Dear Susan 

Beberapa (tak) mendengar. Mungkin lupa. Mungkin memang tak peduli. Tetapi semesta punya banyak pesan ketika kita mengalami. Pilihannya adalah mau memahami dan menerima atau mengabaikannya, sesederhana itu.

Tetapi realitanya tak sesederhana itu, aku mencintai sekaligus membenci senja dan hal-hal istimewa yang mengikutinya, sebab kau selalu ada di sana. Serupa senyumanmu, jingga senja terlalu indah untuk dilewatkan. Kau tahu, aku selalu rindu. Dan aku benci ini..

Senja kesekian, di dermaga ujung kota. Dua kaleng bir, dan kecemasan yang mondar-mandir. Kau tahu, aku tak bisa tak mengingatmu. Dan aku benci ini..
Berjam-jam duduk diam akhirnya kuputuskan, menyerah, sebab melawan pun tak ada daya. Percuma.  Baru kusadari bahwa aku hanya menjalani kisah cintaku sendiri, sedang kau, tak pernah peduli.

Pukul tujuh. Senja menjauh. Kesedihan mengaduh, lagi. Dan sebelum punggungnya tenggelam dalam malam ia memelukku seraya berkata.. "Percayalah, sayang, senja esok hari tak akan senyeri ini."


Ruang. Celah. Kosong.

Beberapa hal diciptakan menjadi ruang. Menyimpan sesuatu untuk sesuatu yang lain. Jam dinding menyimpan waktu untuk esok dan kemarin.

Buku-buku menuliskan ingatan sebagai rumah bagi kenangan. Gambar-gambar dan puisi berbicara tentang ributnya kepala dan dada di mana kau selalu ada.

Lalu kita menjadi apa-apa yang akan saling bertautan, saling melempar resah dari mata masing-masing. Tetapi rindu selalu punya celah untuk singgah di antara gelisah hari yang tak mengenal kosong.

Cermin memburam oleh senyum yang masam. Kunci rumah menjadi jalan panjang dengan kelokan yang payah.

Pertengahan April, hujan rintik-rintik yang ganjil meninggalkan pesan; cintai Aku, maka Aku akan selalu hidup untukmu.


Percakapan Terakhir

Malam akan membawa kita ke mana?"  Tanyamu suatu kali sambil menyeduh kopi...

"Ke pikiranmu sendiri. Jika sampai ke pikiran orang lain, bisa jadi itu bonus suka atau luka."

"Jika itu luka?"

"Berpura-puralah bahagia sampai kau benar-benar bahagia. Jika tak bisa, berpura-puralah lupa apa itu luka."

"Sampai kapan?"

"Sampai kau berdamai dengan dirimu sendiri dan menertawakan kebodohanmu."

"Apakah saat itu tiba kau ada bersamaku?"

"Ya."

"Yakin?"

"Ya. Kecuali kopi yang kau seduh berubah masam atau kunci pintu membuatmu kehilangan jalan pulang."


Ketika Cinta Hanya Jatuh Pada Saya, Dia Tidak

Tak bertukar sapa lebih dari tiga minggu dengannya terasa aneh. Semacam kehilangan. Tapi kerepotannya sedang dalam titik tertinggi dan saya sedang (sok) sibuk dengan bacaan-bacaan dan film-film yang diharapkan bisa menggeser tempatnya di pikiran saya. Kalau boleh memilih, saya tak akan menjatuhkan perasaan padanya, tapi apa bisa? Ini di luar kuasa saya.

Sebuah kekuatan besar yang entah dari mana datangnya membuat seluruh saya terpusat padanya. Serupa kidung religi yang mengalirkan rindu dari pagi ke pagi, dari ujung kepala hingga ujung kaki, terlalu kuat untuk dilawan. Semakin saya berusaha keluar, semakin dalam saya tenggelam.

Empat tahun terakhir menjadi semacam keajaiban. Setelah hidup yang random dan membingungkan, dengan caranya semesta mengajak saya melepaskan segala. Membebaskan rasa. Mengingat tanpa membenci. Mengikhlaskan. Dealing dengan diri sendiri, apa yang sebenarnya saya perlukan dibanding yang saya inginkan. And guess what? Saya tak menginginkan banyak hal. Saya baik-baik saja. Pun ketika cinta hanya jatuh pada saya, dia tidak.