Pada Mulanya

Pada mulanya sebelum terlahirnya waktu, sebelum terlahirnya bintang-bintang, muncul lah sesosok makhluk bernama Khaos, makhluk tersebut adalah makhluk pertama yang muncul di alam raya ini, Khaos tidak lah memiliki rupa atau pun bentuk, seperti materi, khaos merupakan tempat bernaung nya segala dari unsur penciptaan.

Dari sang Khaos yang tidak berbentuk tadi, muncul lah Erebos, sang kegelapan, lalu muncul lagi Niks Dewi yang membawa kegelapan nan pekat di alam raya, saat itu seluruh alam semesta masih lah berupa kekosongan yang hampa, setelah itu didalam kehampaan muncul lah Eros yang membawa cinta dan kasih, tak lama setelah itu muncullah Gaia sang Bumi.

Lalu muncul lagi Tartaros yaitu dunia bawah, merekalah yang awal pada saat itu didalam alam raya nan luas ini, lalu sang Erebos mendekati Niks kemudian dari Erebos dan Niks terlahirlah Aither (Atmosfer), dan Hamera, yang menjadikan langit gelap gulita menjadi terang, sejak lahirnya Hamera, munculah siang

kemudian Niks kembali melahirkan banyak hal, antara lain Moros sang Murka, Hipnos perwujudan dari tidur, Thanatos sang maut, Oneiroi sang mimpi, dan Nemesis sang pembalasan.

Lalu Gaia sang Bumi melahirkan Uranus sang langit, lalu dari Gaia sang Bumi dan Uranus sang langit lahirlah 12 Titan yang nantinya akan melahirkan 12 Dewa Olympus, dan diantara para dewa Olympus Zeus lah yang memimpin para dewa di zamannya.

Tak lama kemudian lahirlah manusia dan salah satu dari para Titan bernama Prometheus mencuri api pengetahuan dari para dewa, dan memberikannya pada manusia.

Lalu sejak saat itu manusia menjadi tahu dan memiliki kesadaran, beserta akal pikiran, itulah sekilas kisah dari awal mula penciptaan alam semesta hingga kepada pemberian akal kepada manusia menurut orang-orang Yunani Kuno.

Lalu ribuan tahun kemudian pada tahun 1859 seorang manusia mengemukakan sebuah teori Evolusi dan penyeleksian alam dengan bukti yang kuat dalam karya nya yang berjudul “On The Origin of Species” , manusia tersebut bernama Charles Darwin.

Charles Darwin memang bukanlah spesies kita atau “Homo Sapiens” pertama yang menyadari akan adanya seleksi  alam dan evolusi, tetapi buah pikir dan mahakarya nya tersebut masih mengguncang dunia hingga saat ini, dan masih sangat mengganggu dalam benak sebagian besar orang, baik dalam sebuah kelompok ataupun kumpulan masyarakat.

Tetapi untuk sebagian besar orang di lain pihak, hal ini merupakan sesuatu yang tidak diragukan lagi, sebagaiamana kita sekarang meyakini bahwa Bumi beserta planet-planet lain mengelilingi matahari pada garis orbitnya.

Setelah melihat asal muasal munculnya manusia berakal, mulai dari kisah para dewata di Olympus dan cerita singkat dari buah pikir Darwin yang mengguncang dunia, mari sedikit kita tarik mundur waktu ke sebuah kejadian di Afrika timur, untuk melihat asal usul dan kisah ekspilisit yang banyak diyakini oleh para ilmuwan kontemporer sejauh ini.

Genesis (Kejadian)

Mari kita turun dari gunung Olympus dan menarik mundur waktu kepada kejadian sekitar 7 Juta tahun silam di daratan Afrika timur, ada juga yang mengatakan sekitar 5 atau 9 juta tahun silam, dalam “Guns, Germs & Steel” Profesor Jared Diamond mengatakan, suatu populasi kera pecah pada saat itu menjadi beberapa jenis, dan salah satu diantaranya menjadi nenek moyang manusia.

Nenek moyang manusia memulai perjalanan panjang setelah “Kejadian” di Afrika timur, mulai dari revolusi Kognitif, berinteraksi satu sama lain dengan bahasa yang kompleks, mengenal aksara, membangun kelompok kecil dan tatanan masyarakat, mengalahkan spesies manusia lain dalam kompetisi bertahan hidup dan akhirnya menuju fajar, yaitu membangun peradaban yang kompleks.

Seperti dalam cuplikan pembuka dari film fiksi ilmiah klasik yang berjudul “2001. A Space Odyssey” karya Stanley Kubrick, sekelompok spesies kera yang nantinya akan menjadi nenek moyang manusia berhasil menemukan kesadaran awal dan mulai menggunakan perkakas, dan menjadi sekelompok pemburu pengumpul awal yang mendominasi, cuplikan pembuka tersebut diberi judul “The Dawn of Man”.

Atau “Fajar Umat Manusia” sepotong cuplikan dalam film tersebut merupakan gambaran dari kejadian 7 juta tahun silam di sudut daratan Afrika timur, seperti itulah kira-kira gambaran nenek moyang dari “Sapiens” atau kita Manusia memulai dominasi nya di planet ini, dari kelompok kecil kera, lalu menjalani berbagai seleksi alam dan akhirnya menjadi satu-satunya anggota dari genus “Homo” yang  menyandang gelar “Homo Sapiens” yang berarti “Manusia Bijak” dan berhasil mendominasi Bumi hingga detik ini.

The Dawn of Mankind (Fajar Umat Manusia)

 “Sapiens” telah menjalani berbagai kejadian-kejadian, dan seleksi alam hingga akhirnya spesies kita meraih piala kemenangan kita yaitu dominasi Bumi, lalu apa lagi langkah besar kita sebagai “Sapiens” setelah berhasil membangun peradaban yang kompleks, dengan tatanan masyarakat yang juga kompleks, dan melakukan banyak hal luar biasa, seperti dalam film-film fiksi ilmiah,

Langkah dan agenda manusia berikutnya adalah, sangat memungkinkan untuk kita keluar dari rumah kita yaitu bumi, dan menjelajahi angkasa luar, dan menduduki planet-planet yang belum terjamah oleh mata kita saat ini, tapi sebelum itu mari kita lihat beberapa keberhasilan besar yang berhasil kita raih, sebagai pengingat jika lompatan perkembangan spesies kita “Sapiens” sangat pesat.

Mulai dari saat kita mengembangkan teknologi pertama kita, yaitu berhasil menjinakan api, dan menjadikannya sebagai alat untuk mempersenjatai diri dan meramu makanan, lalu pada 100.000 tahun sebelum masehi kita berhasil mengembangkan “Perkakas batu”, 40.000  tahun sebelum masehi kita mulai mengembangkan dan menggunakan “Roda”, abad  ke 9 “Bubuk Mesiu” mulai di kembangkan dan kita gunakan, abad ke 16 “Kalkulus”, abad ke 19 “Bohlam Lampu Elektrik”.

Abad ke 20 “Mobil”, “Televisi”, “Senjata Nuklir”, “Pesawat Ruang Angkasa”, “Internet”. Abad ke 21 “Bioteknologi”, “Teknologi Nano”, “Memecah Atom”, dan menemukan “Teori - M”, dan itu barulah sedikit perkembangan daftar teknologi pada dekade pertama abad ke 21, dan hal yang akan terjadi dalam agenda kita berikutnya mungkin adalah, menjadi para dewata dan membangun “Olympus” versi kita sendiri.

Exodus (Dari Daratan Afrika Menuju Olympus)

Ide dan membuat agenda untuk membangun “Olympus” menurut versi kita sendiri boleh dikatakan memang harus dilakukan, karena ada beberapa kriteria mengapa kita memang harus melakukan hal luar biasa tersebut, seperti yang dikatakan oleh Stephen Hawking pada TED-Talks di tahun 2008, beliau berkata “Sekarang saat nya membahas masa depan untuk umat manusia” ucap Hawking.

Jika kita memang adalah satu-satu nya makhluk yang memiliki kemampuan yang lebih di dalam lingkungan galaksi kita, kita harus memastikan jika spesies kita “Harus” tetap bertahan dan melanjutkan kehidupan, tetapi kita sekarang menghadapi periode paling berbahaya dalam sejarah kita, lanjut Hawking berkata.

Populasi kita yang tak terkendali dan penggunaan sumber daya alam kita yang terbatas tumbuh dengan pesat, bersamaan dengan lajunya kemampuan teknis manusia yang bisa membuat lingkungan menjadi lebih baik atau buruk, dan lagi, dengan berbagai ancaman lain dari alam itu sendiri yang bisa mengantarkan kita kepada kepunahan, lanjut Hawking,

Dan akan menjadi sulit bagi kita (Manusia) untuk menghindari itu semua, karena semua isu buruk tersebut mungkin akan terjadi dan semakin berkembang dalam 100 tahun dari sekarang, ucap Hawking, memang terdengar sedikit menakutkan tapi itulah fakta yang telah banyak di prediksi oleh para ilmuwan dan para ahli, dan maka dari itu untuk selamat dari isu-isu buruk tersebut.

Manusia memang harus membangun “Olympus” untuk menyelamatkan spesiesnya dari kehancuran yang tak terelakan tersebut, baik “Olympus” itu berupa pesawat bahtera supermasive yang bisa menampung ratusan ribu atau jutaan manusia didalam nya, dan berlayar mengitari angkasa, menuju sebuah tempat yang layak huni, dan memulai permulaan baru.

Atau membangun teknologi yang cukup canggih mulai dari sekarang, untuk mengkolonisasi sebuah planet, dan pindah dari rumah kita yaitu planet Bumi saat teknologi tersebut telah rampung, atau ide yang lebih radikal lagi yaitu membuat penampungan atau bahtera supermasiv, yang didalam nya berisi seperempat miniatur planet Bumi itu sendiri.

Mungkin, dan membangun banyak hal-hal lebih baik daripada di Bumi dan menjadikan tempat tersebut menjadi “Olympus” menurut versi manusia “Homo Sapiens”.

Memang terdengar seperti kisah-kisah dalam film-film fiksi ilmiah, tapi tanpa kita sadari kisah-kisah tersebut membantu kita dalam membangun dan mengembangkan peradaban kita, menuju kepada hal yang lebih baik, dan tanpa kita sadari perkembangan pesat spesies kita “Homo Sapiens” memang akan dan akan terus berkembang.

Sekarang kita melihat orang-orang berbicara dengan teknologi “Video Call” pada Gadget mereka, dan itu merupakan hal yang sudah lumrah sekarang, tetapi jika orang-orang dari zaman Sumeria kuno melihat kita melakukan hal tersebut, mereka akan menyebut kita sebagai penyihir, atau mungkin manusia dengan kemampuan dewa, atau mungkin mereka akan memanggil kita sebagai Dewa.

Kembali melihat balik kepada perkembangan pesat “Homo Sapiens” sangat tidak menutup kemungkinan, jika kita yang hidup saat ini nanti melihat generesi-generasi spesies kita berikutnya mengembangkan teknologi yang lebih daripada yang kita miliki sekarang, seperti Zeus mentransfer energi petirnya kepada Trisula Poseidon hanya dengan pikirannya, sangat tidak menutup kemungkinan sekali lagi.

Jika hal yang mirip dengan kisah Mitologi dewa-dewi Olympus akan benar-benar terjadi, dan kita akan menciptakan “Olympus” menurut versi kita sendiri di masa depan nanti, mendaki kesana dan memperoleh kekuatan para dewata, seperti yang dikatakan oleh Elon Musk, “Sekarang waktunya untuk menduduki Mars”, karena di planet tersebut terdapat Gunung tertinggi yang bernama “Olympus”.

Dan saat nya kita mulai berkembang, dan nantinya mulai mendaki gunung tersebut.