Jika merunut sejarahnya, sejak lahir dan berkembang di negara asalnya; Athena, demokrasi selalu di kecam oleh para filsuf semisal Platon, Aristoteles dan para pemikir yang sepemahaman dengan mereka. Menurut mereka, demokrasi adalah sistem yang paling buruk, sebab dalam sistem tersebut, suara kaum filusuf tak memiliki arti apa-apa. Suara orang yang arif lagi bijaksana sebanding dengan suara orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa mengenai suatu persoalan. 

Di samping itu, demokrasi adalah sistem di mana kaum sofis dapat telah meruntuhkan nilai-nilai  kebenaran dan kebaikan yang sejati. Kaum sofis selalu hadir untuk mencari keuntungan dengan mengumbar kecakapan retoris mereka dengan tujuan mendapatkan keuntungan pribadi, kelompok atau siapapun yang menggunakan jasa mereka di dalam sistem tersebut.

Demokrasi dalam kondisi yang seperti itu di gambarkan sebagai ajang pemanfaatan (eksploitasi) suara rakyat yang bodoh, dungu, dan tak mengerti apa-apa. Rakyat di 'cabar' (artinya di kompori) agar harus mengambil peran dalam memutuskan perkara yang sebenarnya mereka sendiri tidak terlalu paham dan mengerti mengenai apa yang mereka putuskan. 

Alih-alih menggunakan hak dasarnya untuk menentukan nasib, masa depan, dll, dengan memberikan suara, keputusan mereka justru adalah buah dari produksi opini yang telah di propagandakan dengan sedemikian rupa oleh kaum sofis yang ahli dalam mengelabui dan memanfaatkan ketidakpahaman rakyat itu, dengan bersembunyi di balik keindahan kata-kata mereka. Lalu rakyat yang bodoh dan dungu pada zamannya itu menjadi takjub, terpesona dan mengikuti opini umum yang berkembang hasil dari upaya kaum sofis tersebut.

Sementara itu, setelah terpengaruh oleh opini yang telah di propagandakan oleh kaum sofis, maka rakyat secara sukarela berbodong-bondong datang ke tempat-tempat rapat dengan tujuan hendak memberikan hak memutuskan (suara) mereka. Dan sudah dapat di pahami bahwa zaman itu, atau juga saat ini, keputusan selalu bersandar pada faktor opini yang terbangun dalam lingkungannya. Opini yang paling kuat yang menjadi konsumsi rakyat umum adalah sebuah kebenaran dan kebaikan, dan hal itulah yang menentukan keputusan-keputusan rakyat. 

Jadi di dalam rakyat yang mayoritas nalarnya dangkal dalam menentukan kebaikan dan kebenaran, serta mana yang seharusnya dan mana yang sejatinya, sangat di tentukan oleh produksi opini yang berkembang dan menguat. Sukur saja jika opininya memang mengarahkan kepada kesejatian, kebenaran, kebaikan, dan bahkan objektifitas moral-etik untuk mengatur kehidupan rakyat, namun jika tidak, maka seluruh keputusan yang di tetapkan akan berakibat fatal.

Sepak terjang kaum sofis yang keterlaluan itu kemudian di lawan habis-habisan oleh Socrates. Socrates karena keyakinan dan  dengan keberaniannya berusaha menggugat status quo sofisme yang begitu mengungkung dan membelenggu rakyat athena dan juga penguasanya yang telah bercokol begitu lama. 

Di satu sisi, para sofisme lantas melihat socrates sebagai ancaman. Lalu mereka bersekongkol untuk membungkam suara kebenaran yang di perjuangkan oleh socrates. Mereka melancarkan serangan bertubi-tubi kepada socrates. Mereka membangun isu, opini dan semacamnya: socrates adalah pembangkang. Ia berbahaya bagi kelangsungan peradaban athena. 

Artinya secara tidak langsung, socrates berbahaya bagi kelangsungan demokrasi athena yang begitu di elu-elukan. Sebab bagi socrates, kebenaran, kebaikan, hakikat dan kesejatian segala sesuatu, termasuk juga ketepatan keputusan-keputusan yang melibatkan rakyat banyak, bukanlah soal atau di tentukan oleh siapa yang berbicara, atau seberapa banyak orang yang menyepakatinya, melainkan di tentukan oleh objektifitas dari sesuatu itu sendiri. 

Bukan siapa dan berapa banyak, melainkan apa yang mereka katakan, dan objektifkah kebenaran yang mereka katakan. Kemapanan kaum sofis semakin terancam. Tak tanggung-tanggung, upaya pembungkaman mereka terhadap socrates pada akhirnya menemukan jalannya sehingga akhirnya socrates dapat di hukum mati dengan cara meminum racun.

Pada ruang tertentu, dan dalam kasus-kasus kekinian, kita juga menyaksikan keadaan semacam itu. Kita melihat dengan mata telanjang saat ini banyak sekali orang yang befikir juga bertingkah seperti mereka; kaum sofis, namun dalam wajah dan jubah yang baru. Maka mereka yang semacam ini aku sebut sebagai 'Neo-Sofisme', atau 'Neosof'. 

Hanya saja neosof saat ini bukan hanya dalam lapangan pemikir, filsuf, atau sains, akan tetapi praktik ini juga di lakukan oleh sebagian kaum yang berkedok agamawan. Dengan memproduksi wacana, opini dan isu-isu menyesatkan, mereka kemudian mempropagandakan semua itu sedemikian rupa agar rakyat terpenggaruh dan tertarik dengan argumentasi-argumentasi picik lagi jahil, dengan keindahan retoris yang mengaburkan pokok persoalan dan niatan yang mereka sembunyikan!

Jika pada zaman sofis yang di maksud dengan kebenaran dan kebaikan adalah berdasarkan berapa banyak suara yang menyepakatinya (klasik-truth), maka zaman sekarang yang di maksud kebenaran dan kebaikan adalah sebarapa banyak suara yang menyampaikannya (post-truth). truth sebagaimana yang di tasbihkan dalam kamus Oxford adalah “situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang obyektif”.

Roy Ascott, dalam Reframing consciousness: art, mind and technology mengatakan; "In the post-truth world, the people are saturated by a plurality of discourses that are struggling for the consent of the audience, the difference being that the explosion of messages that characterises modernity is no longer stamped with the 'authority' of their authors". 

Habermas bahkan jauh-jauh hari telah mengingatkan soal ini. Habermas, sebagaimana yang di jelaskan oleh Eko Sulistyo dalam "Medsos dan Fenomena ”Post-Truth”, bahwa “ko­nektivitas medsos akan meng­ganggu stabilitas pe­nguasa oto­riter, tapi juga akan mengikis kepercayaan publik pada de­mo­krasi. Medsos bisa berperan membuka ruang demokrasi dan pluralisme secara global serta menghubungkan orang-orang agar suara mereka didengar. Namun di sisi lain medsos dapat menjadi ancaman bagi demo­krasi dan pluralisme”. Itu artinya dengan kata lain, post truth sendiri adalah buah dari kebebasan media massa yang disalahgunakan.

Majalah The Economist sendiri menerbitkan persoalan ini pada Tahun 2016 dengan judul, “Art of the Lie” dengan kata kunci yang cukup menarik. Di katakan bahwa post truth merupakan konsekuensi dari evolusi media: "Post-truth has also been abetted by the evolution of the media". Sementara pada faktanya kita mengetahui bahwa media massa dalam sistem demokrasi selalu di kuasai dan di dominasi oleh elit tertentu, dan lebih parahnya, setiap media itu memiliki unit-unit think-thank yang bertugas untuk memproduksi opini-opini kebohongan untuk di propagandakan. 

Artinya neosof bertalikelindan dengan penyalahgunaan media massa dalam mempropagandakan kebenaran yang tidak benar dan kebaikan yang tidak baik dalam sistem demokrasi yang begitu lemah sebagaimana yang selalu di pandang sinis oleh para filusuf.

Sampai di sini, kita telah berada pada kenyataan bahwa saat ini, bukan lagi soal kesalahan yang di sampaikan berkali-kali, melainkan seberapa banyak yang meyakini dan menyepakatinya serta menyebarkannya. Itulah kebenaran dan kebaikan zaman ini, minimal bagi sebagian besar orang yang ku sebut sebagai neo-sofisme atau neosof. 

Dan neosof berusaha memprogandakan kebohongan mengenai idealitas kebenaran dan kebaikan agar semakin banyak orang juga ikut menyuarakannya melalui berbagai media massa. Dengan cara semacam itulah sehingga semua keputusan-keputusan yang melibatkan rakyat dapat berjalan sesuai dengan tujuan dan harpaan mereka.

Dalam kondisi dan dengan cara semecam inilah para neosof memainkan perannya dengan memanfaatkan kelemahan dan ketidakefektifan demokrasi yang sedang kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Demokrasi akan selamanya di hiasi oleh sofisme dalam segala macam bentuk dan rupa. Dengan memproduksi kebenaran dan kebaikan yang tidak sejati; yakni kebenaran yang tidak benar dan kebaikan yang tidak baik, agar rakyat juga ikut meyakini, meyuarakan, dan menetapkannya sebagai keputusan-keputusan suara mereka.