Seorang artis tenar, Vanessa Angel, terjerat kasus prostitusi kelas atas. Ia kini jadi tersangka. 

Ia tak sendiri menjajakan diri. Polda Jawa Timur menyatakan, jumlah artis yang diduga terlibat sebanyak 45 artis dan 100 model. Dua muncikari, yang telah dijadikan tersangka, menawarkan para artis dan model itu dengan harga fantastis.

Warganet lantas menyerbu akun Instagram Vanessa. Beberapa warganet menyorot mobil mewah yang dimiliki si artis. Beberapa lainnya mengomentari kebiasaan si artis mengoleksi barang mewah dan jalan-jalan ke luar negeri.

Banyak warganet yang akhirnya berpendapat, gaya hidup serbamewah si artis kemungkinan besar menjadi alasan mengapa dia terjun ke dunia prostitusi kelas atas.

Tuduhan dialamatkan pada satu tersangka: semua gara-gara si artis bergaya hidup hedonis. Ya, tersangka utama adalah “si hedonis”.

Hal ini bisa dimengerti karena Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan hedonisme sebagai “pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup”.

Jika mengikuti definisi menurut KBBI tersebut, pendapat warganet bisa dianggap benar. Akan tetapi, sejatinya definisi KBBI itu hanya merangkum separuh saja dari makna asli hedonisme. Loh, kenapa cuma separuh?

Asal Mula Hedonisme

Hedonisme bukan paham baru. Ia pertama kali dicetuskan oleh filsuf Yunani Kuno bernama Aristippus dari Cyrene (435 SM-366 SM), seorang murid Socrates.

Mengutip laman britannica.com, Aristippus meyakini bahwa kebahagiaan dalam hidup dicapai saat orang merasakan sebanyak mungkin kesenangan dan sekecil mungkin merasakan derita.

Akan tetapi, seperti Socrates, Aristippus menaruh perhatian besar pada etika praktis. Aristippus berpendapat, memang benar orang harus mencari kesenangan dalam hidup, tetapi orang tetap harus menggunakan pertimbangan akal sehat dan mampu mengendalikan nafsu-nafsu diri.

Semboyan Aristippus adalah “Saya menguasai (kesenangan hidup), tapi saya tidak dikuasai olehnya” (I possess but I am not possessed). Bisa kita simpulkan bahwa hedonisme itu aslinya paham yang tidak sepenuhnya buruk. Alih-alih, hedonisme sejatinya mengajarkan keseimbangan dalam mencari kebahagiaan hidup.

Menyoal Gaya Hidup Hedonis

Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga. Begitulah kiranya semboyan banyak manusia modern. Vanessa Angel pun kemungkinan menjadi pengikut hedonisme yang dipahami oleh masyarakat modern ini.

Banyak manusia zaman now melupakan bagian kedua ajaran Aristippus. Sekali lagi, Aristippus mengajarkan dua hal: pertama, saya menguasai (kekayaan dan kesenangan hidup); kedua, tetapi saya tidak dikuasai (oleh kekayaan dan kesenangan hidup).

Singkatnya, Aristippus tidak hanya mengajarkan bahwa manusia hanya perlu mengejar kesenangan hidup saja. Sembari mengejar kesenangan hidup, manusia harus bisa mengendalikan nafsu-nafsu dirinya. 

Jadi, Dear Vanessa Angel, hedonis sejati justru bisa kendalikan nafsu-nafsu dalam diri: nafsu untuk kaya, bersenang-senang

Sayangnya, banyak manusia modern hanya menjalankan bagian pertama dari ajaran Aristippus tadi. Tak heran, banyak orang menghalalkan segala cara untuk lekas meraih kekayaan.

Sebagian artis melacurkan diri demi meraup banyak uang selekas mungkin tanpa harus bekerja keras membangun karier di dunia hiburan. Sama halnya, sebagian politikus melacurkan kepercayaan yang diberikan rakyat dengan melakukan korupsi dan kolusi.

Kembali ke makna semula hedonisme

Mari kita kembali ke makna hedonisme seperti saat pertama kali dicetuskan Aristippus pada abad kelima SM. 

Saya menguasai (kesenangan hidup), tapi saya tidak dikuasai olehnya (I possess but I am not possessed).

Boleh saja mencari harta, tapi jangan sampai dikuasai olehnya. Sah-sah saja memiliki mobil dan barang-barang mewah, tapi jangan sampai diri kita diperbudak oleh kemewahan itu.

Aristippus tidak melihat harta sebagai sesuatu yang pada dirinya sendiri bersifat jahat. Asalkan kita tidak hidup menghamba pada harta saja, memiliki dan mencari harta itu sesuatu yang wajar. 

Karena itu, Aristippus menjadi filsuf Yunani pertama yang secara terang-terangan meminta bayaran dari para muridnya. Apa yang dilakukan Aristippus ini melawan arus utama pada zamannya. Saat itu, para filsuf Yunani kuno tidak memungut bayaran dari para murid mereka.  

Berani berkata "cukup"

Kapan kita menjadi hedonis? Sukant Ratnakar, seorang penulis dari India dalam bukunya Open the Windows: To the World around You (2001) mengatakan:

Saat cukup itu tak lagi cukup, seorang hedonis dilahirkan (When enough is not enough, a Hedonist is born). 

Tentu saja, Ratnakar memahami hedonisme seperti pengertian modern, yang juga dimuat dalam KBBI. Akan tetapi, di balik kalimat itu, Ratnakar secara tersirat menunjukkan bahwa  gaya hidup hedonis bisa dilawan dengan pengendalian diri. 

Mengendalikan diri di zaman modern ini mencakup keberanian mengatakan cukup dalam banyak bidang kehidupan. 

1. Membeli apa yang benar-benar kita perlukan

Perusahaan-perusahaan menginvestasikan sebagian uang mereka untuk mengiklankan produk mereka. Kita dijejali aneka iklan yang kita lihat saat kita berselancar di dunia maya, saat menonton televisi, membaca koran, dan mendengarkan radio.

"Diskon sampai 80 persen. Jangan sampai ketinggalan!"; "Cuma hari ini di Harbolnas, beli 1 dapat 2. Ayo, beli sekarang juga!" adalah contoh bunyi iklan yang kita lihat. 

Dengan tampilan visual dan kalimat yang memikat, iklan-iklan itu mencoba meyakinkan kita bahwa kita harus segera membeli barang atau jasa yang ditawarkan.

Jika kita tidak cermat, segera kita membeli produk yang diiklankan tadi tanpa banyak berpikir apakah saat ini kita sungguh memerlukannya atau tidak. 

Biasakan bertanya diri,"Apa barang yang sudah kupunya sudah tak berfungsi atau sudah jelek sehingga aku perlu membeli barang baru? Apa aku harus membeli barang baru sekarang atau bisa kubeli nanti? Apakah aku harus membeli dua kalau ternyata satu saja sudah cukup? Apakah aku harus membeli barang bermerek atau cukup barang yang lebih murah dengan fungsi yang sama?"

2. Memanfaatkan barang dengan cermat dan memeliharanya seawet mungkin

Inti dari godaan dunia konsumeris ialah meyakinkan calon konsumen bahwa membeli barang baru itu lebih menyenangkan dan mudah daripada merawat barang lama. 

Padahal, semakin kita rajin membeli barang baru tanpa mau merawat barang lama, semakin boros pengeluaran kita dan semakin banyak sampah yang kita hasilkan.

Fenomena barang-barang yang masih layak pakai namun dibuang terlalu dini oleh para pemiliknya kini makin menggejala, terutama di banyak negara maju dan kota besar. Untuk melawan gejala buruk ini, kita perlu merawat barang-barang lama itu agar tahan lama. Dompet selamat, bumi pun selamat.

3. Belajar bahagia dengan hal-hal dan aktivitas sederhana

Pendapatan kaum milenial Indonesia kini sebagian besar digunakan bukan untuk membeli barang, tetapi untuk mencari hiburan dan memuaskan hobi. Tak heran, situs-situs penyedia jasa liburan dan hiburan makin meraja.

Pertanyaan untuk kita tanyakan pada diri sendiri: "Perlukah ke Raja Ampat menghabiskan jutaan untuk liburan atau cukupkan jalan-jalan bersama keluarga ke tempat wisata di kota-kota sekitar? Perlukah membeli gim mahal atau cukupkah tiap akhir pekan main futsal atau basket dengan teman-teman?"

Mari kita belajar bahagia dengan hal-hal dan aktivitas sederhana. Uang bisa kita gunakan untuk kepentingan yang lebih mendesak dan atau untuk membantu sesama yang berkekurangan.

4. Jangan serakah

Semakin banyak keinginan kita untuk beli ini-itu, pergi ke sana-sini, semakin tinggi kebutuhan kita akan uang. Tidak masalah kalau dorongan untuk membeli dan mencari hiburan itu membuat kita semakin semangat bekerja. Jadi masalah ketika kita tergoda untuk mencari penghasilan lewat cara-cara tidak jujur. 

Kita perlu menjunjung tinggi kejujuran dalam mencari uang. Syukuri penghasilan yang kita peroleh secara jujur. Tak perlu melacur!

Salam hedonis sejati yang justru bisa kendalikan nafsu dengan berani berkata "cukup" dan hidup sederhana!