Di tengah kemajuan zaman yang serba modern seperti sekarang ini, perkembangan remaja bisa saja berdampak positif maupun negatif, salah satunya perkembangan moral. Dengan krisis ekonomi yang melanda bangsa, kehidupan rakyat semakin terseok-seok. 

Hal ini ditambah lagi dengan semakin bobroknya moral yang nyaris dapat ditemui pada semua lapisan masyarakat dan para pejabat negara yang sampai saat ini belum tertangani secara memuaskan, begitu pula masalah moralitas remaja. 

Ya, moralitas remaja sekarang memang sedang mencapai titik yang memprihatinkan. Rebusan pembalut wanita, misalnya, adalah salah satu penyebab motif perilaku amoral pelajar yang sedang viral akhir-akhir ini. Banyak remaja yang mengonsumsi dan meminum air hasil rebusan pembalut wanita tersebut.

Masalahnya, apakah ada yang salah dengan rebusan pembalut? Ya, rebusan pembalut memberikan efek yang luar biasa jika dikonsumsi secara berkepanjangan. Bahkan bisa menimbulkan halusinasi, mirip seperti yang dialami pada orang yang melakukan penyalahgunaan narkoba. Imbasnya adalah rebusan pembalut ini dapat merusak otak dan bahkan bisa menyebabkan kematian.

Selain itu, masih terdapat berbagai bentuk perilaku amoral lainnya di kalangan pelajar maupun anak muda sekarang seperti halnya menonton video porno yang ironisnya ternyata pelaku pembuatnya 90% adalah remaja, tawuran, pemerkosaan, aborsi, penyalahgunaan narkoba, penjiplakan karya ilmiah (skripsi) dan masih banyak lagi. Fenomena ini merupakan potret buruk merosotnya nilai moral sosial budaya kita saat ini, khususnya di kalangan para pelajar.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pelajar bisa terlibat dalam kenakalan remaja? Apa yang melatarbelakangi hal itu semua? Seolah-olah Mendengar sebutan remaja, yang terbesit di benak kita yaitu sejumlah perilaku remaja yang bernada negatif.

Pendidikan Membentuk Manusia

Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa Indonesia lebih “menganak-emaskan” ilmu-ilmu eksak, sementara ilmu-ilmu dalam kluster sosial khususnya ilmu agama cenderung “dianak-tirikan”. Contoh sederhananya, pemerintah kini memangkas kuota beasiswa LPDP untuk ilmu-ilmu sosial humaniora. Inilah langkah keliru yang tengah diambil pemerintah.

Melihat arah kebijakan pemerintah, sepertinya pendidikan di Indonesia tidak diarahkan untuk mendidik manusianya sehingga pelajar sekarang sudah tidak mementingkan pendalaman akhlak dan moralitas.

Tujuan pendidikan bagi manusia dalam arti luas sebenarnya untuk menciptakan manusia yang lebih beradab dan berbudi pekerti luhur. Akan tetapi, bila dilihat dalam dunia pemikiran Islam, pada saat ini Indonesia telah mengalami kemunduran yang disebabkan oleh kehilangan adab. Inilah bentuk kerugian bilamana pendidikan tidak diorientasikan pada pembentukan manusia secara utuh. 

Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah, tujuan umum pendidikan islam adalah membentuk kepribadian sebagai khalifah Allah atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang mengacu kepada tujuan akhir manusia.

Selama ini pendidikan direduksi maknanya hanya sebatas pengajaran saja. Sedangkan praktiknya hanya transfer ilmu pengetahuan dan belum sampai pada intensifikasi pengetahuan ini menjadi perilaku yang baik. Inilah yang disebut adab, sebagaimana disebut Nabi Muhammad bahwa Allah mengajarkan (adab) dengan sebaik-baik adab. 

Karena itu, tidak mengherankan jika peserta didik wajib mengembangkan adab yang sempurna dalam ilmu pengetahuan sebab ilmu pengetahuan tidak akan bisa diajarkan pada peserta didik jika tidak mempunyai adab atau beradab.

Degradasi moral ataupun kadang disebut sebagai kenakalan remaja (juvenile delinquency), bukanlah murni dari kesalahan remaja secara sendiri. Mereka membangun dirinya dalam konteks lingkungan masing-masing yang bisa saja menstimuli menguatkan, bahkan mendorongnya dalam mencapai jati dirinya.

Ada yang berhasil, namun juga tidak jarang ada yang gagal. Misalnya disebabkan oleh kualitas lingkungan tempat tinggal yang sebagian besar didomisili oleh masyarakat dengan kriminal yang tinggi sehingga remaja dapat mengamati berbagai model masyarakat yang melakukan aktivitas kriminal dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka.

Bisa juga hal tersebut disebabkan oleh kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua sampai pada lemahnya iman yang dapat menjadi pemacu timbulnya kenakalan remaja.

Dalam mengatasi permasalahan ini, diharapkan untuk menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu. Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut. 

Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda yang lebih baik dari lingkungan sebelumnya. 

Pertanyaannya, tugas siapa itu semua ? Orangtuakah ? Sedangkan orangtua sudah terlalu pusing memikirkan masalah pekerjaan dan beban hidup lainnya. Saudaranyakah ? Mereka juga punya masalah sendiri, bahkan mungkin mereka juga memiliki masalah yang sama. Pemerintahkah? Atau siapa? 

Tidak gampang untuk menjawabnya. Tetapi, memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan remaja dengan baik akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada.

Referensi

  • Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1979.
  • Suwito. Filsafat Pendidikan Akhlak: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar Press, 2004.