Demokrat adalah partai politik yang pernah penguasa bangsa ini selama 10 tahun, pada periode 2004-2014.

Pada periode emas tersebut, bangsa Indonesia dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang disebut dengan panggilan sayang Pepo. Sebagai presiden ke-6 di Indonesia yang juga sekaligus ketum Demokrat, orang ini “berhasil” memajukan bangsa ini.

Silakan definisikan apa itu “berhasil” di dalam bahasa ibu kita masing-masing. Bagi saya, orang ini berhasil. Berhasil merebut hati rakyat ini, dengan mimiknya saat diberhentikan dari kursi menteri saat dia di bawah kepemimpinan Ibu Megawati Soekarnoputri.

Beberapa lama setelah dipecat dari kursi menteri, SBY melakukan manuver politik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Banteng pun diadu. Dan berbekal modal hati rakyat yang ikut masygul karena perasaan yang resonan, Bapak Susilo menang dengan telak bersama Jusuf Kalla saat itu sebagai wakilnya.

Selama 2 periode kepemimpinannya bersama dua wakil, yakni Pak JK dan Pak Boediono, orang ini berhasil membuat 3 album lagu. Mencicipi karir politik tertinggi di Indonesia selama 2 periode, bukanlah hal yang mudah. Butuh perjuangan, kekuatan dan kompromi. Hahaha. Ya. Kompromi.

Pada penghujung tahun 2014, karier politiknya sudah siap lesu. Dia sudah pasti harus lengser dari posisi tertinggi itu. Kekuatan yang ia pernah himpun sudah sangat besar. Selama 10 tahun, anak-anaknya pun ada yang bermain proyek pemerintah.

Ibas sang Esau di Demokrat, lebih suka bermain di dalam bidang politik. Proyek-proyek besar ia kelola. Sedangkan Agus sang Yakub ada di militer. Lebih suka bermain-main dengan senjata, ketahanan negara dan lain sebagainya.

Pada tahun itulah, nampak kegalauan SBY. 2014 mereka berhasil membentuk poros baru dalam peta perpolitikan bangsa ini. Demokrat tidak mau berpihak ke mana-mana. Tidak Jokowi, tidak juga Prabowo. Keberanian ini, memang sudah diperhitungkan sebelum-sebelumnya.

Tenaganya masih besar. Baru mulai turun, artinya masih ada di atas. Basis massa Demokrat masih kuat. Orang seperti Hinca Pandjaitan, jangan main-main. Suara dukungan kepada orang ini sangat besar. Sudah sangat banyak penetrasi yang mereka lakukan di daerah-daerah pelosok.

Setelah perlahan-lahan gurita kepemimpinan nasional tercabut dari Demokrat, SBY pun terlihat begitu galau. Kegalauan politiknya, berbuah pahit bagi anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono.

Mungkin ia melihat Ibas tidak memiliki karakter kepemimpinan, dan juga rekam jejaknya yang pernah disebut-sebut oleh mantan ketua KPK, Antasari Azhar sebagai orang yang ikut-ikutan bermain di dalamnya.

SBY tahu kalau memproyeksikan Ibas, sama saja Demokrat terjun bebas. Maka ia memilih Agus, berharap masa depan Demokrat jadi bagus.

2016, adalah waktu Agus Harimurti Yudhoyono, dicabut dari akar-akarnya sebagai perwira militer, yang hidup baik-baik dengan keluarga yang sakinah, warrahmah dan mawwadah. Karir militernya dicabut, karena ambisi sang ayah.

Sebagai anak, saat itu ia hanya taat, dan menangis menerima keputusan ini. Pertaruhan politik itu tidak seperti militer. Kalau di militer, yang ada opsinya hanyalah menang atau menang.Meraih kemenangan di militer, harus disertai kerja keras.

Semuanya kaku, sudah jelas. Sudah ada aturannya. Polanya dan sebagainya. Semua saklek. Namun berbeda jauh di dunia politik. Kalau di dunia politik, kemenangan itu bukan diraih dengan cara-cara yang bersih, khususnya di DKI Jakarta.

Harus ada faktor-X yang benar-benar harus digarap. Salah satu yang berhasil digarap adalah isu SARA di Jakarta.

AHY diletakkan tanpa perhitungan yang rinci. Terlihat sekali penempatan AHY di dalam kontestasi calon gubernur DKI Jakarta sangat terburu-buru. Yang ia lawan adalah Ahok, gubernur aktif, Djarot mantan walikota Blitar, Anies mantan menteri pendidikan dan Sandiaga bos besar.

AHY tidak punya basis massa. Sedangkan rivalnya sudah memiliki pengaruh untuk merebut hati masyarakat Jakarta. Ahok Djarot punya modal pencapaian yang relevan dengan Jakarta. Anies Sandi punya modal pendukungnya yang kebanyakan HTI pengguna isu SARA. Sedangkan AHY?

Natur dua kaki senantiasa menempel di tubuhnya. Mau main SARA, takut-takut dan malu-malu kucing. Mau bermodal pencapaian, tidak pernah modal militer bisa memimpin kota ini. Lihatlah Prabowo, katanya karir militer bagus, tapi ya gagal juga.

Harapannya, dengan modal sang Bapak, orang ini bisa dimenangkan. Akan tetapi apa yang terjadi? Dia kalah. Suaranya kecil banget.

Hanya belasan persen di putaran pertama. AHY dan Silviana Murni pun akhirnya harus tumbang di periode pertama. Namun kepercayaan diri AHY belum luntur. Dia masih berharap agar dirinya bisa menjadi menteri. Di tahun 2019, Jokowi diputuskan menang.

Lagi-lagi manuver Demokrat dalam bermain dua kaki pun dikerjakan. Sebagai parpol pendukung Prabowo, beberapa kadernya main mata dengan Jokowi. Lihat itu Lae Ferdinand dan beberapa orang yang ada di Demokrat seperti Andi Arief. Mereka main mata dengan Jokowi. Akhirnya apa yang terjadi?

Ketika Prabowo keok, mereka merasa bisa mendapatkan suara dari Jokowi, namun tidak lama kemudian, mereka mundur.

Demokrat lesu. Mendadak tidak diberikan apa-apa. Apapun tidak dapat. Hanya bertengger saja itu Demokrat di DPRD dan DPR-RI. Itupun tidak ada gebrakan. Menteri? Boro-boro. AHY itu kasihan, dijanjikan wapres, menteri pun tidak dapat. Sekarang lihat kondisinya…

Apakah berlebihan jika kita mengatakan bahwa AHY adalah salah satu korban tragis dari cairnya politik di Indonesia, selain Rizieq? Mungkin, mereka lah yang menentukan cara hidup seperti itu...

Menyedihkan,,,