Ketika di satu sisi Jakarta ratusan ribu orang berkumpul berteriak melontarkan pekik kemenangan atas nama agama, di sisi lain Jakarta banyak orang merasa ketakutan ... termasuk saya. Ketakutan, itulah yang saya rasakan sepanjang hari ini pada tanggal 4 November kemarin dengan terjadinya demonstrasi besar-besaran di istana negara.

Saya takut demonstrasi tersebut akan merembet jadi kerusuhan yang berdasarkan pada sentimen agama dan ras, bahkan akhirnya kantor saya memulangkan kami lebih cepat tepat setelah makan siang karena kantor kami berada di daerah di mana salah satu etnis yang kemungkinan menjadi sasaran kerusuhan banyak tinggal.

Hingga akhirnya saya pulang ke rumah dan menyalakan televisi dan menonton serial televisi terbaik di zaman sekarang, Ipin dan Upin, produk Malaysia. Sejenak saya bisa melepaskan segala ketakutan yang ada.

Di serial tersebut menceritakan Ipin dan Upin dalam momen lebaran, digambarkan begitu ramai dan hangatnya hubungan para saudara dan tetangga di kampungnya si Ipin dan Upin dalam merayakan lebaran. Sebuah ironi ketika semboyan kita Bhinneka Tunggal Ika malah digambarkan oleh sebuah film dari negara tetangga yang sering kita anggap sebagai musuh bebuyutan dari masalah kedaulatan, budaya sampai dengan sepak bola.

Menontonnya saya menjadi teringat akan lebaran di masa nenek saya masih hidup, di mana keluarga besar dari pihak nenek berkumpul ketika lebaran tiba di rumah di mana kami tinggal bersama nenek.

Keluarga saya adalah yang paling mbois di antara keluarga dari nenek saya, karena kami penganut Nasrani, sedangkan nenek beserta saudara-saudara yang lain adalah muslim. Lebaran bagi keluarga besar saya bukan hanya sebagai tradisi agama, namun juga sebagai tradisi persaudaraan di mana semua boleh merayakannya tanpa melihat ras maupun agamanya.

Di saat itu pula saya dan keluarga tidak merasa menjadi minoritas, agama bukan lagi menjadi sebuah satuan angka yang memisahkan mana yang lebih banyak dan mana yang lebih sedikit.

Agama bukan menjadi dasar perbedaan bagi kami, tapi adalah dasar kesamaan. Kesamaan atas nama Tuhan yang memberi kita kebebasan untuk menyembahnya dengan cara berbeda ... saya kira Tuhan juga bosan kalau disembah dengan cara itu-itu saja. Segala perbedaan memang tidak bisa kami satukan, namun masih banyak kesamaan yang masih bisa kita rayakan.

Lebaran dalam keluarga saya menjadi bukti bahwa sekat-sekat SARA terlepas atas nama kemanusiaan dan persaudaraan.

Ketika lebaran hari pertama jatuh pada hari Minggu, ketika saudara-saudara saya yang muslim melaksanakan salat Ied, saya dan keluarga beribadah ke gereja. Setelah kami beribadah, kami pulang melupakan segala tetek bengek agama dan bersatu dalam ruang persaudaraan dan kami mulai melakukan segala ritual lebaran.

Dari sungkeman yang sampai sekarang, saya masih tidak ingat mantra yang harus diucapkan ketika sungkem ke nenek, diteruskan sesi tangis—tangisan saling meminta maaf layaknya saudara-saudara saya ini sebelumnya pernah ingin saling bunuh.

Acara finalnya adalah kami makan bersama, dan kami yang Nasrani di tengah-tengah saudara-saudara muslim ini ternyata masih diberi makan opor bukannya mercon banting. Lebaran dalam keluarga saya adalah bukti bahwa kita bisa menjalankan ibadah kita yang hakiki tanpa saling mencederai.

Lebaran pula yang membuktikan bahwa pintu maaf selalu terbuka. Saya yakin teman-teman dan saudara-saudara saya sadar apa pun agamanya kita adalah makhluk fana yang tidak akan bisa lepas dari salah dan khilaf. Tak perlu lapor polisi untuk segala kesalahan orang lain tapi sebisa mungkin, maafkanlah karena bila tidak, kita semua akan hidup dalam satu lembaga, Lembaga Permasyarakatan (LP).

Indonesia nama negara namun kita kenapa akhir-akhir ini lebih seperti negara Api yang selalu panas ingin selalu berperang. Ironisnya kita malah seperti berperang dengan saudara sebangsa sendiri karena hanya berbeda pendapat maupun kepercayaan atau hanya karena kekhilafan semata. 

Media sosial yang seharusnya bisa membuat orang lebih dekat dan saling bertukar informasi yang berguna malah dipenuhi muatan dengan kata-kata yang lebih seperti mantra santet. “Forgive others, not because they deserves forgiveness but you deserve peace,” kata Jonathan Lockwood Huie. Ya, bukalah pintu maaf bukan untuk orang tapi untuk kedamaian hatimu sendiri.

Nenek saya sekarang sudah beristirahat dengan tenang di  akhirat sana dan ketika lebaran, kami tidak selalu bisa berkumpul seperti dulu lagi. Namun, segala nilai yang ada tetap kami pegang sampai sekarang, bukan hanya dalam lebaran namun dalam hidup berbangsa di negara yang berbhinneka tunggal ika ini.

Sekat SARA bisa terlepas atas nama kemanusiaan dan persaudaraan dan walaupun berbeda, kita bisa beribadah secara hakiki tanpa saling mencederai serta ketika kita manusia yang penuh dengan salah dan khilaf ini melakukan kesalahan, pintu maaf selalu terbuka.

Saya yakin banyak dari masyarakat kita juga percaya dan memegang nilai- nilai tersebut dan jika ternyata ada beberapa oknum yang lupa akan nilai-nilai ini, mereka hanya perlu menonton Ipin dan Upin dan mulai berhenti menonton sinetron India yang sepertinya lupa menaruh kata tamat dalam script-nya.