Masih tentang menunggu harapan dan rasa. Masih tentang menunggu asa menjadi nyata. Juga tentang aku yang tak bosan. Menyulam doa serta masa depan. Dibelakang kata "semoga". Merayu Tuhan untuk mewujudkan. 

Ya Tuhan... Diri ini terlalu banyak melantunkan berbagai macam bentuk harapan dan kemauan kepada-Mu. Tapi diri ini pun juga merasa tak patut untuk kau kabulkan seluruh harapan dan doa ku. 

Ya Tuhan... Aku sadar didalam hati ku. Masih banyak tersimpan beribu menafikan dan kecerobohan yang telah ku perbuat. Ya Tuhan.... Atas nama Tuhan.. Aku selalu meminta dan terus meminta untuk Kau maafkan dan kabulkan seluruh harapan dan doa ku. 

Demi nama puisi... Ku selipkan beribu doa kepada-Mu Sang kekasih dan sang maha kasih. Pada Mu Tuhan zat yang Maha atas segala Maha. Aku hanya bermohon dan meminta kepada-Mu. Beri aku perlindungan dan naungan-Mu. Hanya dengan itu aku akan tetap bisa untuk berjalan dan menyusuri lika liku hidup yang penuh duri dan semak belukar. 

Ya Tuhan.... Mudahkanlah jalan ku untuk menghadap Mu. Duhai kekasih ku, mudahkanlah seluruh urusan ku didunia ini seperti Kau mempermudah Muhammad untuk menyebarkan dan mensyiarkan agama Mu. 

Ya Tuhan.... Aku hanya hamba yang berlumuran dosa. Tapi aku pun tak kuat untuk masuk neraka Mu. Ya Tuhan... Aku pun juga mengharap surga Mu. Tapi aku pun juga malu pada diri ini untuk masuk kedalam surga Mu. 

Karena diri ini terasa belum patut untuk masuk kedalam tempat . Dimana tempat itu tempat yang sangat indah dan diperuntukkan bukan untuk ku yang hanya sering dan selalu kesalahan dan kemunafikan.