Lagi, interaksi manusia dan lingkungan bernuansa saling merugikan. Seperti sebelumnya, Homo Jakartensis menjadi penyebab pencemaran dimana air menjadi sasaran. Kali ini, lautan busa memenuhi Kanal Banjir Timur Marunda akibat penggunaan detergen yang berlebihan. 

Untuk itulah Kepala Bidang Lingkungan Hidup, Andono Warih menghimbau agat masyarakat jangan berlebihan menggunakan detergen karena dapat merusak lingkungan (https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/25/19310161/ada-lautan-busa-di-marunda-warga-diimbau-tak-pakai-deterjen-berlebihan).

Bukan rahasia jika penggunaan detergen berlebihan dapat merusak perairan. Penggunaan detergen oleh warga tak pelak sering tidak ramah lingkungan. Ironisnya, hal ini belum mendapat sorotan serius padahal implikasinya dapat merugikan diri sendiri selain tentunya juga mengancam biota air. 

Dalam pada itu, dapat diidentifikasi dua hal sebagai penyebab pencemaran air akibat penggunaan detergen. Yang pertama menyangkut faktor struktur yaitu kebijakan pemerintah. Yang kedua menitik beratkan faktor kultur perihal kesadaran warga.

Kebijakan tata kelola air di Indonesia khususnya Jakarta harus dibenahi. Untuk urusan pengelolaan limbah, menurut Andono, Jakarta saat ini belum memiliki sistem pengolahan air limbah atau sewerage system yang ideal. Saluran air hujan masih menyatu dengan saluran air limbah yang dialirkan ke kanal-kanal (https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/25/19310161/ada-lautan-busa-di-marunda-warga-diimbau-tak-pakai-deterjen-berlebihan). 

Menurut hemat penulis, kebijakan apapun yang dihasilkan pertama-tama harus memperhatikan bukan hanya faktor ekonomi, melainkan lingkungan dan sosial-budaya. Kebijakan tersebut harus bergerak dalam kerangka sustainable development (pembangunan berkelanjutan). Dengan kata lain, paradigma pembangunan harus diubah.

Namun, yang tidak kalah penting adalah kesadaran manusia Ibu Kota Jakarta itu sendiri. Penggunaan detergen berlebihan terutama adalah hasil kontribusi rumah tangga dan industri (terutama industri laundry dan tekstil). 

Dalam kegiatan rumah tangga, masyarakat belum (atau enggan) menyadari pentingnya sungai bagi kehidupan. Mereka masih menjadikan sungai sebagai halaman belakang dan tempat pembuangan. Alangkah bijak dan memang sepatutnya sungai dijadikan serambi depan. Dengan demikian, maka sungai akan terjaga selalu keindahan dan kebersihannya.

Hal demikian justru diperparah dengan keberadaan pengusaha laundry dan industri tekstil. Limbah dari laundry dan industri tekstil mengandung zat kimia berbahaya yang celakanya dibuang begitu saja ke lingkungan. Seharusnya, limbah tersebut dikelola dengan baik akan tetapi biaya pengelolaan limbah yang tinggi dalam dunia industri masih menjadi salah satu hambatan.

Terkait hal ini Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno akan berdialog perihal limbah detergen dengan asosiasi para pengusaha laundry di Jakarta (https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/24/16314651/ada-lautan-busa-di-marunda-sandiaga-akan-temui-pengusaha-laundry).

Bagaimanapun, kandungan zat kimia berbahaya dari detergen dalam industri laundry dan juga bahan pewarna dalam industri tekstil sangat mengancam ekosistem sungai. Menurut Purwanti dan Pantiwati (2015), konsentrasi dan pemaparan limbah detergen menyebabkan tingginya tingkat kematian ikan. 

Bukan hanya itu, air sungai pun menjadi tidak layak untuk digunakan. Lebih jauh, limbah industri yang tidak dikelola dengan baik juga dapat membawa bahaya kebencanaan di kemudian hari. Oleh sebab itu, mengubah perilaku dan pemahaman semua pihak menjadi agenda penting saat ini. 

Berkenaan hal demikian, pada tanggal 22 Maret yang lalu, kita baru saja memperingati hari air sedunia (World Water Day). Esensi dari World Water Day adalah untuk menanamkan kesadaran kepada semua elemen tentang pentingnya menjaga seluruh sumber daya air di muka bumi. 

Perilaku masyarakat dapat diubah dengan mengubah pemahamannya terlebih dulu yang mana hal itu dapat dilakukan dengan edukasi yang intens dan intim. Yang mejadi menarik untuk disorot dalam hal ini adalah peranan komunitas pecinta lingkungan. Mereka harus konsisten dalam mentransmisikan nilai-nilai mengenai pentingnya air bagi kehidupan. Mereka harus menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan pelestarian perairan. 

Alangkah tepat jika kebijakan yang dihasilkan mencerminkan inklusifitas. Inklusif berarti menyangkut keterlibatan dengan indikator aksesibilitas, partisipasi dan kebebasan. Setiap elemen harus dilibatkan mulai dari tahap perencanaan, implementasi sampai pada pengawasan kebijakan. 

Jika paradigma pembangunan dan kesadaran setiap orang dapat diubah, maka solusi limbah detergen dapat ditempuh dengan mudah. Bukan hanya persoalaan lautan busa di KBT Marunda, tapi lebih jauh, cita-cita dunia yang tertuang dalam agenda pembangunan berkelanjutan khususnya tujuan ke 6 tentang Clean Water for All akan segera terwujud.  

"Water is life, and clean water means health" (Audrey Hepburn).

Rerferensi:

https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/24/16314651/ada-lautan-busa-di-marunda-sandiaga-akan-temui-pengusaha-laundry

https://megapolitan.kompas.com/read/2018/03/25/19310161/ada-lautan-busa-di-marunda-warga-diimbau-tak-pakai-deterjen-berlebihan

Yuliani, et.al. 2015. Pengaruh Limbah Detergen Laundry Terhadap Mortalitas dan Indeks Fisiologi Ikan Nila. Makalah Penelitian. Seminar Nasional XII. Pendidikan Biologi FKIP UNS.