Selesai sudah debat pertama Capres-Cawapres yang diadakan pada 17 Januari kemarin. Momen yang ditunggu-tunggu banyak orang terutama para pendukung kedua paslon untuk melihat sejauh mana visi,misi dan rencana-rencana yang akan dilakukan selama periode jabatannya.

Setelah menonton acara debat, sejujurnya saya pribadi agak kecewa dengan debat kali ini. Tidak seperti debat capres 2014 atau debat pilgub 2017 yang lalu. Paslon 01 terlalu pragmatis. Paslon 02 kebanyakan blunder.

Format debat dari KPU seolah-olah membatasi kreatifitas dan arena improvisasi kedua capres-cawapres. Debat kemarin terasa kurang greget dan terlalu kaku jika dibandingkan dengan debat-debat yang diselenggarakan sebelumnya terutama pada sesi awal-awal debat. Saya sendiri melihat tidak ada yang terlalu dominan pada debat pertama kali ini. 

Perbedaan yang cukup terlihat pada debat kali ini jika dibandingkan dengan 2014 lalu adalah, pak Jokowi kali ini lebih agresif dan lebih lepas. Sedangkan lawannya,pak Prabowo terlihat sangat hati-hati dan seperti ada dalam tekanan. Untuk wakilnya, saya tidak melihat ada yang menonjol dari salah satu wakil, KH.Ma'ruf Amin atau Pak Sandi Uno. 

Jika kita bandingkan lagi dengan 2014 lalu, dimana kedua paslon seperti sudah mempersiapkan segalanya dengan begitu matang. Begitu pula dengan kedua wakilnya. 

Dan tidak mengherankan memang jika cawapres 2014 lalu lebih greget. Karena waktu itu yang menjadi cawapres adalah 2 orang yang sedang dan pernah menjabat di pemerintahan. Pak Hatta Rajasa adalah menteri koordinator bidang perekonomian pada waktu itu dan pak Jusuf Kalla adalah mantan Wakil Presiden periode 2004-2009.

Pak Jokowi Yang Terlalu Tekstual Dan Pak Prabowo Yang Tanpa Data

Jika kita menyoroti lagi, ada hal-hal yang membuat debat kali ini terasa hambar dan kaku.

Yang pertama adalah pak Jokowi yang terlalu terpaku dengan catatan. Hal ini tentunya sangat membatasi dirinya dalam mengimprovisasi argumennya. Padahal sebagai petahana bisa dikatan pak Jokowi punya cukup "modal" untuk menghabisi pak Prabowo dalam debat kemarin. Beliau memiliki sumber data yang banyak dan valid. Tinggal bagaimana beliau menyampaikannya dalam acara debat kemarin. 

Namun kenyataannya lagi-lagi pak Jokowi kembali kepada teks yang dibawanya. Beliau tampak seperti lebih memberi umpan untuk dimakan oleh kubu lawannya sebagai jebakan. Setelah umpan termakan tinggal dihabisi saja lawannya. Contohnya adalah ketika pak Jokowi menyinggung kasus Ratna Sarumpaet. 

Cara ini cara-cara yang pragmatis tapi memang cukup ampuh untuk "mematikan" argumen lawan berdebat. Tidak enak dilihat tapi efektif.

Sebaliknya di kubu sang lawan, pak Prabowo dan Pak Sandi Uno. Tampak sekali banyak yang disampaikan tanpa adanya data yang valid alias "ngawur". Apa contohnya? Banyak.

Bagaimana mungkin seorang capres bisa mengatakan propinsi Jawa Tengah memiliki luas lebih besar dari Malaysia. Ini adalah kesalahan konyol dan fatal. Anak SMP pun tahu Malaysia jauh lebih luas dari Jawa Tengah.

Walaupun setelah acara debat timsesnya melakukan koreksi atas ucapan pak Prabowo, namun itu tidak akan berarti apa-apa lagi. Karena kesan yang sudah timbul di benak orang-orang adalah pak Prabowo asal sebut.

Contoh lainnya adalah ketika pak Jokowi melempar pertanyaanengenai partai yang dipimpin pak Prabowo mencalonkan banyak caleg eks napi koruptor. Pak Prabowo malah menjawab dengan statement "Korupsi tidak seberapa.." 

Dan kembali lagi, timsesnya melakukan koreksi atas statement tersebut. 

Jika diibaratkan permainan bola, pak Prabowo itu ibarat membobol gawan sendiri atau memberi umpan kepada lawan yang akhirnya gawangnya kebobolan. Lalu pada sesi after match nya memberikan klarifikasi "bukan begitu tadi maksudnya". Tapi biar bagaimanapun tim nya sudah kalah dan pertandingan tidak bisa di rematch dengan alasan apapun.

Aksi Joged Pak Prabowo

Ada kejadian lucu yangembuat suasana kaku pada acara debat kemarin menjadi lebih cair. Yaitu aksi joged pak Prabowo lalu dipijit pak Sandi.

Aksi ini seketika saja membuat riuh ruang debat dan membuat suasan menjadi lebih santai.

Kejadian ini terjadi ketika pak Jokowi memberikan pertanyaan. Tapi waktu untuk bertanya masih cukup lama. Pak Prabowo seperti begitu bernafsu ingin langsung menjawab. Namun, tiba-tiba dia bertanya apakah boleh langsubg menjawab. Dan moderator Ira Koesno mengatakan tidak. Pentonton tertawa dan pak Prabowo pun berjoged. 

Ekpektasi Debat Selanjutnya

Setelah menonton debat pertama kemarin, tentunya publik berharap bahwa debat-debat berikutnya akan lebih bersisi dan lebih hidup lagi.

Untuk pak Jokowi, agar bisa lebih berani lagi untuk berkreasi dengan argumennya tidak selalu terpaku pada teks walaupun kisi-kisi sudah diberikan. Bermain pragmatis memang nyaman,pak. Tapi permainan cantik dan menghibur jauh lebih dinantikan. 

Untuk pak Prabowo, ayolah pak! Publik menanti kualitas anda. Karena selama ini yang tampak dimata orang-orang hanya ambisi anda saja. Kumpulkan data-data yang lebih valid. Jangan selalu mengandalkan after match session untuk mengklarifikasi apa yang anda sampaikan di arena debat. Karena yang berlaku di pikiran publik adalah apa yang anda sampaikan di arena debat bukan klarifikasi dari timses anda di luar arena debat.