Pada mudik tahun lalu, saya gembira karena dapat bertemu lagi dengan handai taulan. Menyentuh mereka, bukan lagi hanya mendengarnya dari balik gadget. Merasakan sentuhan dan getaran, bukan lagi semata melihat gambar-gambar bergerak dari balik handphone.

Kelekatan lebih terasa dari perjumpaan dan sentuhan, bukan dari balik teknologi. Merasakan dinginnya udara kampung, merasakan asap yang memedihkan mata ketika kayu bakar disulut ke perapian. Ini benar-benar aroma kampung yang ingin saya nikmati.

Tetapi, kampung yang sekarang bukan lagi seudik kampung yang saya akrabi beberapa tahun lalu. Jika dulu tapak demi tapak jalan masih mengandalkan tanah, yang apabila hujan akan becek, apabila kemarau berdebu, kini sudah beraspal. Transportasi sudah sangat lancar. Tak ada lagi pemandangan di mana kerbau menarik pedati. Muda-mudi berpergian pun sudah melulu naik sepeda motor. Tak ada lagi jalan kaki berkilometer ke kilometer sembari menggendong gitar dan bernyanyi. Mereka sudah ogah jalan kaki.

Semua sudah berubah! Proses tak lagi perlu. Semua seperti sudah berorientasi hasil sehinggal hal instan bisa menjadi pilihan. Tepat di kepulangan saya, seorang anggota keluarga-dekat saya meninggal (di kampung semuanya dekat). Dia kecelakaan di jalan raya dengan sepeda motornya sendiri.

Dia ditabrak oleh keluarga sendiri. Saya tak bermaksud mengutuki kematian itu. Kematian tetaplah hak mutlak dari Sang Khalik. Yang dapat saya sesali adalah bahwa perubahan kecenderungan ini nyata-nyata juga mengorbankan nyawa, bahkan adab dan adat.

Sudah Terasing

Dan, ini bukan yang pertama. Sejak jalan beraspal, sudah banyak warga kampung yang celaka. Bahkan karenanya, mereka menjadi pemalas. Mereka tak tangguh lagi. Mereka tak lagi mengandalkan kekuatan tubuh, tekad, insting, dan otak. Mereka menjadi orang-orang manja.

Organ-organ tubuhnya tak lagi bergerak sepenuhnya. Mereka sudah mengandalkan mesin. Mereka menjadi mekanis. Jika dulu kami mengantarkan undangan pesta dengan jalan kaki berkilometer-kilometer dengan ceria, sekarang, undangan sudah disampaikan lewat pesan daring. Perjumpaan sudah digantikan teknologi.

Kebiasaan dan permainan pun bertukar. Jika dulu kami merayakan bulan purnama dengan sumringah, bahkan menunggu-nunggunya, kini bulan purnama tak berarti apa-apa lagi. Kami bahkan hampir tak menikmati malam lagi. Semuanya sudah seperti siang.

Lampu-lampu neon sudah menaklukkan malam. Tak ada lagi permainan tradisional yang riuh dan kompak. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyian, kejar-kejaran. Semua sudah hanyut dalam jiwa kesegeraan: segera diraih, segera pula dilupakan. Tak ada lagi kemelekatan.

Mereka sudah terasing dan mengurung diri di rumah masing-masing yang asyik dengan televisi, gadget. Mereka bermain dengan mesin dan lupa pada manusia. Maka, ketika tamu datang, mereka tak lagi wajib menyalam dan menyuguhkan teh. Dalam hati, saya kecewa. Sebab, tujuan saya pulang adalah untuk kembali mengasyiki, atau sekadar bernostalgia dengan hal-hal gila itu, tetapi nyata kini bahwa itu sudah punah. Itu sudah kuno.

Kekeluargaan sudah tumbang. Gotong-royong yang dulu kami rayakan setiap menjelang Natal, menjelang liburan, menjelang Paskah, sudah digantikan dengan kerja borongan. Semua sudah serba proyek. Hampir tidak ada lagi ketulusan.

Kegairahan kearifan lokal sudah di ujung tanduk. Jika dulu setiap masalah diselesaikan secara kekeluargaan, kini sudah ditukar dengan hukum, polisi, jaksa. Desa sudah menjadi kota, tetapi bukan dalam pengertian fisik. Desa menjadi kota lebih pada bentuk sikap dan adab.

Desa sekarang menjadi tumpukan perilaku-perilaku bengis. Entah dari mana perilaku itu datang. Apakah karena setiap pembangunan harus menumbalkan adab yang guyub? Apakah filosofi ekonomi harus menumbangkan keikhlasan yang tanpa pamrih?

Apakah politik mesti mengonversi gotong royong menjadi kerumunan pencari uang? Apakah karena teknologi? Kalau demikian adanya, betapa runyamnya pembangunan, betapa dekilnya niat pemerintah mengucurkan dana ke desa, betapa biadabnya teknologi. Tetapi, apakah memang karena itu?

Saya tidak tahu persis. Yang pasti, desa sudah menjadi kenangan, sudah tak lagi hidup. Meski hidup, itu sudah tinggal secuil. Kenangan yang secuil itulah yang kita bagi-bagi. Ringkasnya, desa sudah menjadi tumpukan kota-kota yang tercerai-berai.

Desa dipenggal-penggal. Itu artinya, jika kita mudik, kita kembali ke kenangan, bukan kembali ke desa dengan segala cerita yang menghidupi kita dulunya. Ini kebalikan dari apa yang disebut Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya yang bertajuk “Mari Mengubah Wadjah Jakarta”.

Kurang lebih, dalam guratan itu, Mas Pram berujar bahwa Jakarta bukanlah kota dalam pengertian sosiologis dan ekonomis. Jakarta baru sudah lebih pada merupakan tumpukan desa-desa dan kampung jang dipaksa berfungsi sebagai kota dalam segi-segi sosiologis dan ekonomis.

Dan, proses ini-ini jugalah yang sejatinya terjadi pada desa-desa kita. Jujur saja, saya tidak anti pembangunan. Saya tidak mau orang kampung disiksa dengan ketiadaan irigasi, saya tidak mau jalan berbecek dan berdebu, saya tidak mau masyarakat harus pergi ke dukun ketika akan melahirkan.

Bukan Pemilik

Saya hanya tak rela jika karena pembangunan itu, motivasi masyarakat menjadi hedonis, kapitalis, individualis, dan industrialis. Yang disebut terakhir, industrialis, lebih parah. Sebab, peralihan agraris menjadi industrialis membuat warga-warga desa menjadi komoditas.

Mereka menjadi karyawan, bahkan budak di sawahnya. Disebut budak karena mereka tak lagi berhak mengatur ritme persawahan. Mereka hanya pekerja. Tugasnya hanya mencangkul, membibit, menanami, menyiangi, memupuk, dan memanen, bukan memiliki.

Sebab, hasil panenan itu akan segera dikirim pada para tengkulak. Para tengkulak inilah yang berhak memberi harga, memberi upah. Masyarakat akhirnya hidup dari upah, bukan lagi dari hasil sawah. Mereka menjadi karyawan, persis seperti nasib orang-orang kota.

Padahal, keinginan menggebu-gebu untuk menjadi karyawan inilah yang dulunya menggoda masyarakat agar pegi ke kota. Seperti kata Drijarkara (1956), bahwa kota adalah ’’kata’’ dan ’’ruang’’ yang mengandung kengerian dan risiko, terutama rayuan.

Kota adalah utopia yang melenakan dan melengahkan. Di ujung kolom ini, saya harus memohon maaf karena dari tadi terlalu menyalahkan pembangunan dan teknologi. Tetapi, apa lagi yang bisa saya lakukan setelah pengalaman mudik ternyata tidak bisa membawa saya menyatu dengan kenangan? Barangkali, menyalahkan bukan menjadi kesalahan. Menyalahkan justru bisa menjadi pemantik kebenaran.

Pemantik agar, misalnya, kampung tidak dijejali bangunan-bangunan fisik dengan keharusan untuk menghilangkan sikap guyub. Pemantik agar kita segera tersadar betapa setelah mudik, ternyata kita mulai melihat betapa kampung sudah menjadi tumpukan kota-kota.

#LombaEsaiKemanusiaan