Kehidupan dan peristiwa-peristiwanya selalu diiringi dengan kejutan. Kendati kita telah merencanakannya matang-matang. Tapi siapa yang bisa menjamin jatuh bangun itu dengan tepat? Selalu saja ada celah kosong yang ditinggalkan dalam tiap persisian. Keutuhan yang bersisian dengan kerapuhan, kebahagiaan dan penderitaan, hingga cinta, derita, juga luka. 

Pernikahan adalah satu fase kehidupan yang mencerminkan ungkapan ini. Kita boleh jadi telah menyiapkan pernikahan dengan riang dan penuh perayaan. Namun tatkala perayaan-perayaan itu usai, semua orang seakan ditarik masuk ke dalam fase selanjutnya yang penuh kejatuhan, kegugupan, hingga kesedihan-kesedihan beruntun yang semula tak dipikirkan. 

Hidup ini sungguh penuh dengan kejutan, yang menegangkan. Hidup ini pergi jauh melampaui yang kita rencanakan dan kerjakan. Kita tidak hanya hidup dari pasar untung rugi. Kita hidup dari kepercayaan, harapan dan cinta. Pendeknya, dari apa yang tidak dapat kita buat dan kita beli. Itu semuanya mengubah kita--dan dunia. Tulis Frans Kamphaus dalam Konradsblatt (2004).

Film Korea yang akan saya ceritakan ini telah dua kali saya tonton sekaligus jadi drama Korea pertama yang ditonton. Awalnya pada Desember 2019 saat pertama kali tayang di Bioskop. Kedua, barusan malam ini. Aktor Ji-Young dalam film Kim Ji-Young: Born 1982 yang diangkat dari novel berjudul 82 Yeonsaeng Kim Ji Young karya Jo Nam Joo ini adalah representasi paling jujur tentang frustrasi keseharian yang dialami seorang perempuan pasca-melahirkan. 

Istilah medisnya, post-partum. Keguncangan psikologis tentang apa dan bagaimana harus ia urus setelah menjadi ibu. Anaknya yang baru lahirkah atau setumpuk persoalan dalam keluarga barunya. 

Kondisi gugup dan depresi tatkala seseorang dihadapkan pada persoalan setelah menikah ini hampir umum dialami perempuan dgnfase pernikahan di rentang usia 20-30an. Ia ditantang untuk membuktikan diri menurut ekspektasi masyarakat sekitar sekaligus berpacu dengan keinginan untuk menjadi dirinya sendiri. 

Sebagai film asal Korea, Ji-young adalah fakta tentang kondisi perempuan di Asia secara umum bahkan Indonesia lebih khususnya. Di mana posisi seorang perempuan selalu dominan berada di bawah kendali keluarga laki-laki. Baik di keluarga inti, ataupun kelak saat ia telah menikah. 

Pada sisi lain, mereka juga dihadapkan pada masalah umum seperti keuangan dan pekerjaan. Khusus untuk pendapatan, bahkan 63% pendapatan seorang perempuan di Korea Selatan berasal dari penghasilan laki-laki. Sedangkan dalam hal kerentanan (precarious), hampir sebagian besar anak muda di Asia seperti Jepang, tak terkecuali Korea Selatan juga sedang mengalami kesepian akut (epidemi kesepian) karena kesulitan berinteraksi dan memperoleh pekerjaan reguler (lihat Anne Alison, Precarious in Japan, 2013).

Jie-Young pasca-menikah berada dalam bayang-bayang kondisi itu. Di bawah pengawasan ketat mertuanya, ia terperangkap dalam dua pilihan yang sulit: menjadi ibu yang baik versi keluarga suaminya, ataukah tetap berkarier meski telah berkeluarga. 

Klimaksnya, intervensi kuat itu kemudian datang dari ibu mertuanya. Ia dipaksa resign dari kerja saat diketahui baru diterima di sebuah perusahan. Kerjanya dianggap akan mengganggu karier sang suami yang mengambil cuti melahirkan. Padahal kesepakatan untuk bekerja telah diambil keduanya agar bisa mengurus sang anak secara bergantian.

Tegangan-tegangan yang kemudian membuatnya bertambah depresi. Menyengsarakan, penuh dilema, terkekang, tapi tak bisa diungkapkan apalagi dilawan. Hendak melepaskan namun tak rela, hingga terpaksa harus ditahan.

Ia menjalani kesehariannya yang lelah sebagai ibu rumah tangga, istri sembari memendam semua keinginan dirinya dalam-dalam. Ibarat menggenggam kaktus: makin kuat digenggam, makin dalam luka-luka dan rasa sakit itu berserak.

Depresi Ji-young makin rumit saat anaknya mulai berusia 26 bulan. Ia harus berbagi waktu dengan sang anak, keluarga, hingga keinginannnya untuk bekerja yang membuat kondisi kesehatannya terus memburuk. Ia tersiksa dalam keluarga suaminya bersisian dengan trauma-trauma yang berkepanjangan. Ia kelelahan dan sesekali lupa ingatan. Ji-young sendiri menyebut kondisi tersulit ini semacam "berjalan keluar dengan mengelilingi tembok-tembok yang tanpa akhir"

Saat Korea baru diliputi salju, depresi ini lalu membawanya pada kerinduan sosok ibu sebagai mata air dan air mata saat belum menikah dan semuanya belum sesulit ini. Ia seperti menyesal, lalu mencari pundak sang ibu untuk bercerita melepas segala keluh, kesah hingga pesakitan yang terus ditanggungnya
dalam diam. 

Seolah kehidupan kini telah mengubahnya menjadi seorang gadis cantik, anak perempuan paling berharga, sekaligus perempuan malang di keluarga barunya. Penyesalan sang ibu ikut berbaur dalam depresinya yang makin parah, turut membangkitkan trauma atas masa lalunya sebagai anak perempuan yang selalu dinomorduakan.

Saya ingat satu ucapan haru dan penuh maaf dari suaminya: "maafkan aku yang telah menikahimu sehingga kau jadi begini". Dengan peluk yang dalam, keduanya lalu menangis seolah sudah terjatuh pada cinta sekaligus penyesalan yang sama dari waktu ke waktu. 

Situasi ini dapat dicarikan pertalian teoritiknya dengan diskusi tentang "kompleks Oedipus" yang dibicarakan dengan penuh debat antara Freud, Strauss, dan Lacan pada paruh pertama 1960-an. Sebagai anak, Ji-young tidak semata ingin berhubungan dengan ibunya untk memperoleh perlindungan, keutuhan, kasih sayang, namun juga hendak melengkapi apa yang kurang (phallus) dari ibunya. 

Mengutip Jacques Lacan, pada tahap awal ini, Jie-young adalah pribadi yang sangat senjang, rapuh, dan bukan lagi apa-apa. Penuh kekurangan. Hingga akhirnya, phallus itu direbut oleh sang suami lalu menjadikannya terkekang dan kembali rentan dalam keluarga barunya.

Ji-Young seolah berdiri pada tegangan tali yang direntang di bibir jurang:
antara memaklumi semua penderitaan itu begitu saja ataukah menjadi seorang istri dalam versinya sendiri tapi harus melawan konsep keluarga umum
di lingkungannya. Ini terlihat sangat sederhana, namun penuh pertarungan.