Zuvita bungah, terik matahari siang tak dihiraukannya. Ia berlari ke depan rombongan kami, lalu mendadak berhenti, mengeluarkan handphone dengan cover lucu, entah gambar kucing atau panda, cokelat muda warnanya. 

"Cheerrsssss!" teriaknya. Kami pun sigap dengan permintaan wefie-nya. 

Wajah Zuvita memerah. Mungkin karena matahari yang makin terik, tetapi saya yakin karena ronanya bahagia. Kami baru saja diskusi tentang desanya, Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. 

Produksi Mesin Pencacah

Zuvita mengajak kami mengelilingi workshop pembuatan mesin pencacah pelepah sawit. Iya, ia bersama pemuda desa membuat sendiri mesin cacah tersebut. 

"Kalau beli sangat mahal. Kami berinisiatif membuat sendiri dan hasil cacahannya ternyata lebih halus," jelas Suhono, Kepala Desa Delima yang mendampingi kami. 

Workshop ini masih baru, tetapi sudah 10 mesin pencacah laku dijual ke desa lain. Satu mesin sudah siap, tinggal dikirim ke desa lainnya.

Mesin cacah ini sangat digemari di seputar desanya. Tentu ini tidak lepas dari usaha kompos yang dirintis di desa tersebut. 

Pembuatan kompos yang baru dimulai 2017 lalu kini berkembang pesat. Di sepanjang 2017 lalu, mereka bisa memproduksi 350 ton pupuk kompos, yang dikerjakan 5 orang. Lumayan. 

Tahun berikutnya, permintaan kompos melonjak 3500 ton. Tetapi realisasinya hanya bisa  mengirim 2500 ton kompos. Dari 5 orang pekerja, kini melonjak menjadi 80 orang. Rerata pekerja ini memiliki pendapatan 100 ribu per hari. Penghasilan yang lumayan. 

Dulunya warga ini banyak yang pengangguran. Pendapatan 100 ribu per hari tentu berdampak pada kesejahteraan keluarga. Per kilo kompos harganya Rp1.135. Nah, silakan kalikan sendiri pendapatan mereka.

Kompos mudah dibuat di desa ini karena banyak ternak yang dimiliki warga atau kelompok tani, tatusan. 

Awalnya sapi-sapi ini bantuan dari perusahaan, kemudian bergulir ke warga yang lain karena telah beranak pinak. Ada pula bantuan APBD dan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Perusahaan yang paling dekat dengan Desa Delima adalah Wira Karya Sakti. Dua puluh ekor sapi awalnya, kini sudah ratusan. Nah, kotoran sapi dicampur dengan cacahan daun sawit dan abu sisa pembakaran, dicampur jadi satu. 

Tidak hanya lelaki yang bekerja, perempuan pun banyak jumlahnya. Teriknya siang, mereka tepis dengan bedak dingin buat wajah. 

"Sini, bu, saya potret," ujar saya pada dua orang ibu yang sedang bekerja.

"Malulah kita. Wajahnya penuh bedak begini," ujar mereka. Lalu kami tertawa.

Delima yang Gelisah

Delima memang bersolek dalam dua tahun terakhir ini. Zuvita berperanan banyak di dalam proses geliat warga. 

"Sejak 2015, sudah ada Bumdes sebetulnya, tetapi entah kenapa dua periode kepengurusan tidak  berjalan. Saya pengurus ketiga sebetulnya," Zuvita menjelaskan.

Pengurus pertama sepakat mengundurkan diri, sambil meninggalkan berbagai masalah. 

Pada kepengurusan kedua, Zuvita menjadi sekretaris. Tapi ketuanya tidak aktif. Jadilah ia berjibaku mengelola Bumdes. 

"Aduh, tertekan sekali saya waktu itu. Perempuan, masih muda, dan latar pendidikan saya fisika. Tahu apalah saya tentang mengelola kegiatan desa ini?" cerita Zuvita.

Kepada Suhono, Kepala Desa Delima, ia minta waktu satu bulan bagi desa untuk mencarikan penggantinya.

"Saya hanya akan sanggup satu bulan saja. Pasti tidak lebih dari itu," tambahnya.

"Ibarat pelajar Paud, baru mulai belajar, lalu sudah harus naik kelas ke TK. Begitu seterusnya proses belajar saja," lanjutnya menceritakan bagaimana ia harus terus berlari untuk belajar mengelola kegiatan masyarakat ini. Dan hingga kini ia masih setia mengelola Bumdes di desanya.

Desa yang Menghidupi

"Ini ambisi kami saja sebetulnya. Kami melihat kemampuan warga di bidang bengkel, kompos, peternakan, dan perikanan. Juga potensi pasar, masyarakat ini sendiri yang akan menjadi pasar produk-produk desa ini," jelas Suhono, lelaki kelahiran Planjaran, 17 Juli 1985.

Duet Suhono dan Zuvita ini yang membuat Bumdes terus berlari. Dari awal hanya membekali masyarakat dengan kegiatan ternak sapi, menanam kacang panjang, terong dan kacang, juga beternak lele. 

"Lelenya gagal. Dari 2000 benih, hanya hidup hanya 500 ekor," jelas Zuvita. 

Ada 10 kolam yang mereka miliki. Satu kolam perlu modal Rp2.5 juta. Tetapi pada waktu panen hanya sekitar Rp1-1.5 juta hasilnya.

Ia tahu warga pasti kecewa. Tetapi mereka belajar, pasti ada yang salah dari proses yang selama ini dijalani. 

"Akhirnya kita tahu, lele tidak bisa ditebar begitu saja. Yang salah bukan warga, tetapi pada proses belajar kita," tambah Zuvita. 

Mereka lalu belajar ke desa lain di Dataran Kempas yang sudah lebih berhasil beternak lele. Kini sudah ada penebaran benih yang kedua, 1500 jumlahnya. 

"Dan syukurlah hidup semua, tetapi kecil-kecil, tidak bisa berkembang jadi besar. Mungkin sesuai dengan direktur Bumdes-nya yang kecil begini," tertawa Zuvita menjelaskan. Lele berubah menjadi abon, supaya bisa dikonsumsi lebih lama lagi. 

Wira Karya Sakti tak bisa dilepaskan dari proses geliat desa ini. Melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), mereka mendampingi warga agar kegiatan ekonominya berkembang. Masyarakat yang sejahtera pasti tidak akan membakar hutannya. Tingkat kebakaran turun siginifikan.

Mimpi Delima

Zuvita Ardaningsih, kelahiran 17 Mei 1994. Ia menjadi direktur Bumdes termuda se-Indonesia. Desanya kini banyak dikunjungi desa-desa lain untuk belajar mengelola Bumdes. 

Dari awalnya hanya 4 kegiatan, kini sudah belasan program dijalankan. Ada depot pengisian air isi ulang, produksi kompos, peternakan sapi, perikanan lele, pertanian holtikultura, workshop perbengkelan, sewa ruko dan retribusi pasar, jasa BriLink dan jasa transportasi.

Desa Delima adalah pemekaran dari Desa Purwodadi sejak 2011. Lalu pada 2016, Suhono menjadi kepala desa hingga pertama. Desa ini awalnya banyak ditinggalkan pemudanya untuk merantau. Tetapi sekarang sumber penghasilan justru ada di sini.

Meski awalnya lemas ditunjuk jadi direktur Bumdes, semangat Zuvita bangkit saat ia peroleh kesempatan untuk berkunjung ke Perawang. 

"Iya, saya semangat sekali jadinya. Karena desalah saya bisa ke mana-mana akhirnya. Ini yang menyemangati saya," ujarnya. 

Kiprahnya berlanjut pada pertemuan Forum Bumdes Indonesia, lalu menjadi pemateri tentang Bumdes se-Jambi.

Di Bengkulu, Bumdes dari Desa Delima ini menjadi juara terbaik dan juara nasional. Zuvita mampu menjelaskan bagaimana aliran dana di desanya dan pertanggungjawabannya kegiatan warga melalui Bumdes. 

Kini, Bumdes-nya sedang ditantang untuk mengikuti lomba di tingkat Asia, tentang manajemen pengelolaannya.

"Sekarang kami sedang bermimpi, merancang desa ini menjadi sentra wisata. Banyak yang belajar ke sini, terpikir untuk membuat paket wisatanya sekalian. Bertukar pikiran, tinggal di desa, dan pulang bawa oleh-oleh warga," jelasnya. 

Depot air pun akan dikembangkan menjadi pabrik air minum dalam kemasan. 

"Kami ingin warga bangga dengan desanya. Hidup dan menghidupi dari desa ini sendiri," tambah Suhono yang diiyakan Zuvita. 

Zuvita Ardaningsih, SpD. Iya, SpD, karena selain mengurusi Bumdes, Zuvita juga guru SMA di Dataran Kempas. Guru matematika tepatnya.

Zuvita dicinta warga. Karena Bumdesnya menyumbang Rp690.690.138 untuk desa. Juga karena semua yang berkegiatan di Bumdes mendapatkan BPJS untuk kesehatan, kematian, dan jaminan hari tuanya. 

Ia bahagia dicinta masyarakat, meski hingga kini belum ada cinta yang mengisi hatinya. Ahaiiiiiiiii......, barisan jomblo bertambah satu rupanya.