Ada beberapa momen mengharukan dalam peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2018 kemarin, yang terjadi di sebuah sanggar tari di sudut sebuah dusun kecil yang masuk wilayah kabupaten Semarang itu. Karena bertepatan dengan latihan rutin menari anak-anak sanggar, maka secara khusus lagu Himne Guru pun dikumandangkan sebelum latihan dimulai.

Dengan air mata berlinangan, lagu himne guru pun dinyanyikan dengan sepenuh hati. Mendengar dan menghayati satu per satu makna yang terselip di balik syair lagu himne guru yang puitis itu, tentu membuat keharuan memenuhi seluruh rongga hati anak-anak yang hadir dalam latihan rutin hari Minggu itu. Mereka pun saling bergandengan tangan dan berpelukan menyatukan hati, bersyukur bersama karena mendapatkan momen yang indah pada peringatan hari guru nasional tahun ini.

Telah lebih dari seminggu anak-anak sanggar ini menyiapkan gambar dan ucapan indah yang berisi permohonan maaf dan terima kasih kepada guru mereka di sekolah dan guru mereka di rumah yakni orang tua/wali mereka. Keseruan tatkala mewarnai gambar bersama-sama dan bercerita tentang sosok guru mereka di sekolah masing-masing, menjadikan keakraban di antara anak-anak sanggar semakin erat. 

Maka, tidaklah mengherankan bila tiap kata dalam syair lagu himne guru itu menyentuh hati anak-anak tatkala dinyanyikan hari itu, mengingat adanya sebuah proses sebelumnya. Melihat mata indah anak-anak yang berkaca-kaca pada saat menyanyikan lagu himne guru, bahkan sampai air mata Velis, salah seorang anak sanggar menetes di pipi, membuat salah seorang pamong tari semakin deras mengucurkan air mata keharuannya.

Bagi sanggar ini, memang tidak ada istilah murid dan guru. Murid dan guru di sanggar ini telah lebur menjadi satu keluarga dalam proses belajar bersama menjadi pribadi yang indah dan bahagia melalui aktivitas menari. 

“Pengalaman” yang dirasakan bersama-sama pada saat latihan dan menyiapkan kejutan untuk orang-orang terdekat pada setiap momen penting seperti hari guru nasional, bagi sanggar ini merupakan momen berharga sebagai pembelajaran bagi seluruh anggota sanggar untuk bisa senantiasa mengingat bahwa guru yang sejati adalah “pengalaman”, dengan Alam sebagai pendidik atau gurunya.

Bagi sebagian anak-anak sanggar ini, pada awalnya tentu tidaklah mudah untuk memberikan karya seni dan ucapan selamat hari guru nasional kepada gurunya di sekolah, yang menurut mereka “galak”. Namun, pada saat menjelang hari guru, tanpa dikomando semua anak saling memberi semangat. Akhirnya anak-anak pun bisa mengerti, ketulusan mampu mengalahkan rasa takut, malu dan juga menguatkan mental mereka.

Tak hanya itu, mereka pun akhirnya juga bisa bersyukur kepada Tuhan dan Alam karena memiliki guru dengan berbagai karakter. Bagi mereka mungkin demikian cara alam memberikan pendidikan mental yang baik untuknya. “Tidak apa-apa gurunya galak, yang penting cantik!” celetuk salah seorang anak sanggar disela-sela aktivitas mewarnai gambar untuk guru mereka dan disambut tawa riang anak-anak sanggar lainnya.

Untuk hal yang baik seperti meminta maaf, mengucapkan terima kasih dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain, selama itu dilakukan dengan tulus, anak-anak di sanggar ini memang diberikan kesempatan untuk berani mencoba memiliki sikap percaya diri namun tetap rendah hati. Dan tentu saja itu sangat sesuai dengan salah satu filosofi tari Jawa klasik yang didalami anak-anak di sanggar ini yakni “sengguh” (percaya diri namun tetap rendah hati).

Hari itu seluruh pamong sanggar secara khusus juga memberikan ucapan selamat hari guru nasional kepada seluruh anak didiknya. Meminta maaf dan mengucapkan terima kasih telah bersama-sama berbagi kebahagiaan dalam upaya pelestarian akar budaya Jawa ikhlas tanpa pamrih melalui kegiatan seni tari. Di sanggar ini, guru/pendidik kadangkala juga banyak belajar dari murid-muridnya, karena konsep pembelajaran di sanggar ini adalah saling melengkapi dan menyempurnakan. Maka bagi sanggar ini murid adalah juga guru, dan guru juga sekaligus murid.

Betapa momen hari itu menjadi begitu mengharukan tatkala seorang pamong tari mendapatkan surat ucapan selamat hari guru nasional dari Maria Lavina Nadine dan Agatha Dani Setyaningsih, dua anak didik sanggarnya yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik dan tersayangnya. Dan lagi-lagi air mata pun bercucuran penuh kebahagiaan hari itu. Tak hanya Nadine dan Dani, Widadari Nasib Mukti dan Kinasih pun juga memberikan ucapan yang sama, yang semakin menyempurnakan kebahagiaan hari itu.

Ada satu hal indah lagi yang tertangkap pada momen itu. Betapa kemurnian dan ketulusan anak-anak hari itu telah mampu menyentuh setiap hati, baik pamong sanggar maupun sesama murid sanggar lainnya. Kata-kata puitis yang mengalir dalam tulisan mereka pun akhirnya mampu mengungkap keindahan hati mereka, dimana ternyata mereka pun juga ikut terharu dan merasakan kebahagiaan, pada saat menyaksikan orang lain terharu dalam kebahagiaan. 

Tak lagi sanggup menyembunyikan keindahan hatinya, anak-anak pun menutup wajahnya yang memerah, tatkala setiap suratnya dibaca di hadapan teman-temannya. Dengan mata berkaca-kaca, momen haru antara pamong sanggar dan anak didiknya saat berpelukan pun seolah menghangatkan dinginnya angin yang berembus, setelah diguyur hujan siang itu.

Perspektif subjektif tentang guru.

Kalau kita membuka kamus, pengertian guru adalah orang yang pekerjaan (mata pencahariannya, profesinya) menjajar. Secara umum guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap sebagai seorang guru.

Bagi orang Jawa, asal usul arti kata guru adalah digugu dan ditiru (dianut dan dicontoh), maka guru merupakan pribadi dan profesi yang dihormati dalam masyarakat Jawa karena ia menjadi panutan dan contoh bagi masyarakat karena memiliki keahlian, kemampuan, dan perilaku yang pantas untuk dijadikan teladan. 

Guru merupakan suatu profesi terhormat. Tidak hanya masalah pekerjaan kesehariannya, tapi attitude (sikap) yang dimiliki seorang guru, sebenarnya dapat memberikan atmosfer tersendiri bagi lingkungan sekitar tempat dimana ia tinggal. 

Oleh karena itu, untuk menjadi guru seseorang harus memenuhi sejumlah kriteria yang memenuhi gambaran ideal dari masyarakat yang tak hanya ada pada masyarakat Jawa. Idealnya guru itu ikhlas tanpa pamrih dalam pengabdian, halus dalam bertutur kata, bersahaja dalam berperilaku, cerdas dan berkelakuan baik.

“Tapi bagaimana bila seorang guru tidak memberikan teladan yang baik bagi anak didiknya seperti merokok atau bermain hp pada saat yang tidak tepat?” celetuk salah seorang anak sanggar yang tahun ini menginjak bangku SMP. 

Menanggapi pertanyaan di atas, pamong sanggar pun menjelaskan bahwa bersikap kritis namun santun kadangkala diperlukan untuk menyampaikan sesuatu yang tidak tepat, sekaligus kesempatan bagi seorang murid untuk belajar mengingatkan seseorang (guru) dengan sopan tanpa menyinggung perasaan seseorang (guru) yang berlaku kurang tepat tersebut.

Bila seorang Bapak Sartono sang pencipta lagu himne guru mengungkapkan kekaguman dan pujiannya kepada para pendidik yang tanpa pamrih, bagaikan pahlawan tanpa tanda jasa itu ke dalam sebuah lagu dengan judul “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, maka anak-anak sanggar tari di sudut dusun kecil itu, mengungkapkan kekagumannya akan akar budaya bangsanya yakni ikhlas tanpa pamrih, yang juga melekat dalam figur pribadi seorang guru, dengan mencoba belajar membiasakan diri mereka untuk senantiasa berlaku ikhlas tanpa pamrih dalam keseharian mereka.

Selamat Hari Guru Nasional untuk Bapak dan Ibu Guru di sekolah! Selamat Hari Guru untuk para orang tua, karena orang tua adalah guru atau teladan yang pertama bagi anak-anak. Bukan saja sejak anak-anak lahir di dunia, tapi bahkan sejak mulai ada dalam kandungan. Terima kasih juga kepada Alam, sebagai guru/pendidik yang sempurna dalam kehidupan manusia.

Guru adalah pelita dalam kegelapan. Guru juga laksana embun penyejuk dalam kehausan. Guru adalah patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa, karena ia ikhlas tanpa pamrih. 

Selamat Hari Guru! Diiringi derai air mata keharuan anak negeri, teriring doa semoga semua Bapak dan Ibu guru dalam berbagai perspektif, senantiasa berbahagia dan sejahtera dalam kehidupannya.