Di saat kebanyakan orang selalu rindu dan memiliki hasrat untuk bertemu orang tuanya begitu besar, rasa-rasanya aku biasa-biasa saja. 

Sekian lama terpisah dari keluarga, mengejar segala mimpi-mimpi yang berserakan di setiap lorong-lorong waktu, di dalam tong-tong harapan, di bawah kolong-kolong masa, dan yang cukup aku yakini ‘semua karena waktu’. Dari hal itu aku terus mencoba belajar, belajar dan belajar, tanpa pernah terbesit rasa penyesalan.

Ibu sekaligus Filsufku, manusia kebijaksanaan dalam hidupku. Lewat dirimu aku mengerti arti sebuah kerja keras hingga garis batas kekuatan. Tangan dan suaramu tak pernah berhenti barang sejenak untuk tidak menujukiku segala hal agar di kerjakan. 

Mata dan kakimu tanpa pernah lelah berpacu dengan segala hal yang baru. Aku sungguh mencintaimu, hingga bukan lagi sosok yang aku cinta, tapi cinta itu sendiri.

Sosok ayah bagi diriku telah lama menghilang dalam pandangan dan ingatan. Aku terus berusaha membuat diriku yakin, bahwa kenangan pada dasarnya bukan untuk di ingat. Percayalah pasti ibu akan tidak sepakat dengan ini, tapi itulah aku.

Sesuatu kenangan bukan hanya ingatan-ingatan kosong tentang suatu hal-hal lama. Kenangan yang teringat selalu menjadi kebersamaan saat itu pula, entah saat sunyi atau diam.

Tak biasanya aku bangun se-pagi ini dan kemudian menuliskan kata-kata yang kurang aku pahami sendiri. Tapi, bukan berarti aku jarang ada di tiap-tiap banyak mata terlelap di dalam mimpi-mimpi, ketika gemericik air menetes terdengar begitu keras, kala seekor burung malam mendengkur di atas ranting pohon mengigau tentang kereta waktu, atau sekelompok kodok bernyanyi tentang cinta dan mati.

Hari kemarin aku tidur begitu cepatnya, dering telepon mengusik kantuk hingga dini hari aku bangun tergagap.

Tililing… tililing… (suara telepon berdering)

Dingin malam menyapa diri ini, aku lihat dari layar ponsel ‘Mama Q’ memanggil. Dalam benakku berkata; Ini baru jam 2 pagi, Ma. Se-pagi inikah kau telepon anakmu ini. Aku pun bangun dan mengangkat telepon itu.

Lebih tepatnya jam 02:13 ibuku menelepon pagi itu. Sebenarnya tak terlalu pagi bila aku ada disana. Tempat kelahiranku yang indah dan mempesona, di ujung negeri ini.

“Assalamuallaikum”

“Waalaikum Salam”

“Baru bangun to, Le?”

“Iya. Gmna kabarnya, Ma?” 

“Alhamdulillah baik, Le”

“Sampean gmna kabarnya? Jarang nelepon mama, apa enggak kangen to?”

Aku adalah seorang anak yang jarang sekali bertegur sapa dengan orang tua (ibu). Jangankan memberi kabar, menelepon saja itu kalau memang di telepon. Aku adalah anak yang jahat, bahkan durhaka. Begitu kemungkinan ibu akan berpandangan, terserah! Itu hak ibu menilai, aku takkan gusar atau bahkan marah.

Orang seperti aku, harusnya hidup di zaman batu. Mendengarkan segalanya tanpa pernah berkata-kata, menyimpan segalanya dalam-dalam untuk waktu yang cukup lama dan entah sampai kapan itu akan terjadi biarlah waktu akan menjawab. Maksud baik tak selamanya berdampak baik. Begitu juga sebaiknya, hasil yang baik tidak serta merta harus melalui cara baik.

“Pasti kangen to, Ma”

“La iya to, mbok sampean itu kasih kabar atau nelepon. Sampean kalo nggak di telepon, nggak bakal nelepon”

“Gmana kabar Aziz dan Alif, Ma?” tanyaku. Itu hanya sebagai mengalihkan pembahasan tentang telepon menelepon. Tapi pastikan, Bu! Aku sungguh rindu denganmu dan adik-adikku, suaranya, tawanya, tangisnya, dan segala-galanya.

Anda (semua pembaca) dapat tertawa, menertawakan tentang kata-kata rindu yang dalam benak anda itu hanyalah bahasa bagi orang pesakitan. Bagi aku rindu adalah kata yang terbungkus dalam daun pisang dan direbus barang berapa jam, hingga di diamkan waktu. 

Suasana menikmatinya kala lebaran, bersama-sama kerabat dan handai tolan. Rindu yang cukup membuat kita akan mabuk kepayang bila lama di endapkan dan telah mengalami fermentasi yang cukup melelahkan.

Cukup aku saja tahu, betapa engkau (ibu) sangat merindu, sedangkan rinduku tak akan cukup diucapkan lewat telepon ini. Barang buatan Cina amat kecil dari barang buatan Cinta, walau saja pepatah bijak mengatakan carilah sampai negeri Cina, aku cukup percaya dan keyakinanku hanya penuh dengan cinta.

Jauh dahulu kala, manusia sering berkata satu pepatah; “Jauh di mata dekat di hati.” Namun kini sebaliknya, pepatah itu terjungkal dalam jurang paling dalam hingga menyeret tiap insan tertidur cukup panjang, aku hanya berbisik “Dekat di mata jauh di hati” betul begitu? Jangan lekas di jawab kawan. Sebab ini bukan soal ujian kelulusan, yang mesti dan harus diselesaikan. 

Cukup dengan tersenyum paling manis yang bisa anda berikan. Itu pun bukan karena aku meminta, sebab meminta-minta dalam agamaku cukup dilarang. Mari tertawa hahahahah…  

Aku  sudah bilang, tulisan ini aku pun tak memahaminya, Ibu. Ada hal-hal dan itu banyak sekali yang mesti tidak kita pahami, misalnya kenapa aku menghilangkan sosok ayah dalam ingatan, kemudian aku yang tidak memahami tulisanku sendiri, dan mengapa aku enggan menelepon ibu di setiap rasa rindu mendoberak pintu-pintu kesadaran.

Kiranya ibu seorang bijak, aku pun tak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Semakin aku mencoba menjawab, semakin tak akan mengerti dan dipahami olehmu, Ibu.

“Jaga diri baik-baik, Le” sambil terdengar suara menyesak akibat tangisan.

“Iya, Ma. Jaga kesehatan juga di sana, bilang ke Aziz dan Alif rajin-rajin membaca. Baca apa saja, kalo bisa cerpen kompas. Udah gitu aja ya, Ma. Assalamualaikum”

“Walaikum Salam.”

Telepon mati. 

Aku beranjak ke kamar mandi mengeluarkan segala hal yang mesti di keluarkan. Dengan telepon, mata amat dekat dan hati amat jauh.