Panas masih terik di daerah pesisir pantai. Di sisi lain aroma amis khas ikan basah akan membuat hidung siapa pun terasa tidak nyaman. Tapi apa mau dikata, jika hanya tersedia kondisi tersebut yang dapat memberi pemasukan bagi kelangsungan hidup rakyat miskin.

Mungkin, bagi sebagian orang yang datang bau tak sedap ini dapat membuat mual, menutup hidung, dan segera memilih pergi tanpa pernah kembali ke lokasi yang cukup kumuh dan sesungguhnya tak layak menjadi tempat tinggal, bahkan untuk hunian segerombolan manusia yang disebut keluarga tak sejahtera.

Ya, di negeri yang puluhan tahun merdeka, di negeri dengan predikat tanah surga, di negeri yang terlalu berlimpah kekayaan alam hingga menjadikan rakyatnya tak mampu mengolahnya dengan tenaga sendiri.

Namun, sungguh menggelikan, karena di bagian yang lain dari negeri ini orang-orang masih harus bergulat dengan tumpukan sampah yang tak menyehatkan. Atau, seperti pemandangan di sepanjang rumah nelayan di pesisir pantai yang mengeluarkan aroma tak sedap dari ikan basah serta ikan asin yang dijemur di depan rumah penduduk. Mungkin ada yang berpikir itulah pekerjaan mereka, jadi sudah sepantasnya mereka hidup demikian.

Bukankah orang yang berteman dengan penjual parfum akan beraroma harum, sementara orang yang bergaul dengan nelayan akan beraroma amis ikan?

Apa kabar mereka, anak-anak ingusan yang melakukan survei tentang kehidupan keluarga nelayan beberapa waktu lalu? Bagiku, mereka hanyalah anak ingusan yang menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah untuk menghabiskan uang rakyat. Kepanjangan tangan dari pemerintah untuk menutupi korupsi pejabat besar di balik proyek survei.

Buktinya, berkali-kali diadakan survei, berkali-kali menjadi objek penelitian, kehidupan keluarga nelayan tetaplah begini-begini saja. Tak ada perubahan, tidur kami masih beraromakan ikan asin yang menyesakkan, siang kami semakin menyeramkan ketimbang malam mencekam di mana pun, dan kepala kami semakin cepat pusing manakala mendengar rengekan anak meminta dikawinkan padahal masih duduk di bangku SMP.

Padahal masa depan mereka seharusnya lebih baik dari bapak dan mamaknya. Padahal seharusnya si anak sekolah hingga jenjang SMA dan bekerja di tempat yang lebih baik.

Aku sudah mulai muak dengan kehidupan yang begitu-begitu saja setiap hari. Hari ini, kehidupan bisa menjadi mewah manakala tangkapan ikan dapat dijual mahal. Sementara esok, kehidupan bisa menjadi miskin sejadi-jadinya manakala tak ada ikan yang bisa dijual.

Menjadi bagian dari keluarga nelayan sejak kecil, rasanya menjadikan aku ingin secepatnya keluar dari pasung kehidupan keluarga nelayan yang cukup menyengsarakan, tak hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial masyarakat.

Meski awalnya selalu menjadi objek kajian yang jujur manakala mengisi survei, tapi lambat laun si petugas survei juga harus tahu memilah mana yang benar, mana yang tidak. Akhirnya sejalan waktu, objek kajian pun harus lebih pandai dalam menyikapi survei, harus pandai-pandai menjawab pertanyaan dari anak ingusan yang tak mengerti tentang kehidupan.

Terserah, apa pun jawaban yang kuberikan, yang kutahu mereka sudah memiliki cerita akhir yang lebih menarik dan lebih bombastis dibanding dengan jawaban jujurku. Tapi, terkadang muncul perasaan sesal dalam diriku. Mungkinkah setiap kebijakan dari pemerintah yang kini terasa semakin memberatkan tetanggaku adalah buah dari rekaanku yang terlalu melebih-lebihkan jawab saat ada survei beberapa waktu lalu?