Akhir-akhir ini kita semua diberikan informasi yang begitu populer dishare dan disiarkan di mana-mana, termasuk apakah atau seberapa kesiapan bangsa Indonesia dalam menghadapi era revolusi industri generasi ke ampat (4.0).

Revolusi ke empat ini merupakan kelanjutan dari generasi sebelnya (generasi X) yang berarti masuknya internet dalam segala lini kehidupan yakni yang dipopulerkan dengan sebutan globalisasi (tranportasi internasional).

Melihat dari apa yang populer dibicarakan mengenai persiapan Indonesia menuju generasi Z ini. Intinya adalah merupakan perubahan dalam hidup generasi buda yang ditandai dengan penggunaan mesin cyber (robot otomatisasi) dalam segala lini kehidupan.

Generasi ini tentu sangat berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya, maka tak terpinggirkan ada yang mengatakan bahwa mereka lah yang nantinya akan memimpin dunia ini dengan kemampuan dan kehidupan yang unik di masa mereka, ada juga yang bilang bahwa mereka generasi ini adalah generasi yang kreatif.

Kenapa begitu?

Sederhananya generasi ini adalah generasi yang sekian kalinya dalam revolusi industri penggunaan robot otomatis dalam membantu manusia menjalani kehidupan saat ini.

Merupakan suatu kehidupan yang aneh dan nyata, bila kita melihat dalam tayangan sinetron dari luar negeri sudah beramai-ramai memberikan gambaran seperti apa yang akan terjadi di revolusi generasi empat ini. Baik itu keistimewaannya maupun tentang hal-hal tertentu yang akan mengakibatkan makin rumitnya kehidupanan bagi sebagian orang tentunya bagi kaum miskin (kota/desa) yang kemungkinan tidak mempunyai modal untuk kompetisi di zaman tersebut.

Tentu dalam era kompetisi tersebut sudah bukan rahasia lagi bahwa keluarga yang memiliki modal masti mampu untuk ikut mengambil peluang, namun bagai mana dengan mereka yang sampai sekarang dalam menjalankan hidup saja sekadar mengharapkan hasil atau upah kerja yang tidak seberapa, akan menjadi kekawatiran bahwa revolusi tersebut (4.0) akan menggantikan manusia-manusia pekerja tersebut dengan robot yang dapat dipergunakan sekehendaknya yang punya.

"yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin"

Masih umum yang memberikan pemahaman bahwa orang miskin adalah orang-orang yang hidup di Pedesaan dan orang kaya adalah mereka yang hidup di Perkotaan, mungkin di sebagian negara seperti itu. Pemahaman tersebut ternyata tidak bisa untuk mendefinisikan/menggambarkan orang/masyarakat Indonesia.

Ini bisa terbalik 99 derajat, masyarakat Indonesia merupakan bangsa yang unik dan ini memang diakui diberbagai negara, terkenal dengan kreativitasnya yang serba bisa dan juga sumber daya alamnya yang melimpah. Namun ini ternyata menggambarkan kesulitan tersendiri dalam pengelolaannya, di Pedesaan terlihat bahwa masyarakat Indonesia tidak begitu tergantung pada Kota namun mereka adalah harapan dari atau penyambung kehidupan di Perkotaan. Ini yang kemudian digambarkan Mbah Hasyim Asy'ari dengan kata-kata yang sangat populer dimasyarakat Indonesia itu, ia mengatakan bahwa bahwa "petani itu lah penolong negeri".

Pedesaan di Indonesia merupakan sumber kehidupan manusia, bahkan kalau dikelola dengan baik maka akan menjadi perhatian dunia (internasional), karena letak dan kawasan Indonesia memang strategi dengan sumber daya alam yang bisa untuk dikelola apa saja, selain itu wilayah Indonesia juga memiliki bahan mentah yang sangat luar biasa maka tidak kaget kalau dahulu bangsa ini dijajah bangsa asing untuk/kerana membutuhkan sumber daya alamnya.

Suatu yang sampai sekarang dapat kita lihat dalam kehidupan Pedesaan masyarakat Indonesia adalah kemampuan mereka untuk mandiri dari campur tangan pemerintah, mereka mampu hidup tanpa harus adanya pemerintah sekalipun, bahkan kalau dapat kita telisiki secara kemanusiaan maka akan terlihat bahwa ketidakseikbangan dan problem yang terjadi di Indonesia sejak dulu adalah karena ulah pemerintahannya sendiri yang mengatasnamakan pemerintah sebagai kaki tangannya negara dalam melakukan praktek diskriminasi, nepotisme, dan korupsi dari harta milik rakyat.

Maka dengan melihat perubahan ini sangat jelas kalau yang kebingungan paling serius adalah datang dari pemerintah, para pelajar dan orang-orang yang saat ini punya kepentingan atas rakyat. Kita perlu jujur untuk mengatakan bahwa rakyat memang tidak memiliki kepentingan dalam menguasai harta pemerintah namun sebaliknya.

Membangun dan mempertahankan kekuatan Desa adalah menurut penulis strategi yang cocok dalam menghadapi globalisasi dan pengalihan manusia digantikan robot seperti yang sudah umum dibicarakan dalam seminar, tv, radio sampai dengan media sosial akhir-akhir ini.

Maksudnya membangun pertahanan Desa merupakan strategi untuk meningkatkan, menyesuaikan, dan berpartisipasi dengan pendidikan yang mampu melihat perkembangan hidup budaya lokal atau meningkatkan kemampuan, keahlian, sumber daya yang sudah ada di pedesaan agar tetap memiliki nilai budaya Indonesia yang dapat bertahan di era-transpransi ini.

Keraguan terhadap kehidupan di Pedesaan merupakan keraguan dalam mengambil keuntungan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan, bangsa kita punya sejarah tentang kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Untuk sekarang perlu kita sadar dan jujur bahwa tidak ada kehidupan yang lebih adil makmur daripada bersatu padu dalam membangun kemakmuran hidup bersama sebagai bangsa yang satu yakni bangsa Indonesia.

Masyarakat Pedesaan memiliki peluang sangat tinggi untuk Indonesia, karena memang karena kreativitas Pedesaan lah Indonesia masih ada sampai sekarang. Ini perlu menjadi perhatian khusus harusnya, yakni perhatian yang perlu dari kesadaran dari pemerintah kita agar dapat menjaga dan membangun kekuatan dari Desa dengan tidak melibatkan campur tangan bangsa asing dalam mengelola kehidupanan masyarakat Desa di seluruh Indonesia. Artinya penulis ingin menyampaikan bahwa masyarakat Desa harus di berikan kesempatan untuk merdeka dalam budaya, kehidupanan, dan kreativitas. Karena memang negara hanya sebatas fasilitator bukan pelaku kehidupan.

Baca Juga: Pabrik dan Desa