Debat kedua Pilpres telah usai. Saatnya menunggu yang ketiga. 

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari debat itu. Jika dilihat kilas balik debat kedua, narasinya hanya berkutat soal retorika. Minim data akurat dan terpercaya. Mengandalkan narasi yang utopis saja. Mengatasnamakan rakyat tapi tidak jelas arahnya. 

Program kerja yang ditawarkan terlalu general dan cari aman. Pun tidak menyediakan alternatif solusi yang konkret dan hanya di awang-awang. Padahal banyak catatan kritik dari pemerintahan petahana yang dapat dimanfaatkan Prabowo. 

Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, menyoroti debat Prabowo yang kurang mengesankan. Baginya, narasi Prabowo blunder. Hanya seputar retorika pengandaian yang bisa jadi benar atau salah. Dia juga tampak tak yakin dengan apa yang dikatakannya.

Janji dengan realitas capaian kerja Jokowi tidaklah sempurna. Prabowo seharusnya dapat menggunakan kekurangan itu untuk memaparkan visi dan misinya. 

Dengan menawarkan program kerja konkret, jelas, rasional, dan berbasis data. Tidak hanya mengandalkan jargon ‘untuk rakyat, demi rakyat’ dan menyebarkan ketakutan saja. Tidak hanya asal klaim masalah akan selesai kalau memilihnya.

Di sisi yang lain, Jokowi sebagai petahana juga main aman. Menurut Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, Jokowi hanya memaparkan program kerja yang dirasa berhasil dengan overclaim.

Jokowi juga menyembunyikan program yang belum berhasil dengan membuat klaim capaian yang tidak sesuai. Ia juga tidak menyediakan solusi jangka panjang dan hanya melanjutkan program lama yang berhasil. 

Isu-isu sensitif juga tidak disinggung sama sekali. Misalnya, masalah migas dan isu Freeport.

Retorika ala Aristoteles

Retorika bukan hanya seni berbicara saja. Berusaha membujuk orang dengan kata-kata indah. Retorika perlu data. Terlebih untuk menyakinkan swing voters dan pemilih rasional lainnya.

Beretorika sah-sah saja. Itu diperlukan untuk menarik perhatian massa. Namun, jangan asal retorika. 

Seharusnya, politisi di atas dapat meniru retorika ala Aristoteles. Memperhatikan dimensi ethos, logos, dan pathos dengan seimbang dan saling melengkapi. Tidak hanya mengedepankan salah satu dimensi saja.

Ethos berhubungan dengan etika atau kredibilitas. Menggambarkan kompetensi pembicara untuk meyakinkan pendengar. 

Selain itu, karisma yang dipancarkan dari pembicara. Sering kali pendengar sudah merasa tertarik dengan orang yang berkharisma dan bijaksana, bahkan sebelum mereka memulai berbicara. Kredibilitas pembicara dapat diperoleh dari kompetensinya saat berargumen atau menarasikan sesuatu.

Argumen itu dapat dibuat untuk meningkatkan kredibilitas seseorang. Pembicara dapat menyesuaikan diri dengan cara berpikir khalayaknya, dalam hal ini rakyat. Apa yang sedang menjadi persoalan di masyarakat atau public interest dapat dibahas dan dijadikan topik yang utama. Tentunya disertai data dan informasi yang akurat agar solusi dan jalan keluarnya tepat.

Wawasan dan pengetahuan yang dimiliki pembicara dapat digunakan pendengar untuk menilai karakter mereka, apakah dapat dipercaya atau tidak. Niat baik penting untuk menghasilkan penilaian positif dari pendengar. Banyak pembicara yang mampu menunjukkan kecerdasannya tapi tidak pada moralitas dan integritasnya.

Logos berkaitan dengan isi dari argumen atau narasi. Argumen dan narasi itu haruslah rasional berdasarkan data yang akurat. Disampaikan dengan jelas dan masuk akal. Tidak hanya diawang-awang saja. 

Jika ada solusi yang ditawarkan, harus berdasar data dan konkret. Menggunakan alasan-alasan atau bukti-bukti yang sesuai dan benar sehingga dapat membuat pesan menjadi lebih persuasif dan kredibel. Dengan begitu, dimensi ethos pun juga menjadi lebih meyakinkan.

Pathos merupakan sisi daya tarik emosional. Persuasi dilakukan dengan memperhatikan sisi emosional pendengar yang dikendalikan oleh pembicara. 

Ketika pembicara mampu mengendalikan emosi pendengar, maka persuasi akan lebih mudah dilakukan. Hal itu bisa penentu apakah pendengar setuju atau tidak setuju terhadap isi argumen pembicara, dalam hal ini program kerja maupun alasan-alasan yang diutarakan oleh capres dan cawapres.

Dimensi pathos dapat dibangun dengan meningkatkan emosi pembicara lewat kalimat harapan maupun ketakutan, melalui kalimat pemberi semangat atau kesedihan. Bisa menggunakan contoh-contoh peristiwa atau analogi yang dapat membangkitkan perasaan pro maupun kontra. 

Selain itu, juga dapat menggunaan kata atau frasa yang dapat membangkitkan emosi. Jika itu semua digunakan pada saat yang tepat dan penekanan yang pas, maka pendengar akan menjadi lebih mudah percaya.

Retorika memang digunakan untuk mempersuasi dan meyakinkan khalayak. Namun, retorika juga perlu data. Data itulah yang menyokong retorika untuk menjadi lebih kuat. 

Penggunaan dimensi ethos, logos, dan panthos secara seimbang akan membuat pendengar lebih yakin dan percaya dengan perkataan pembicara.

Untuk meyakinkan swing voters dan pemilih rasional lainnya tidaklah mudah. Mereka lebih kritis dari pemilih yang memang sudah ‘fanatik’ dengan seorang calon. 

Mereka perlu diyakinkan dengan data dan informasi yang benar. Banyak dari mereka yang mengharapkan debat berkualitas, bukan hanya unjuk retorika tapi kering gagasan konkret.