Saya baru di Malang ketika membuat surat cinta ini. Urusan pekerjaan. Tetapi kalau ditugaskan di Malang selalu saya berbinar. Nasi Madura, Restoran Inggil, Rumah Makan Oen, Bakpo Telo, dan Bakso Malang-nya tentu saja. Pikiran saya pasti sudah liar. 

Kerja boleh keras, tetapi senang-senang ya harus. Sesekali memanjakan lidah.

Tetapi sekaligus saya memanjakan mata. Landscape di Malang, amboi indahnya. Bangunan kunonya masih banyak. Airnya masih adem

Mau menginap di hotel yang serem seperti Spendid Inn atau di Tugu, boleh. Mencari sensasi angker dan bonusnya kita puas melihat barang-barang kuno di museum yang ada di dalam Hotel Tugu, ok juga.

Satu teman yang bergabung hari itu sangat sendu. Ia meninggalkan anaknya yang baru sakit di Jakarta. Satu teman lagi bertengkar dengan suaminya karena pada perayaan ulang tahun pertama anaknya, ia tak ada di rumah. Jadilah kami saling curhat.

Buat kami, ibu-ibu pekerja ini penuh dilema kalau harus penugasan luar kota dengan kondisi seperti ini. Saya dulu selalu sedih kalau pulang dari luar kota, dan mata anak memandang asing ke emaknya yang lebih sering tak bersamanya. Syukur kalau mau salim tangan dan tidak menolak dicium. Sering kali malah menjauh sebagai ungkapan marahnya.

Menarik mendengarkan cerita seorang teman, saat dia tanya ke anaknya, "Dede sayang siapa?" Maka dede kecilnya ini akan menjawab bahwa dede sayang mbak. Ditanya sekali lagi, dede makin kenceng menjawab sayang mbak. 

Penasaran, dia bertanya ketiga kalinya, baru anaknya menjawab sayang mami, papi, cici dan mbak. Si mbak ini tidak pernah lupa disebut. Mbak adalah panggilan untuk pengasuhnya.

”Sedih sih aku kalau anakku lebih sayang sama mbaknya. Jadi kepikiran, dia ini anak mbaknya atau anakku sih?” keluhnya.

Hehhehehhe…kalau sudah kejadian, baru deh sadar, anak kita lebih sayang pengasuhnya. Lebih nangis-nangis kalau ditinggal asisten atau babysitter mudik, dibandingkan dengan ketika kita pamitan untuk berangkat ke kantor atau keluar kota.

Sebagai ibu bekerja, meninggalkan anak keluar kota sering kali tidak bisa dihindari. Meskipun sudah sering menolak, tetap akan kena juga kewajiban keluar kota, karena satu dan dua sebab. 

Kalau sudah begini, lalu mulai drama dengan diri sendiri. Berandai-andai menjadi ibu rumah tangga penuh waktu di rumah. Menyiapkan anak mandi, makan, dan main bersama sepanjang hari. Atau mengantar sekolah kalau sudah waktunya nanti. 

Kayaknya semuanya indah. Tidak perlu berpikir besok pakai baju apa dan sepatu yang mana. Mau bad hair day pun tak masalah.

Padahal, bila melihat dari kacamata lain, ibu rumah tangga juga mungkin ingin sesekali dandan ala pegawai kantor dan akrab dengan jadwal dari rapat ke rapat, meeting istilah kerennya. Meskipun ibu pekerja ataupun ibu rumah tangga bebannya sama saja, sama-sama beratnya.

Bukan hanya sang kawan tadi yang merasakan hal serupa. Di sepanjang perjalanan pekerjaan saya, kadang harus meninggalkan anak berhari-hari dengan asisten di rumah. 

Dulu waktu masih kecil, sepulang dari luar kota, pasti ada beberapa hadiah yang sudah disiapkan sebagai oleh-olehnya. Lebih semacam penebusan rasa bersalah sebetulnya. 

Saat di luar kota dan tiba-tiba mbak di rumah mengabarkan anak panas tiba-tiba, panik pasti melanda. Dan ini tidak hanya sekali dua terjadi. Kalau dekat, bisa langsung pulang. Kalau tidak, hati pasti tak tenang.

Beruntung, saat ini teknologi memungkinkan kita tetap bisa berkomunikasi bahkan melihat wajah anak di seberang. Dengan harga yang murah pula, sejauh kuota internet tetap tersedia. Bahkan dengan CCTV yang terpasang di rumah, kita bisa memantau anak dengan leluasa.

Eh, tetapi coba kita tengok ke belakang. Apakah benar, anak tak dekat dengan kita hanya semata-mata pekerjaan? Atau bukan karena dulu kita memilih memberi anak dengan susu formula dibandingkan susu yang keluar dari payudara kita? Pertimbangannya, nanti bentuk payudara jelek kalau menyusui. 

Ini alasan yang tidak masuk akal sebetulnya. Jadilah anak sapi dan bukan anak mami. Begitu, bukan? Lebih keren menyusui anak dengan botol daripada harus membuka kancing baju di tempat-tempat umum. 

Sepuluh tahun lalu, mall-mall kita kurang ramah dengan kebutuhan dasar bayi ini, dengan tidak menyediakan tempat khusus untuk menyusui. Sekarang, ini tidak menjadi isu lagi. Meski di beberapa kasus, perempuan terpaksa memberi susu formula karena kurangnya produksi asi.

Mungkin kita lupa perihal menyusui ini. Saat paling intim mengikat emosi bayi. Tahunya sekarang anak lebih dekat ke asisten rumah tangga dibandingkan kita sendiri. Dan tugas kantor jadi alasan yang sahih.

Lalu buat apa ada suami, orang tua, dan saudara yang lainnya? Ya kalau support system ini ada. Untuk orang tua tunggal, terpaksa harus kerja dan hanya ada asisten yang membantu menjaga anak, tidak ada pilihan lain. Dan banyak perempuan di Indonesia mengalami hal ini. 

Ah, saya sudah jauh melantur. Mudah-mudahan anak-anak kita, meski kadang jauh di mata, selalu dekat di hati. 

Eh, dede di rumah lebih sayang siapa sih? Penasaran…..