang, dan tetap berjalan melalui gang yang dilaluinya.

Tak ada alasan yang bisa menahanku untuk terus percara kepada-Nya. Pikirnya setiap kali ia mengalami nasib demikian. Cukup banyak dalil yang bisa ia gunakan untuk membantah keagungannya. Pengalaman hidup membawanya kepada suatu pemahaman demikian. Bukan tidak mungkin itu pun yang Dia kehendaki.

“Dunia tak adil. Semua orang bersekongkol menjegal hidupku,” gumamnya. Bahkan itu terjadi sejak awal, di saat dirinya masuk ke dalam benih yang di tanam di sembarang tempat.

Sejak di kandungan, ibunya tak sudi membiarkan dirinya keluar. “Kau tak seharusnya tumbuh di rahimku, terimalah obat-obatan ini.” Mengetahui janin yang ada di kandungannya semakin membesar ia mencoba memukul-mukul perutnya, menyebabkan goncangan yang begitu dahsyat di dalamnya.

“Kau akan tetap aman selama ada kami di sini,” salah satu temannya berkata demikian. Mereka lebih dulu berada di dalam sana. Sejak benih itu masuk dan tertanam, mereka sudah berada di tempat itu. “Kehadiran kami tak lain untuk menyambut dan melindungimu selama berada di sini.”

Di waktu-waktu seperti itu memang rawan bagi seseorang untuk tinggal di ruang sempit yang hanya dibatasi oleh cairan putih dan satu alat penghubung. Setiap benih yang tumbuh di dalamnya pasti mendapat bantuan dan perlindungan dari mereka. “Aku akan selalu menemanimu sampai tiba saatnya kau keluar.” Ia begitu terharu, belum pernah ia mendapat kata-kata seperti itu, bahkan dari ibunya sendiri.

Setiap malam ia pasti berada di luar. Memandang langit, melihat teman-temannya berlompatan dari satu bintang ke bintang lain. “Hai, kalian. Apa kabar?” Ia bertanya setiap kali ia berbaring di tanah dan menatap langit di atasnya.

Sejak ia berhasil keluar dari ruangan sempit itu, teman-temannya kembali ke langit. Mereka akan menjalani proses pemulihan terlebih dahulu, sebelum kembali bertugas melindungi benih-benih lain. Selama hampir sembilan bulan berada di ruang sempit bersamanya, mereka begitu berjibaku menahan setiap racun dan goncangan yang datang. “Kini tugasku sudah selesai, kini semuanya menjadi tanggung jawabmu. Semoga kau senantiasa kuat dalam menjalaninya.”

Kepalanya terbentur lantai kamar mandi. Ibunya pingsan seketika.

Ia tumbuh sebagai cucu, bukan sebagai anak. Sang nenek yang merawatnya sejak lahir. Ibunya pergi dan tak pernah kembali saat ia bangun dari pingsannya. Tubuhnya tidak tumbuh normal seperti anak-anak pada umumnya, air susu ibu tidak hadir di kehidupan awalnya. Sang nenek pontang-panting mencari air susu. Setiap tetangga dimintanya untuk menghibahkan, beberapa menolak, beberapa bersedia. Tapi itu tak cukup memenuhi nutrisi pertumbuhannya.

“Gorengannya, Pak. Gorengannya, Bu.” Setiap hari ia berkeliling menjual gorengan milik tetangganya. Jika sedang mujur, ia akan bulak-balik mengambil gorengan.

Aku benci ibuku. Aku benci ayahku. Jika saja ibunya tidak menjadi penjaja hasrat, juga ayahnya bukan seorang yang gemar jajan di luar. Mungkin dirinya tidak akan pernah lahir ke dunia. Jikalau harus lahir pun ia lebih memilih lahir dari ibu dan ayah yang lain. Yang menanam dan membesarkannya dengan penuh cinta. Bukan karena berahi semata.

“Ibumu adalah seorang penjaja hasrat, setiap malam ia pergi ke rumah kalong dan membuka selangkangannya.. Ayahmu juga adalah seorang pemburu. Mungkin bukan hanya dirimu yang berasal dari benihnya. Anak-anak yang lahir dari para wanita penjaja hasrat mungkin juga berasal dari benih ayahmu.” Neneknya bercerita. Ia begitu menyesal mendengarnya. Ia benci mengapa neneknya berkata demikian. “Kau harus tau yang sebenarnya, jangan sampai kau mengetahuinya dari orang lain, itu akan semakin menyakiti hatimu.”

Kemiskinan tetap menjadi teman hidupnya. Ia lebih setia dibanding teman-temannya yang dulu melindunginya. Mereka ada saatnya pergi dan lepas dari dirinya. Kemiskinan tidak. Ia tetap melekat dalam dirinya, bahkan menggerogoti tubuh ringkihnya.

“Kau jangan muluk-muluk menyalahkan Tuhan atas kondisimu,” temannya berkata. “Nasibmu berada digenggamanmu. Sama seperti saat kau mengeluarkan diri, itu karena dirimu yang memutuskan untuk keluar lebih awal.”

“Kini kau berubah, tak ubahnya mereka yang setiap saat masuk ke rumah, saat aku ingin menghampirinya. Pergi dari sini! Jangan pernah kembali!”

 “Tak pernah sekali pun kau memujinya, mengingatnya, apalagi untuk menyebut namanya. Kau terlalu sibuk memikirkan kehidupan orang lain, dan membandingkannya dengan kehidupanmu.”

“Untuk apa kau datang lagi ke sini. Jangan berlagak seperti orang alim.”

Suatu malam, ia bersama kawannya datang ke rumah judi. Ditatapnya masa depan cemerlang. Dengan uang yang berlimpah dan wanita yang mengelilinginya.

Kedatangan pertamanya ia hanya mengamati apa yang dilakukan temannya. Tak sulit, ia hanya perlu duduk dan melihat tumpukan kartu di meja. Saat itu, seorang wanita pasti berada di pangkuannya selama permainan berlangsung.

Kedatangan berikutnya ia ikut duduk bersama temannya dan dua orang lain. Seperti yang sudah ia amati, begitu permainan di mulai seorang wanita menghampirinya dan duduk di pangkuannya. Beberapa kali ia menang, tapi beberapa kali juga ia kalah. Uang yang ia bawa tidak bertambah banyak, malah berkurang setelah membayar minum dan puas tidur dengan wanita di pangkuannya.

Beginikah yang dulu ayahku lakukan? Duduk berjudi kemudian masuk kamar dan memuncratkan hasratnya. Beginikah yang dulu ibuku lakukan? Duduk di pangkuan orang kemudian masuk kamar dan membuka selangkangannya. Ia berpikir begitu setelah beberapa kali datang ke tempat tersebut. Kini ia harus melihat rumah yang diwariskan neneknya hilang. Judi membawanya kepada hutang yang menggunung. Kehidupan malam membawa petaka baginya. Kenikmatan yang ia dapat setiap malam harus dibayar tuntas dengan lebih mahal.

“Kerupuknya, Pak, Bu.” Teriaknya beberapa meter dari tempat orang-orang berkumpul. Suaranya yang begitu parau dan lemah tidak berhasil membuat mereka berniat membeli dagangannya. Yang terjadi justru mereka membubarkan diri, masuk ke rumahnya, menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.

Kerupuk yang ia jajakan sudah begitu buruk kondisinya. Warnanya mulai menghitam, beberapa diantaranya bahkan sudah lembek. Sudah hampir seminggu sejak ia mengambil kerupuk baru dari produsen. Itu pun harus dikurangi sebab sebelumnya ia hanya bisa menjual sedikit kerupuk dari yang ia bawa.

“Pak, niat jualan ga sih? Yang bener dong masa kerupuk busuk begini masih di jual.” Seorang lelaki yang ditawarinya berkata demikian.

Nenekku benar saat itu. Orang-orang akan lebih menyakitiku suatu saat nanti, pikirnya.

“Kau sama busuknya dengan kerupuk ini. Busuk seperti ibu dan ayahku, yang tak mau mengurusi hidupku. Busuk seperti orang-orang di tempat judi. Busuk seperti orang-orang yang menolak daganganku. Apalagi yang akan kau bicarakan denganku? Yang kau lakukan untuk membantu dan melindungiku adalah omong kosong. Jika seperti ini akhirnya, lebih baik sejak awal aku mati, sejak ibuku meminum obat-obatan untuk melenyapkan keberadaanku.”

Orang-orang berkerumun di suatu lapangan. Mereka membentuk lingkaran melihat seorang laki-laki senja yang mati telentang menatap langit, di suatu malam,  di antara kembang api yang beterbangan.