Inspirasi bisa dari siapa saja. Termasuk dari Yulianus Rettoblaut. Mami Yuli, begitu ia disapa, merupakan seorang transjender laki-laki berpenampilan perempuan atau banyak orang biasa menyebut “waria” (wanita-pria).

Dedikasinya memperjuangkan kaum transjender tak perlu diragukan lagi. Ia pernah melakukan gebrakan hebat dengan mencalonkan diri menjadi anggota Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada 2007. Upayanya itu untuk mengikis pandangan negatif terhadap kaum transjender. Sekaligus, meraih peluang keterwakilan kaum homoseksual di lembaga negara untuk pertama kalinya.

Ia lolos seleksi bersama 42 calon anggota lainnya. Namun, upayanya terganjal saat uji kelayakan di Dewan Perwakilan Rakyat. Di sana memang banyak anggota parlemen masih diskriminatif dan tak berperspektif HAM terhadap kelompok minoritas.

Kegagalannya tak membuat ia berhenti berjuang. Ia bersama organisasi yang ia pimpin, Forum Komunikasi Waria se-Indonesia (FKWI), semakin giat memberdayakan kaum transjender agar tak diremehkan oleh kelompok sosial lainnya dan aparat negara.

Mami Yuli lahir di Famborep, Asmat, Papua pada 31 April 1961. Ia dididik oleh kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru. (Alm) Petrus Rettoblaut dan (alm) Paskalina Hurulean mendidik Mami Yuli dengan pola pendidikan yang displin, taat agama, dan taat pada adat istiadat nenek moyang.

Meski demikian, perasaan menyukai sesama laki-laki muncul dari dalam hatinya sejak usia 12 tahun. Tak ada seorang pun memiliki perasaan sama saat itu. Hal itu membuat Mami Yuli sedikit bimbang. Ia sempat berpikir bahwa perasaannya merupakan suatu penyakit.

Perasaan menyukai laki-laki semakin besar ketika ia duduk di bangku asrama setingkat sekolah menengah pertama. Sekolah itu dikelola oleh pastur dan biarawati asal Belanda yang masih memiliki pandangan keras soal homoseksual.

“Kalau banyak orang bilang menjadi waria itu ikut-ikutan, saya pikir tidak juga. Saya mengalami sendiri perasaan ini muncul dengan sendirinya. Banyak kawan-kawan kami mengalami hal yang sama,” tuturnya.

Beranjak ke sekolah menengah atas di kabupaten, ia menemukan beberapa teman sekolahnya yang memiliki perasaan sama. Tetapi, mereka masih belum terbuka. Lambat laun, mereka berani tampil meski belum berpakaian perempuan.

Sejak itu, kira-kira 1970-an, tindakan diskriminatif muncul dari orang-orang di tempat mereka berada. Mereka kerap menjadi bahan ejekan “anak-anak kolong”, anak-anak tentara. Kata “perempuan busuk” telah menjadi angin pagi sehari-hari yang menyambut mereka begitu berada di luar asrama. Rasa dinginnya meresap hati hingga saat ini.

Pernah suatu ketika, saat mereka mengikuti perlombaan menyanyi, ejekan dan cacian menggantikan riuh apresiasi penonton. Meski merasakan sakit, mereka tak mau ambil pusing. Mereka yakin dengan hidup yang dijalani apa adanya itu.

Begitu lulus, Mami Yuli melanjutkan kuliah di salah satu universitas Katolik di Jakarta. Di masa itu, ia semakin mengetahui banyak orang yang sama orientasi seksualnya. Ia kemudian diajak ke Taman Lawang, Jakarta Pusat, sekadar ingin tahu bahwa banyak orang yang sama dengan dirinya.

Sekitar tahun 1980-an, Mami Yuli terbilang cukup sukses dalam karirnya. Ia bekerja di salah satu perusahaan asuransi dengan kedudukan yang cukup baik. Ia berhasil membeli rumah dan mobil. Penghasilannya lebih dari cukup.

Saat itu, ia berpacaran dengan seorang lelaki. Seluruh kebutuhan hidup pasangannya ia biayai. Saking percayanya, ia rela memberikan semua uangnya untuk lelaki itu. Ternyata, kepercayaannya disalahgunakan. Ia dibohongi dan dikhianati. Harta yang susah payah ia rintis sejak awal habis.

Sebagai seorang manusia, Mami Yuli merasakan sakit hati. Ia mengalami frustasi. Semangat hidupnya meredup. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti kerja. Mungkin saja itu keputusan yang salah. Tetapi, belum tentu akhir dari harapan hidupnya.

Di tengah situasi seperti itu, pergolakan soal orientasi seksualnya kembali mencuat. Ia kembali mempertanyakan soal pilihan orientasi seksualnya yang membuat ia mengalami semua itu.

“Apa yang ada di dalam diri saya telah membuat saya susah,” keluhnya.

Di dalam pergolakannya di tengah rasa frustasi itu, ia terjun ke dunia prostitusi di Taman Lawang. Selama 17 tahun ia jalani hidup yang tak pernah ia alami sebelumnya. Hidup terlantar di jalan dan memaksakan diri menjadi pekerja seks untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarganya pun tak menerima kehadirannya. Ia terbuang dan teracuhkan.

Suatu ketika, perasaan benci pada diri sendiri muncul. Pikirannya kembali ditarik ke masa silam. Ia berpikir, kenapa hidupnya yang dulu enak dengan mempunyai banyak uang dan dihormati banyak orang hancur karena laki-laki.

Seakan menemukan kembali arti hidup, pada sekitar 1997, Mami Yuli bertekad membanting setir kehidupannya. Saat itu, ia mulai berpikir mengorganisir teman-temannya. Keyakinannya tak bisa dibendung lagi. Dengan bekal pendidikan dan pengalaman kerja yang pernah ia tempuh, ia merasa memikul tanggung jawab menjadi terang bagi teman-teman. Ia mulai mengajak beberapa teman di Taman Lawang untuk mulai memikirkan masa depan.

Upayanya tak sia-sia. Beberapa tahun perjuangannya meyakinkan teman-teman disambut pihak Gereja Katolik Stefanus di Cilandak, Jakarta Selatan. Pihak gereja membuka diri terhadap orientasi dan identitas seksual Mami Yuli dan teman-temannya. Pihak gereja memfasilitasi beberapa kegiatan yang diadakan FKWI. Kegiatan-kegiatan pemberdayaan menjadi prioritas organisasi itu.

“Jika mereka sekolah dan pintar mana mau mereka bekerja di pinggir jalan. Waria yang menjadi pekerja seks sebagian besar karena memang mereka tidak mendapatkan pendidikan. Mereka mencari jalan instan agar dapat makan. Ini urusan perut,” kata Mami Yuli.

Selama perjuangannya, ia semakin sadar persoalan diskriminasi dan kekerasan sering dialami oleh kaum homoseksual. Namun, tak banyak kasus itu yang tersentuh hukum. Padahal, kaum homoseksual juga warga negara yang hak-haknya dilindungi undang-undang.

Atas dasar kondisi itu, Mami Yuli menempuh pendidikan Fakultas Hukum di Universitas Islam At-Tauriyah, Tebet, Jakarta Selatan. Keputusannya menempuh kuliah di universitas Islam terbilang langkah yang berani. Bagaimana tidak, ia menjadi satu-satunya mahasiswa dari kalangan transjender dan beragama Katolik.

“Saya satu-satunya waria dan beragama Katolik di kampus itu, bisa saja saya dibunuh di sana. Tapi pihak universitas justru mendorong saya untuk aktif. Ketika lulus, saya mendapat predikat gelar cum laude,” tuturnya dengan bangga.

Baginya, mendapatkan gelar Sarjana Hukum dengan predikat cum laude merupakan bagian kecil dari usahanya mengikis tembok tebal di masyarakat yang masih beranggapan kaum transjender hanya bisa mangkal di jalan. Gelar sarjananya itu juga sebagai pembuktian untuk dirinya sendiri yang berhasil keluar dari hidup yang teramat sulit di masa silam.

Selain itu, keberhasilan Mami Yuli menjadi pendorong untuk kaum transjender lain agar bersedia menempuh pendidikan yang lebih baik.

“Sekarang, ada kurang lebih 50 waria di Makasar yang mau menempuh pendidikan di universitas. Permasalahannya, akses waria untuk menempuh pendidikan terbatas. Ujung-ujungnya mereka tidak berpendidikan. Malah menjadi pekerja seks karena harus makan,” jelasnya.

“Mereka yang rata-rata pendidikannya SD-SMP memilih menjadi pekerja seks dan pengamen dengan perilaku dan pakaian yang seronok. Hal itu yang memperkuat stigma negatif terhadap kaum waria itu sendiri. Saya mengajak teman-teman waria semua untuk mengubah gaya hidup dan berupaya agar hidup lebih baik,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, Mami Yuli membuka usaha salon kecantikan di rumahnya dengan menjaring kaum transjender berusia muda. Salon tersebut sekaligus menjadi kantor FKWI dan rumah singgah bagi kaum transjender yang mau belajar bersama dan mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

“Saya beri waktu mereka dua bulan untuk belajar di sini. Setelah itu, mereka saya lepas untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ibaratnya di sini sebagai rumah singgah,” kata Mami Yuli menjelaskan.

Menurut Mami Yuli, pemberdayaan melalui pendidikan merupakan solusi yang paling baik agar kaum transjender tak terus mendapatkan diskriminasi. Terlebih, pemerintah tak hadir di dalam memenuhi kewajibannya. Dengan pendidikan, mereka menjadi sadar atas hak-haknya di hadapan hukum dan negara. Mereka menjadi berani menyuarakan dan menuntut hak-haknya yang selama ini masih diabaikan oleh negara.

“Ke depan, saya akan membuat Lembaga Bantuan Hukum yang secara khusus menangani kasus-kasus diskriminasi dan kekerasan yang dialami rakyat tertindas, khususnya kaum homoseksual. Saat ini, saya sedang menyelesaikan pendidikan S2 saya,“ katanya dengan optimis.

Optimismenya dalam memperjuangkan hidup dan kaumnya patut dicontoh. Harapannya masih panjang, sepanjang proses memperjuangkan hak-hak kaum homoseksual yang berliku. Pengabaian negara, kekerasan dari kelompok-kelompok konservatif, reaksioner, dan garis keras, dan produk-produk hukum yang diskriminatif menjadi tantangan utama.

Selama itu, terang yang dipancarkan oleh perjuangan Mami Yuli tak akan pernah padam. Ia pernah melewati masa-masa sulit dan berhasil membangun kekuatan baru untuk perubahan. Semoga “Mami Yuli” lainnya banyak bermunculan. Sehingga, terang dari kelompok minoritas itu tak hanya mampu menerangi goa saja, tetapi menjadi terang di tengah gurun saat malam belum kunjung berganti siang.

#LombaEsaiKemanusiaan