Pertarungan Budak Menjadi “tuhan”

Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia bergerak menuju penaklukan terbesar dalam sejarah. Puncaknya adalah pengambilalihan posisi dewa-dewi, dari Annunaki di Sumeria, Dewa Ra di Mesir Kuno, Zeus di Yunani, hingga Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan dari Suku Sunda.

Posisi dewa-dewi itu tidak seberuntung John Lennon dengan lagu “imagine”, karya solonya yang menempati karya fenomenal sepanjang sejarah. Tragis, nama Thor menjadi kisah lucu seorang dewa yang gagal membunuh Thanos, kolektor batu semesta, karena salah melempar Stormbreaker yang justru menancap ke dada.

Nama besar dewa-dewi di setiap peradaban dipertaruhkan ketika peradaban pengusungnya itu berada di ujung sejarah atau ketika terjadi evolusi konstruk pikiran manusia. Sedikit yang kemudian bertahan dan menjadi nama tokoh superhero fiktif. Terlepas goresan pena di kertas yang menyelamatkannya atau temuan artefak.

Dewa-dewi—bagi manusia—kini bisa dijadikan objek manipulatif realitas berbasis ekonomi yang menjadi box office di pemutaran perdananya di 2017, ya, Thor: Ragnarok.

Bukankah manusia makhluk yang hebat, benarkan?

Dulu, manusia adalah budak, bagi peperangan, kelaparan, dan wabah. Menjadi budak pula bagi para dewa yang pemarah, seperti diungkapkan Karen Armstrong dalam kisah Annunaki dan penciptaan, manusia adalah sang budak hybrid penambang emas. Sekarang pun, manusia adalah budak, bagi mesin mekanis berbahasa 0 dan 1.

Namun, di abad informasi, jalan spiritualitas, keyakinan fiksional, Tuhan, negara, rasa lapar, ketakutan akan wabah, dan ngerinya peperangan; Berkelok menjadi motivasi kesadaran untuk terbebas dari mimpi buruk. Caranya adalah dengan menguasai mimpi buruk itu.

Jalan penguasaan tersebut akan menjadikan manusia bangsa yang merdeka. Pada akhirnya, mereka mulai menggerogoti kuasa civitas dei (dunia ilahiah), mengambil alih civitas terrena (dunia bumi), dan meniadakan civitas diaboli (dunia bawah/setan). Sejak saat itulah, antara manusia dan batasan etis alam menjadi kabur.

Inilah budak, di persimpangan jalan, dari kumpulannya terbuang—bukan cuplikan puisi Chairil Anwar—melangkah lebar dan memproklamasikan kemerdekaannya. Seusai mengatasi rasa takut dan mengolah kesadarannya menjadi kekuatan. Mereka bergerak menjadi sang deus, yang berarti Tuhan (berasal dari bahasa Arab, Du).

Masuklah masa di mana manusia melakukan pengebirian terhadap realitas adikuasa.

Tapi, saya tidak akan pernah menulis “Tuhan”—dengan “T” kapital—bagi manusia yang ingin menjadi prior di antara superioritas makhluk hidup, atau setara Tuhan. Landasannya adalah manusia masih menjadi budak bagi kekuatan semesta. Sebenarnya, manusia hanya mendegradasi kekurangan dan kelemahannya saja.

Percaya ataukah tidak, kecongkakan manusia memaksakan deusisasi terhadap dirinya. Tetangganya, sesama penghuni bumi menjadi penonton yang hanya meratapi nasibnya. Muncul suatu pertanyaan, apakah hanya manusia yang mampu menjadi sang deus?

Deusisasi, Evolusi kah?

Prosesi penuhanan manusia, tidak serta merta timbul. Mari tinjau kembali, bagaimana keadaan manusia di masa otoritas agamawan begitu kuat hingga memegang kendali kebahagiaan manusia atas surga dan ancaman neraka. Atau penjualan indulgensia, surat penebusan dosa seharga 10 keping emas.

Bisakah kita menyebut manusia sebagai sang homo deus?

Kini, dengan lapangnya Friedrich Nietzsche berkata, “Tuhan telah mati.”

Karen Armstrong bahkan menyediakan bab khusus untuk menjawab, “Kematian Tuhan?”

“Sekiranya Tuhan belum mati, maka adalah tugas manusia yang rasional dan teremansipasi untuk membunuhnya” (Armstrong, 1993). Sangat sadis, namun miris. Tuhan belum mati, karena justru manusia lah yang kemudian ingin meminjam namanya dan sekaligus ingin mendekati kuasa Tuhan.

Artificial intelligence, cyborg, big data, bayi tabung, rekayasa genetika, mesin otonom, kloning, ramuan abadi anti penuaan, rekayasa cuaca, dan bom hidrogen adalah sedikit dari banyak penemuan abad ini yang memungkinkan manusia bertindak layaknya Tuhan. Apakah deusisasi akan benar-benar terjadi?

Kenyataannya, deusisasi benar-benar terjadi. Melemahnya otoritas keagamaan, dan munculnya ketidakpercayaan manusia kepada otoritas agama yang gagal mewujudkan perdamaian dan kebahagiaan, terbukti dari lahirnya Perang Dunia 1 dan 2, menjadi momentum bagi manusia untuk mengganti posisi Tuhan ke “manusia tuhan.”

Inilah salah satu sesi paling mengerikan dalam abad 21. Para penyair, novelis, dan filosof gerakan Romantik mengemukakan bahwa rasionalisme habis-habisan akan bersifat reduktif, karena mengabaikan aktivitas imajinatif dan intuitif manusia (Armstrong, 1993).

Dengan begitu, pertanyaan pada paragraf terakhir sub judul “Pertarungan Budak Menjadi “tuhan”, “apakah hanya manusia yang mampu menjadi sang deus?” Jawabannya adalah tentu saja, siapa yang mampu melawan makhluk yang berasional tulen dan mengembangkan kemampuan sosialnya menjadi tidak terbatas? Manusia.

Kalau begitu, apakah deusisasi adalah evolusi bagi manusia?

Evolusi adalah perubahan se-turut waktu (Brodie, 1996). Semua yang mampu bertahan dan menggadakan diri akan turut berubah, sementara kegagalan dalam survival of the fittest (kesesuaian bertahan hidup) artinya akhir bagi sejarah hidupnya, bahkan keturunannya.

Meminjam sedikit konsep selfish gene. Teori semacam gen egois menggeser sorotan utama evolusi dari individu yang sesuai menjadi DNA yang paling sesuai. Masuk akal saja, karena DNA lah yang membawa informasi unik dari generasi ke generasi.

Menelaah kembali evolusi, ia merupakan proses perubahan yang terus bertambah secuil demi secuil, yang tiap bagiannya akan terus mengalami perbaikan, tidak peduli banyak atau sedikit, pada kemampuan sesuatu untuk bertahan hidup dan berkembang biak (Brodie, 1996). Evolusi ditinjau dari perspektif biologi.

Lalu, bagaimana dengan gelar homo deus?

Maka bisa dikatakan bahwa ia merupakan suatu revolusi. Saya tidak akan menyebutnya sebagai evolusi, karena itu berarti saya harus meyakini bahwa generasi puncak manusia—setidaknya—berada di tahap yang justru mengkhawatirkan.

Kekhawatiran itu muncul bahwa ketika seluruh manusia menganggap dirinya dewa-dewi, bahkan Tuhan. Lalu, siapakah tuhan yang sesungguhnya? Harus di bawa kemana harapan-harapan manusia, yang telah dibangun sejak ratusan, bahkan ribuan tahun lalu, sebagai obat kerinduannya akan dunia yang damai.

Jika manusia bisa membuat kehancuran, maka bisa pula memulihkannya. Lalu, mengapa perdamaian fiksi tidak pernah terwujud, atau mengapa tidak seluruh kelaparan, perang, dan wabah dienyahkan. Bukankah manusia sekarang mulai merangkak mengganti Tuhan menjadi “manusia tuhan” alias homo deus?

Artinya, deusisasi bukanlah bagian dari evolusi manusia. Gelar homo deus adalah revolusi yang di bentuk sekelompok barbarian intelektualitas untuk melegitimasi kesewenangan manusia atas otoritas dan otoritariannya pada alam dan seisinya.

Lalu, muncul satu pertanyaan, mengapa sebagian orang meyakini dengan sepenuh hati bahwa mereka (akan) menjadi dewa di abad informasi? Masuklah kita pada bagian, di mana dunia meme berjalan dan menjangkiti kita dengan virus akal budi.

Memetika: Campur Tangan Akal Deus Danyang

“Betapa sia-sianya kehilangan akal budi atau tidak punya akal budi sungguh sia-sia. Menyia-nyiakan akal budi adalah perbuatan yang mengerikan” (Brodie, 1996). Ucapan Dan Quayle menggugah selera pendamba kesadaran humanism. Betapa pun manusia berbuat melampaui nalar, akal budi akan tetap menempati posisi suci.

Posisi sesuci itu membuktikan jiwa-jiwa danyang para deus. Menghantui rumah— sebut bumi—dengan keyakinan “aku bisa melihat dalam gelap.” Sekalipun tersesat, deusisasi masih berlangsung. Walaupun, manusia merasakan kebaikannya—di samping keburukan—terkadang keputusannya membuat terlena. Mengapa demikian?

Kita harus menanyakannya pada si meme. Meminjam istilah dari Richard Dawkins dan Hamilton. Richard Brodie (1996) mengartikannya sebagai kode rahasia perilaku manusia, rosetta stone. Memetika memberi kita cara-cara, bagaimana dunia meme bekerja: interaksi, penggandaan, dan evolusi. Jadi, kita akan berkutat pada memetika.

Untuk interaksi bisa dikatakan “presentasi,” sedangkan penggandaan adalah “kolonialisasi.” Evolusi adalah jalan setapak.

Presentasi interaksi membuat manusia menarik keputusan, terima atau tidak. Interaksi homo deus terhadap dewa-dewa sudah berakhir, penampikan Tuhan pun tidak bisa dihindari. Itu karena para dewa-dewi tidak bisa menyelamatkan mereka dari Perang Salib, Perang Dunia 1 dan 2, dan taruhan kiamat pada Perang Dingin.

Bahkan, Sigmeund Freud (1856-1939) dengan keyakinan penuh menganggap kepercayaan pada Tuhan sebagai ilusi yang harus ditinggalkan manusia dewasa. Delusi seperti ini, mungkin dirasakan oleh para Sapiens yang berhasil memproklamirkan diri menjadi Deus.

Sasaran baru kini muncul kepada otak manusia, pikiran yang membawa mereka ke sebuah harapan bahwa rekayasa pangan akan membuat kenyang umat manusia, berbagai penyakit dapat disembuhkan, perang tidak perlu dilakukan karena itu tidak penting. Bukankah ini menarik?

Dengan mudahnya, mereka membagikan kisah ini, pengetahuan dan keilmuannya ke seluruh dunia. Konfigurasi yang diciptakan adalah empirik, dengan prinsipnya adalah manusia harus membuktikan segalanya, atau, “enyahlah dari dunia ilmuwan.” Akhirnya, penampikan Tuhan tidak terelakkan, terutama debat atas nilai tertinggi.

Tentu saja, ini lahan bisnis yang menggiurkan bagi homo deus untuk mempromosikan diri. Maka, sebundel meme kemudian mereka sebar dan seketika semua mengamininya. Kemenangan satu poin untuk homo deus.

Tidak sampai pada presentasi, para deus harus menggandakan investasinya atau mereka bisa mengalami kebangkrutan dan berkurangnya pengikuti evolusionisme homo deus. Para pengganda ini, melakukan invansi ke dalam meme (ide) di benak kita dan akhir dikolonisasi. Kita menjadi budak bagi homo deus.

Bukankah di awal saya berpendapat bahwa kini para budak sudah merdeka? Mengapa kini kembali menjadi budak homo deus.

Tidak peduli mekanisme apa yang mereka bangun, penggandaan dari meme yang mereka buat memiliki keakuratan yang tinggi. Sasarannya adalah tentu saja harapan manusia untuk terbebas dari kelaparan, wabah, dan perang. Sasaran kedua adalah nama dewa-dewi dan Tuhan. Dan itu berhasil. Poin kedua untuk homo deus.

Pengganda adalah syarat bagi adanya evolusi. Evolusi terwujud bila penggandaan dan pembaruan terjadi. Sekarang, ujilah integritasnya, penggandaan meme para deus berhasil diwujudkan, dan sekarang orang mulai beranggapan manusia memang tercipta sebagai penguasa, bumi. Itu berhasil, bahkan Fir’aun lebih awal beraksi.

Pembaruan pun berhasil di wujudkan. Pembaruan terhadap pola berfikir manusia dari kungkungan dogmatis kaum agamawan, para kaisar, dan takhayul kepala suku tentang hutan yang dihuni para peri dan werewolf. Pola pikir yang rumit, menyadarkan manusia akan kelemahannya.

Jadilah, meme para deus berjubah putih laboratorium, tukang solder chip integrasi, para aktivis humanism yang sekuler, pengembang bisnis raksasa, dan ilmuwan robotik dengan robot cantiknya sebagai teman sex, melekat di kepala segenap orang dan mendukung aksinya.

Gerakan masif untuk menjadi homo deus tinggal menghadapi satu musuh bebuyutan, Agama. Dan evolusi, nyatanya bukan akhir atau penanda. Penyematan homo deus, sebagaimana pernyataan sebelumnya, hanyalah revolusi atas ketidaksabaran manusia.

Evolusi menandakan bahwa kini dunia dihuni oleh 7 milyar lebih manusia. Dan revolusi manusia memasuki nama era itu dan menyelipkannya menjadi, “pengganti homo sapiens.” Apakah ini ulah meme para aktor intelektual era informasi?

Masa Depan Manusia Dan/Atau Akhir Masa Lalu Manusia?

Palladium, patung simbol kekuatan perubahan dunia di masa lalu, konon di cuci oleh air mata Athena sebagai bentuk penghormatan atas kematian saudari tirinya, Pallas, yang terbunuh akibat tidak sengaja tertusuk tombak miliknya sendiri ketika bermain.

Simbol palladium itu, kini berganti dan dipersonifikasikan menjadi meme para homo deus pembangkang hukum alam. Lebih tepatnya aktor intelektual yang menguasai bidang yang tidak bisa dikuasai khalayak umum biasa.

Harari (2015) berpendapat bahwa sains memunkinkan mitos lebih mampu sepenuhnya mengendalikan realitas objektif dan subjektif ketimbang sebelumnya. Perbantuan sains bagi dunia yang menjadi lawan dari saintifik. Masa depan manusia harus mempertaruhkan, antara digdayanya sains ataukah harapan fiksi?

Meme hanya bisa dilawan dengan meme. Semua itu bisa terwujud bila kita memiliki mekanisme pertahanan, atau windows defender terhadap meme berbahaya homo deus. Itupun jika kita tidak mau menggadaikan rasa takjub kita kepada dunia irasional, fiksi, mitos, atau ghaib dengan mesin-mesin berpogram C#.

Masa depan manusia memang sulit. Ketimbang nenek moyang kita yang berjuang melawan mammoth demi tangan si gadis kembang desa atau bertahan hidup dari bencana kelaparan musim dingin.

Takdir Sapiens ada di tangan kita, mungkin itu bisa ditanyakan“tetap menjadi manusia bernilai atau peruntungan menjadi homo deus?” Ingatlah bahwa saya bukan melarang, toh, itu adalah revolusi, itu bisa diterima atau tidak.

Jelaslah bahwa masa lalu manusia pun berharga, artinya pesan-pesan masa lalu pun harus kita jadi referensi hidup. Homo deus sebagai masa depan manusia, dan manusia sebagai masa lalu ada bagusnya juga. Setidaknya, ada peninggalan sejarah yang harus kita jaga di rumah dan mengelapnya setiap pagi.

Mungkin ini akan berjalan sulit, setidaknya, saya telah menunjukan bahwa homo deus yang tidak menginjak rem akan kemungkinan menabrak mobil di depannya. Atau mobilnya terus berjalan mundur tanpa henti. Tidak seimbang.

Manusia terbentuk atas pilihannya dalam sejarah, dan itu pasti. Itupun berlaku, jika sapiens ingin menjadi deus. Tapi, kita tetaplah kita, hanya kemudian nilai dan moralitas kita yang mengeremnya.

Jangan sampai kita menjadi homo dei yang jauh lebih sembrono ketimbang homo deus. Jika benar-benar itu terjadi, saya berharap Tuhan ampuni saya dan segera bawa saya derita dunia fana ini.

Daftar Pustaka

  • Armstrong, K. (1993). A History of God: The 4.000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine Books.
  • Brodie, R. (2005). Virus Akal Budi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Harari, Y. N. (2015). Homo Deus: A Brief History of Tomorrow. Jakarta: PT Pustaka Alvabet.