Isu-isu politik, mulai dari pembubaran HTI, rumor kebangkitan PKI, Pansus Hak Angket KPK, hingga isu pembelian 5000 pucuk senjata api illegal, benar-benar memenuhi headline media massa maupun media elektronik kita. Ini membuat isu-isu lain yang sebenarnya tidak kalah krusial benar-benar terpinggirkan. Salah satunya adalah tentang Hari Badak Sedunia yang diperingati tanggal 22 September lalu. Juga hari hewan sedunia yang jatuh pada tanggal 4 Oktober.

Hari hewan sedunia seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk turut bersama-sama memperhatikan hewan-hewan langka yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah Badak.

Indonesia memiliki dua spesies badak, yaitu Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan Badak Sumatera (Dicerorhinos sumatrensis). Berdasarkan data IUCN Redlist, keduanya saat ini dalam kondisi critically endangered. Tinggal menunggu waktu bagi mereka untuk punah jika tidak segera mendapatkan perhatian yang benar-benar serius.

Indonesia adalah satu-satunya habitat kedua spesies badak tersebut sehingga merupakan negara yang paling bertanggung jawab atas kelestariannya. Jika tren kerusakan alam, baik yang disebabkan oleh manusia maupun bencana alam terus meningkat, ditambah dengan laju reproduksi badak yang sangat rendah, akan sangat mungkin dalam beberapa dekade ke depan kedua spesies yang tersisa itu akan punah. Layaknya Harimau Jawa yang sekarang hanya dapat kita lihat gambarnya.

Kepunahan sebuah spesies bukanlah hal yang sepele. Egoisme manusia yang sering merasa sebagai satu-satunya penduduk sah di muka bumi memang sering menyepelekan hal tersebut.

Namun, disadari atau tidak, manusia sangat tidak mungkin dapat hidup tanpa alam (hewan, tumbuhan, dan spesies lain). Alamlah yang memberi manusia udara, makanan, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan pokok lain yang membuatnya tetap hidup. Jika punahnya sebuah spesies akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem di sekitarnya, maka sebenarnya manusia sendirilah yang akan dirugikan.

Menimbang untung-rugi punahnya spesies dari kacamata kebutuhan manusia memang sangat pragmatis. Ada alasan yang jauh lebih penting daripada itu, yaitu menjamin keberlangsungan hidup makhluk lain dengan menyadari bahwa mereka juga punya hak yang sama untuk mendiami bumi.

Manusia sebagai pendatang baru dalam sejarah evolusi kehidupan tidak bisa semena-mena melakukan pembantaian massal pada spesies-spesies lainnya. Selain itu, sebagai hewan yang dikaruniai akal, manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling mungkin untuk memikirkan tentang pelestarian alam. Meski juga sekaligus menjadi makhluk yang paling potensial untuk merusaknya.

Ancaman Serius bagi Badak

Perburuan liar memang merupakan sebuah ancaman yang serius bagi kelestarian suatu spesies. Apalagi, badak merupakan salah satu incaran karena harga culanya yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan dolar di pasar gelap. Namun, perburuan bukanlah satu-satunya ancaman. Sehingga, melarang pemburu-pemburu liar tidak serta-merta dapat meningkatkan populasi badak secara drastis.

Ancama lain setelah perburuan liar adalah menyusutnya habitat badak. Berdasarkan data yang dimuat di situs resmi WWF Indonesia, dari 8 kantong habitat badak, hanya tinggal tiga yang tersisa di kawasan konservasi dan hutan lindung. Tiga habitat itu adalah Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Barisan Selatan, dan Kawasan Ekosistem Lauser.

Meski jumlahnya dalam lima tahun terakhir kurang dari 100 ekor, namun dengan habitat yang terus menyempit akan menyebabkan badak mengalami overpopulasi. Apalagi, mengingat kehidupan badak yang sangat soliter sehingga setiap ekor harus memiliki batas teritorial tertentu yang terpisah dari individu-individu yang lain.

Di samping itu, rendahnya laju reproduksi badak juga merupakan ancaman serius. Berdasarkan catatan International Union for Conservation Nature (IUCN), tidak ada reproduksi badak yang teramati beberapa tahun terakhir. Kemungkinan badak-badak yang ada tidak cukup viable untuk melakukan reproduksi.

Jika hal ini dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan badak-badak di Indonesia akan segera punah mengikuti badak-badak di Malaysia, Thailand, China, dan India yang telah punah terlebih dahulu.

Campur tangan manusia sangat diperlukan untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup badak, yaitu dengan melakukan rekayasa reproduksi. Banyak cara yang bisa dilakukan mengingat semakin majunya ilmu kedokteran dewasa ini.

Mengisolasi Badak

Kondisi habitat yang semakin menyempit, ditambah dengan berbagai ancaman penyakit, sangat rentan bagi populasi badak yang sudah dalam kondisi kritis. Pemerintah beserta pihak-pihak yang terkait (pengelola Taman Nasional, LSM, pecinta satwa, dsb.) perlu untuk memikirkan tentang penangkaran Badak.

Hal tersebut tentu tidak semudah melakukan penangkaran hewan-hewan lain, seperti penyu, misalnya. Penangkaran badak harus dilakukan di tempat yang cukup luas dan memadai yang tetap mendukung perilaku badak yang soliter.

Penangkapan badak untuk ditangkarkan juga bukan perkara mudah. Namun, jika para pemburu badak saja berhasil menangkap badak dan mengambil culanya, tentu bukan menjadi sesuatu yang mustahil bagi pemerintah untuk melakukan penangkapan yang sama, namun dengan tujuan yang jauh lebih baik.

Penangkaran badak akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pengawasan terhadap kesehatan badak, dan melakukan rekayasa untuk meningkatkan laju reproduksinya. Hal tersebut perlu didukung penuh oleh pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, baik dari segi moral maupun financial.

Manusia Juga Dapat Punah pada Waktunya

Di hari hewan sedunia ini, sekali lagi, kita perlu menyadari bahwa Indonesia adalah rumah jutaan spesies. Jika manusia sebagai spesies yang paling unggul tidak mampu mempertahankan keanekaragaman kehidupan yang ada, maka tinggal menunggu giliran bagi spesies kita untuk punah dengan segera.

Jalan tol dapat dibangun kemudian. Tapi, untuk menyelamatkan satwa, tidak dapat menunggu besok. Karena yang punah tidak akan pernah kembali. Selamanya.