Pasca debat capres 17 Januari lalu, hampir semua hal dikuliti oleh pengamat dan netijen. Kecuali satu hal. Sarung yang dikenakan oleh Kiai Makruf. Beliau memakai sepatu dengan sarung. Sesuatu yang tampak lucu. Namun dibalik itu, terdapat rahasia dan makna yang bisa digali.

Sarung adalah identitias sebagai kaum santri. Pada saat yang hampir bersamaan, Nusron Wahid juga memakai sarung saat diundang CNN sebagai komentator tentang debat. Nusron Wahid salah satu politisi Golkar dan juga mantan ketua Ansor, tampak bangga dan merasa tidak risih menggunakan sarung di ruang publik.

Di balik sarung Kiai Ma’ruf tersimpan rahasia. Dengan berusaha menggunakan teori interaksionisme simbolik, sarung itu seakan ingin mempertegas karaktar keulamaan dari kiai Ma’ruf. Bagi saya, beliau sedang mengingatkan public, bahwa dalam denyut nadi rebublik ini, banyak darah syuhada dari ulama dan kaum santri yang gugur.

Sudah sepantasnya, dirinya sebagai ulama dan representasi santri terus melanjutkan perjuangan ulama dan santri dahulu. Kisah heroisme ulama dan santri laiknya tidak hanya selesai dengan peringatan hari santri atas resolusi jihad 23 Oktober 1945. Tetapi hingga kini, kaum ulama dan santri akan beperan untuk republik ini.

Sarung juga simbol dari demokrasi. Tahun 2008, terbit buku Sarung dan Demokrasi. Buku ini secara substansial ingin menyatakan bahwa dalam sarung terdapat kebebasan dan demokrasi. Orang yang memakai sarung sedang mengamalkan demokrasi. Ikatannya di perut dan longgar di bawah adalah filosofi dan menjunjung konstitusi dan merawat kebebasan di akar rumput.

Sarung adalah penegas dari jati diri dan identitas keindonesiaan. Sebagai ulama yang masih memiliki garis keturunan dengan Imam Nawawi, sarung itu adalah pelafalan dari karakter keislaman di Indonesia. Kiai Makruf tidak memakai jubah. Karena bukan Islam Arab. Ia bangga menggunakan sarung sebagai symbol dari keislaman yang digunakan oleh santri.

Terdapat suatu yang lucu, saat Gus Muwaffiq menarasikan dengan jernih dan mengena tentang kenapa orang Indonesia lebih senang memakai sarung daripada jubah. Karena orang Indonesia harus ke sawah. Di Arab hanya ada pasir. Menggunakan jubah tidak akan kotor. Sehingga sarunglah yang dipakai karena tuntutan harus ke sawah.

Selain itu, dengan menggunakan sarung, terlihat kepercayaan diri seorang Kiai Ma’ruf. Ketika hampir semua orang menggunakan celana dan atribut modern lain, Kiai Ma’ruf tetap setia dengan identitasnya. Menggunakan sarung, baju putih dan songkok nasional.

Yang dilakuakan oleh Kiai Ma’ruf adalah teladan penting untuk kaum santri di Indonesia. Santri harus percaya diri. Tentu saat saya masih mondok di pesantren lima tahun lalu, tidak akan memiliki kepercayaan diri sebagaimana Kiai Ma’ruf bilamana saya harus memakai sarung ke mall mall. Kiai Ma’ruf meneladankan kaum santri untuk percaya diri.

Di ruang ruang pesantren di Indonesia mulai terdapat keberanian untuk bercita cita menjadi presdien dan wakil presiden. Karena dalam bayangan dan mimpinya, terdapat contoh nyata tentang seorang ulama yang memiliki pengalaman kesantrian yang panjang, kini juga memiliki kesempatan untuk menjadi wakil presiden.

Dibalik sarung juga terdapat kesederhanaan. Seorang kiai yang dibesarkan dengan tradisi fikih yang kuat dan ruang politik yang lama tetap memiliki karakter sederhana. Kiai Ma’ruf tetap menjadi ikan ditengah laut yang asin. Ia tidak berubah. Sebagaimana mimpi para santri. Ia tidak harus berubah karena pencitraan. Kiai Ma’ruf tetap menjadi dirinya sendiri.

Dibalik sarung itu juga menegaskan dirinya memiliki pengetahuan tentang agama. Saat isu terorisme menjadi salah satu soal dalam debat pertama, yang mana terorisme dikaitkan dengan agama, kiai Ma’ruf adalah sosok yang tampaknya paling otoritatif dalam memahami agama dan mengerti tentang terorisme.

Hingga kini, isu membela agama adalah propaganda ampuh yang dilakukan oleh kelompok teroris untuk menghancurkan negara ini. Sebenarnya tidak hanya terorisme, radikalisme dan isu Sara adalah senjata yang digunakan oleh kelompok radikal untuk menggoncangkan negara.

Kita sama sama menelan pahit sejarah. Ketika seorang Ahok yang tangguh dalam membangun Jakarta, harus dikalahkan oleh Isu SARA. Tampaknya pilihan Joko Widodo terhadap Kiai Ma’ruf juga dalam rangka meredupkan nyala api isu agama. Buktinya kini benar benar terjadi. Isu agama redup bersamaan dengan tampilnya Kiai Ma’ruf.

Lepas dari itu, Kiai Ma’ruf memang memiliki sisi sisi yang layak untuk dikritik. Sebagai bagian dari ruang publik, setiap orang berhak melakukan kritik dan menerima kritik. Namun kritik harus dibedakan dengan cacian.

Saya miris dengan salah satu oknom politisi partai tertentu yang melakukan penghinaan Kiai Ma’ruf karena menggunakan sarung. Beberapa screenshot saya temui kerja buzzer politik untuk menjatuhkan Kiai Ma’ruf.

Oknum politisi dan buzzer itu sedang tidak mengerti, bahwa dibalik sarung Kiai Ma’ruf terdapat makna demokrasi. Sarung adalah simbol kepercayaan diri dan dengan sarung pula penegas identitas santri. Jangan pernah mengaku santri jika tidak pernah memakai sarung. Apalagi ngaku santri hanya untuk kepentingan meraup kekuasaan.

Sebagaimana dengan sarung terdapat narasi sejarah perjuangan para santri dan ulama dalam membangun negeri ini. Kiai Ma’ruf sedang melanjukan perjuangan. Jika kita mengaku santri, mendukung atau tidak itu merupakan hak pribadi. Tetapi seorang santri tidak akan pernah mencaci maki kiainya.