Debat antara capres tentu menarik perhatian seluruh masyarakat saat ini. Masyarakat tentu sangat tertarik dengan setiap argumen yang diujarkan antara capres nomor urut satu dan capres nomor urut dua. 

Dalam debat yang dilaksanakan, ada satu pendapat yang menyatakan bahwa sebetulnya debat juga satu contest of character dari masing-masing kandidat; bagaimana dia menempatkan diri. Hal ini diujarkan oleh Fadli Zon.

Ia juga mengatakan,"Apakah dia menempatkan diri sebagai seorang negarawan atau dia sebagai politisi; apakah dia sebagai manajer atau dia sebagai tukang. Diibaratkan begitu."

Namun, dari yang kita lihat sepanjang berlangsungnya debat, dapatkah kita menyimpulkan siapa yang disebut manajer dan siapa yang disebut tukang?

Sebelum hal ini dilontarkan Fadli, perdebatan bermula ketika Fadli Zon mulai mengkritik penampilan kedua calon presiden dalam debat. Ia berpendapat bahwa calon presiden Prabowo Subianto berpenampilan layaknya seorang negarawan, sedangkan Jokowi memiliki penampilan seperti sedang menjalani manajerial debat.

Apakah benar, melalui penampilan, ia pantas dikritik untuk tidak layak menjadi seorang pemimpin? Apakah, hanya dengan melihat sebuah jas, seseorang dapat menebak kepintaran dan kebijaksanaan dalam memimpin? Tentu saja tidak! Semuanya dapat dibuktikan melalui Jokowi.

Jokowi tidak menunjukkan karakter, kepemimpinan, dan kepintarannya melalui penampilan. Ia adalah sosok yang sederhana, namun mampu membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Ia adalah sosok yang bertutur kata dengan lembut, namun mampu membuat hukum yang tegas bagi bangsa Indonesia.

Melalui debat yang sudah berlangsung, kita dapat melihat karakter Jokowi yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui penampilan. Banyak keunggulan yang berhasil Jokowi terima selama debat berlangsung. Segala kritik dan argumen yang ia terima dianggapnya sebagai sebuah masukan.

Ia bahkan mengatakan, "Kalau ada yang kurang, itu yang akan kita perbaiki. Intinya ke sana. Jadi kalau ada kemarin masukan-masukan dari Pak Prabowo-Sandi, ya baik untuk perbaikan-perbaikan ke depan."

Ini menunjukan karakter Jokowi yang mau menerima masukan; tak peduli dari lawan atau kawan.

Sikap tenang Jokowi dalam menanggapi setiap argumen juga patut kita apresiasi. Jokowi lebih tenang dalam menjawab tanpa tertekan oleh batasan waktu. Bahkan, banyak kali Jokowi hanya menggunakan waktu yang sangat singkat dengan cara menjawab to the point dari apa yang disanggah.

Sikap tenang Jokowi menunjukkan karakternya yang melakukan segala sesuatu tepat sasaran tanpa harus mengeluarkan banyak kata untuk menarik perhatian masyarakat. Hal ini menunjukkan pada masyarakat bahwa Jokowi adalah sosok yang tepat sebagai yang talk less do more.

Semua usaha Jokowi dapat kita lihat dari bagaimana ia dan rekan-rekannya mampu mengatasi kasus Lumpur Lapindo yang selama 8 tahun tidak terselesaikan pada masa jabatan Susilo Bambang Yudoyono alias SBY. Semua dapat terselesaikan pada masa jabatan Jokowi hanya dalam waktu 8 bulan.

Selama debat berlangsung, Jokowi juga menunjukkan karakternya yang tegas, sekalipun cara bicaranya terdengar sangat halus. Sikap Jokowi yang tegas mampu kita lihat dari hasil kerjanya dalam mengeluarkan Peraturan Presiden No. 115 Tahun 2015 tentang Penenggelaman Kapal Asing Pencuri Ikan yang dapat dilakukan secara langsung jika tertangkap oleh Satgas Illegal Fishing dan tidak perlu melalui izin pengadilan lagi.

Sikap peduli Jokowi terhadap pulau Papua benar-benar patut dipuji. Papua yang sebelumnya menjadi daerah yang sangat jarang diperhatikan dan tersentuh oleh tangan para pemerintah pusat kini menjadi daerah yang menarik perhatian Jokowi untuk membuat kemajuan infrastruktur bagi Papua.

Selama masa debat berlangsung, Jokowi tidak hanya menggunakan kesempatan bicaranya sekadar untuk membanggakan diri sendiri dan hasil kerja yang sudah ia dan kelompoknya kerjakan selama masa jabatan. Ia juga menggunakan kesempatan bicaranya untuk mau mengapresiasi rivalnya.

Dalam hal ini, dapat menjadi sebuah gambaran bahwa Jokowi tidak hanya mementingkan diri sendiri dan membanggakan diri sendiri. Dapat dilihat bahwa Jokowi adalah sosok yang mampu mengapresiasi, baik itu lawan atau kawan. 

Pemimpin yang memiliki karakter seperti itulah yang dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk menjadi seorang pemimpin.

Melalui debat yang sudah berlangsung, mari kembali kita simpulkan sendiri mengenai pernyataan yang dikemukakan Fadli Zon. Kita dapat melihat siapakah yang memiliki karakter seorang manajer dan siapakah yang memiliki karakter tukang.

Pemilihan umun presiden akan segera dilangsungkan. Ada baiknya kita mengikuti setiap perkembangan politik yang ada. Pastikan bahwa masyarakat Indonesia menilai dan memilih pilihan yang tepat, yaitu pemimpin yang memiliki karakter seorang manajer, bukan seorang tukang.

Seorang pemimpin yang mampu mengeluarkan lebih banyak tindakan daripada kata-kata. Pemimpin yang mampu bertindak tegas tanpa harus mengeluarkan senjata. Pemimpin yang mampu dihormati dan menghormati seluruh rakyat tanpa harus memandang suku, agama, ras, dan budaya. Itulah Jokowi.