Ketika dilahirkan saya bangga karena wajah mirip sekali dengan Ibu. Akhirnya, saya berhasil melepaskan diri dari argumen orang lain yang menyebutkan saya mirip dengan anak tetangga. 

Kadangkala masih saja ada juga yang mempertanyakan “saya ini mirip dengan siapa, sih?”. Bahkan dengan antusias tidak lupa bertanya pada sahabat dan keluarga dekat.

Lepas dari mirip dengan anak tetangga atau tidak, sebenarnya kita patut bersyukur telah dianugerahi sel-sel hidup yang bekerja begitu rapi dan tersistem. Ada yang namanya DNA, dianalogikan sebagai surat yang menyimpan segala informasi biologis unik dari setiap makhluk hidup.

Di dalam surat biologis itu tersimpan berjuta informasi yang dengan segera akan diterjemahkan menjadi bagian-bagian penting organ tubuh manusia. Mata sipit dan bulat, hidung mancung dan pesek, jadi sudahlah terima saja.

Walaupun begitu, kita sudah dilahirkan saja bersyukur. Jadi, jikalau anda memiliki kemiripan dengan tetangga sendiri berarti memang sebuah fenomena yang sudah ditakdirkan. Kemiripan yang dimaksud adalah ciri-ciri lahiriah (fenotipe).

Beragumentasi Seputar DNA

DNA bekerja setiap harinya mengurutkan molekul yang siap bekerja ditempat spesifiknya. Ibarat sebuah mobil, mesin adalah DNA-nya mobil untuk bergerak maju dan mundur. Menariknya, muncul beberapa spekulasi dari para peneliti apakah DNA mengendalikan diri kita atau sebaliknya diri kita yang mengendalikan DNA?

Pertanyaan ini muncul ketika sebagian dari mereka mempertanyakan hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupan. Tanda tanya yang diperdebatkan begini “kadangkala, hal buruk benar-benar terjadi. Waktu berganti, kejahatan tiba-tiba menyerang kehidupan”. Membuat mereka bertanya “Mengapa?”

Penulis buku sains populer “Richard Dawkins” mengutarakan pendapatnya dalam sebuah judul buku A River Out of Eden: A Darwinian View of LifeBagian isi yang difokuskan pada kalimat DNA neither cares nor knows. DNA just is. And we dance to its music (Halaman 133, diterbitkan tahun 1995)

Intinya, dia mengatakan, "kejahatan tidak ada”. Hidup adalah semata-mata rangkaian peristiwa acak yang tidak boleh dikategorikan. Segala sesuatu dikorelasikan dengan DNA yang kita miliki. Pernyataan ini langsung dibantah oleh Ravi Zacharias, seorang penulis Kristen. Buku yang diterbitkannya pada tahun 2000 berjudul Jesus among other Gods: the absolute claims of the christian message.

Buku ini ditulis dengan menyertakan bagian argumen terhadap tulisan Richard Dawkins. Argumennya berbunyi: bertanya-tanya jika para penjaga di Auschwitz hanya "menari untuk DNA mereka" ketika enam juta orang Yahudi yang dibunuh selama peristiwa Holocaust (genosida/pembunuhan besar-besaran). 

Zacharias juga bertanya jika pemerkosa hanya "menari untuk DNA-nya" ketika dia mengambil keuntungan dari perempuan. Dan kanibal? pedagang seks? serta pembom bunuh diri? mereka hanya "menari untuk DNA mereka."?

Zacharias menegaskan bahwa untungnya, Allah ada, dengan perbedaan yang besar antara benar dan salah. Kita tidak harus berbohong kepada diri kita sendiri tentang apa yang begitu jelas dalam kehidupan: baik ya baik dan jahat ya jahat. Kita tidak bisa membiarkan diri lolos dengan mengatakan, "DNA saya membuat saya melakukannya."

Pesan ini juga telah ditulisakan dalam kitab suci Islam “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (QS. an-Nisa’:1).”

Semua ajaran/agama mempercayai bahwa keberadaan manusia semata-mata atas kehendak sang Pencipta. Bukan karena DNA. Tidak mempermasalahkan penulisan buku seorang ilmuan, karena kita serentak mempelajari ilmu pengetahuan.

Tidak semua yang ditulis ilmuan seperti Richard Dawkins memuat hal-hal yang bertentangan dengan kepercayaan manusia beragama. Kita tidak bisa mengklaim diri lebih baik dari mereka, karena sekelas ilmuan diciptakan oleh sang Pencipta juga.

Apapun yang terjadi manusia juga dianugerahi bakat berimajinasi yang baik dan teratur. Penyelidikan tentang DNA tidak ada matinya. Semakin bercabangnya penelitian tentang DNA hingga menggabungkan beberapa bidang ilmu. Manusia tidak puas dengan identitas DNA saat ini sebagai pewaris sifat, sehingga berusaha memunculkan sesuatu yang akan membantu masalah kehidupan manusia itu sendiri.

Robot DNA Dirakit

Sejauh ini ilmu pengetahuan telah mempertontonkan “robot” sebagai mesin pintar yang dapat dikendalikan oleh manusia. Berkat kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dia miliki, hampir semua yang dikerjakan manusia dapat dikerjakannya. Semisalnya saja robotic kitchenrobot yang jago masak.

Saat ini para saintis mendapat tantangan baru untuk mendesain dan mensintesis mesin molekuler yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dalam tubuh manusia. Li et al. (2018) dalam tulisan yang diterbitkan pada halaman nature biotechnology menyatakan bahwa mesin robot DNA sebagai mesin kendaraan cerdas yang memberikan pelayanan untuk menyembuhkan penyakit dengan target sasaran sinyal molekul, melalui suntikan obat yang tepat dan terkontrol.

Akhirnya obat yang diberikan itu tembakannya tepat sasaran. Keberanian pernyataan tersebut didasarkan pada hasil riset sebelumnya (Modi et al., 2013; Jungmann et al., 2014; Bhatia el al., 2011) DNA berbasis robotika yang digunakan berfundamen pencitraan satelit target (imaging probes). Ibaratnya sinyal molekul yang dikirimkan itu harus mengenali target sasaran. 

Manfaat yang ditawarkan dari kinerja DNA berbasis robotika tidak main-main. Contohnya selektif oklusi pembuluh darah tumor, menghilangkan nutrisi dan oksigen tumor hingga mulai mematikan sel tumor, strategi yang menarik untuk memerangi kanker. Menggunakan DNA peneliti  membangun sebuah robot DNA otonom yang diprogram serupa model origami untuk mengangkut muatan sel-sel mematikan khususnya sel tumor.

Model DNA origami diutamakan dalam penelitian desain ini sangat rasional dan produksi nanostruktur DNA dapat dikontrol ukuran dan bentuknya serta alamat tempat/ruang nanti (Pinheiro et al., 2011; Rothemund et al., 2006; Gerling et al., 2015; Benson et al., 2015). Dengan mudah menargetkan posisi yang tepat robot DNA bekerja melakukan tugasnya.

Esai ini berusaha menerangkan apa yang telah dilakukan Suping Li bersama tim dalam proyek penelitian mereka  A DNA nanorobot functions as a cancer therapeutic in response to a molecular trigger in vivo. DNA origami menjadi langkah awal penelitian, sistem nanorobotik DNA dibangun untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan pengiriman trombin ke sel tumor.

Nanorobot di sini sebagai benteng pertahanan trombin untuk sampai berinteraksi dengan nucleolin penanda tumor. Menggunakan nanorobot trombin, penelitian ini menunjukkan tumor di tempat pembuluh darah infark (nekrosis iskemik pada satu tempat di otak, karena perubahan sirkulasi darah, atau kurangnya pasokan oksigen) dan pengobatan kanker secara in vivo yang menjanjikan untuk masa depan.

Bisa dibayangkan sebuah robot berukuran nano dapat membantu anda merapikan sel-sel tubuh yang bermasalah, dengan mengelilingi sel darah membawa molekul yang akan diturunkan pada lokasi tertentu. Aplikasi futuristik melibatkan prinsip-prinsip robot DNA sangat diharapkan oleh peneliti. Ambisi peneliti Robot DNA dapat mensintesis bahan kimia terapeutik dari bagian sinyal-sinyal molekuler buatan untuk menanggalkan berbagai penyakit selain kanker.

Argumentasi episode berikutnya akan berlanjut, perdebatan sebuah temuan baru yang dapat memecah kebuntuan masalah. Lantas bagaimana sikap kita? Setiap orang memiliki pilihan yang berujung pada keputusan. Menerima atau tidaknya aplikasi robot DNA masa mendatang berada di tangan masing-masing individu tanpa merasa terintimidasi.

Setiap dimensi kehidupan layak diperdebatkan. Manusia diberi kemampuan untuk mengolah pengalaman, eksperimen dan anugerah ilahi untuk mempertahankan prinsip hidup. Penekanan yang perlu diperhatikan di sini adalah mari kita giring perbedaan dengan hati penuh kasih sayang sebagai bukti eksistensi keberadaan warna-warni kehidupan untuk saling melengkapi. Mendampingi kesendirian hitam dan putih.

Referensi

  • Benson, E. et al. DNA rendering of polyhedral meshes at the nanoscale. Nature 523, 441-444 (2015).
  • Bhatia, D., Surana, S., Chakraborty, S., Koushika, S.P. & Krishnan, Y. A synthetic icosahedral DNA-based host-cargo complex for functional in vivo imaging. Nat. Commun. 2, 339 (2011).
  • Gerling, T., Wagenbauer, K.F., Neuner, A.M. & Dietz, H. Dynamic DNA devices and assemblies formed by shape-complementary, non-base pairing 3D components. Science 347, 1446-1452 (2015).
  • Jungmann, R. et al. Multiplexed 3D cellular super-resolution imaging with DNAPAINT and Exchange-PAINT. Nat. Methods 11, 313-318 (2014).
  • Modi, S., Nizak, C., Surana, S., Halder, S. & Krishnan, Y. Two DNA nanomachines map pH changes along intersecting endocytic pathways inside the same cell. Nat. Nanotechnol. 8, 459-467 (2013).
  • Pinheiro, A.V., Han, D., Shih, W.M. & Yan, H. Challenges and opportunities for structural DNA nanotechnology. Nat. Nanotechnol. 6, 763-772 (2011).
  • Rothemund, P.W.K. Folding DNA to create nanoscale shapes and patterns. Nature 440, 297-302 (2006).