Pada pukul satu dini hari sehari yang lalu, di mana jam segitu saya memang belum tidur, saya melakukan sesuatu dengan khusyuk yang memang sering saya lakukan sebelum berangkat tidur, yaitu membiarkan diri terseret oleh sejumlah perasaan random yang mengalir di dalam diri saya secara alami.

Saya melakukannya dengan berbaring di atas ranjang dengan kedua tangan yang saya letakkan di bawah kepala dan dengan kedua mata yang terpejam, dan sambil mendengarkan musik terapi otak yang memberi saya keheningan melalui earphone.

Saat itu, yang muncul adalah perasaan-perasaan baik dan tenang. Dan saya merasakan suatu atmosfir atau suasana hati yang menyenangkan—sebuah momentum di mana saya merasa lebih intim dengan diri sendiri.

Kemudian, ada wajah seseorang yang mulai muncul di dalam pikiran—dan saya menikmatinya, seperti sedang menonton film di layar bioskop. Orang itu adalah perempuan yang jual jus buah di dekat tempat saya indekos di Semarang.

Saya memang sering memperhatikannya dan timbul perasaan senang saat saya melihatnya, apalagi ketika saya memergokinya tersenyum. Kadang-kadang mata kami ketemu—secara kebetulan, sewaktu saya lewat dengan sepeda di depan tempatnya jualan sambil mengedarkan mata ke arahnya.

Pada saat itulah saya menemukan dia tersenyum dan giginya yang bagus dan rapi itu kelihatan. Saya tersenyum juga, tentu saja, tapi gigi saya tidak kelihatan—dan omong-omong gigi saya agak gingsul dan kurang rapi.

Saya memang senang tersenyum dengan pose mulut yang masih tertutup. Dan kamu tahu, itu namanya jenis senyuman yang dikulum.

Dan rasa senang saat saya melihat perempuan itu, serupa dengan rasa senang yang muncul ketika saya melihat foto-foto Danilla Riyadi di Instagram. Saya yakin kalau saya melihat Danilla secara langsung, dia pasti semenarik dalam foto.

Danilla dan perempuan yang jual jus buah itu sama-sama menarik bagi saya. Tetapi apa yang betul-betul menarik dari mereka adalah vitalitas hidup yang terpancar keluar melalui aura mereka.

Saya memang tidak mengenal mereka, tetapi aura semacam itu bisa saya rasakan. Atau hal tersebut bisa dikatakan semacam persepsi intuisi atau pengetahuan batin tertentu kita terhadap orang lain—baik yang kita kenal maupun yang tidak.

Dan pikiran kita memang bisa memunculkan apa saja, secara random. Pikiran bisa dengan tiba-tiba memunculkan wajah orang-orang yang kita sukai, orang-orang yang kita kangeni, atau orang-orang yang kita benci, ketika kita mendengarkan lagu-lagu atau menyaksikan hal-hal tertentu.

Orang-orang yang kita benci mungkin mendekam sangat kuat di pikiran kita, seperti akan selamanya tinggal di sana dan kemudian turun ke perasaan kita, dan kemudian melekat sangat kuat juga di sana sampai kita mampu membebaskannya pergi.

Di dalam kasusmu, orang itu mungkin pernah menendang perutmu, atau pernah memukul tempurung kepalamu, atau pernah menginjak hidungmu sehingga melesak ke dalam dan membuat hidungmu yang mancung selamanya pesek dan tidak mekar lagi.

Dan itu cuma misal saja. Saya berharap, dan betul-betul sangat berharap, hidupmu akan selalu baik-baik saja dan tidak membenci siapa pun, tidak membenci orang-orang yang menyakitimu, tidak membenci orang-orang yang menyodokmu dari belakang, atau tidak membenci orang-orang yang menimpukmu.

Iya, oke, kita mungkin tidak bisa bersikap seperti orang-orang spiritualis atau orang-orang yang tercerahkan atau orang-orang bijak, yang dengan enteng mengatakan bahwa orang-orang yang menyakiti kita, tidak punya tanggung jawab sama sekali terhadap rasa sakit yang muncul dalam hati kita atas tindakan mereka.

Kita tidak bisa merengek kepada mereka dan menyuruh mereka untuk menyembuhkan rasa sakit dalam perasaan kita. Rasa sakit kita adalah tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab mereka. Dan yang bisa menyembuhkan adalah diri kita sendiri.

Bude saya, yang seorang spiritualis dan seorang tabib, pernah bilang seperti ini:

"Jangan memelihara perasaan-perasaan benci kepada siapa pun, apalagi menyimpan dendam, terhadap orang-orang yang menyerang atau menyakitimu. Hal-hal seperti itu hanya akan membuatmu semakin sengsara, dan luka di hatimu enggak akan pernah bisa sembuh dengan menyimpan kebencian, apalagi menumpuk kebencian di dalam hatimu seolah-olah kebencian itu sangat indah untuk kamu koleksi."

Jadi, saya tidak ingin memelintir perasaan saya sendiri dengan membenci orang lain. Saya tidak membenci mantan pacar saya, yang beberapa minggu lalu, memenggal hubungan kami dan membikin perasaan saya sedikit agak nyeri.

Saya sangat menghargai keputusannya dan membiarkannya saja pergi. Saya menghargai kejujurannya, menghargai keberaniannya untuk memutuskan bahwa lebih baik hubungan kita bubar saja.

Saya tidak ingin memiliki penyakit yang seumur hidup sulit disembuhkan oleh dokter mana pun gara-gara membenci atau menyimpan dendam kepada orang lain. Seperti seseorang bernama Harun, yang menderita penyakit mag selama lebih dari 10 tahun dan sudah berobat ke mana-mana tetapi hasilnya nihil.

Si Harun itu saya temukan dalam bukunya Romo Dewa, judulnya Rahasia Dewa Hipnosis. Pada bab satu di buku itu, ada pertunjukan hipnosis dalam bentuk cerita yang dilakukan Romo Dewa dan terjadi di sebuah aula.

Ada lima puluh orang di sana, dan sejumlah dari mereka ada yang dibikin tidur hipnotis oleh Romo. Kemudian, si Romo itu menyusupkan sugesti-segusti positif ke dalam pikiran mereka.

Setelah semua itu beres, Romo lalu mengajukan pertanyaan kepada mereka apakah ada di antara mereka yang ingin dihipnoterapi. Dia lalu mempersilakan satu orang untuk langsung maju ke depan. Pada saat itulah Harun maju.

"Kenapa kamu maju?" tanya Romo.

Harun menjawab soal penyakit magnya itu yang sudah tahunan dan dia ingin minta tolong agar penyakitnya disembuhkan.

"Apa kamu punya dendam atau kebencian terhadap orang lain?"

"Ya," jawab Harun.

Kemudian Harun ditanya lagi oleh Romo apa reaksi dia ketika ingat orang yang dia benci.

"Langsung emosi saya, Pak," katanya. "Dan rasanya ingin sekali saya membalas dendam."

Kemudian Romo tidak peduli dan tidak mau tahu apa yang sudah dilakukan orang itu kepada Harun. Dan Harun memang tidak menceritakannya.

"Nah, sekarang," kata Romo, "kamu harus bisa memberinya maaf jika kamu ingin betul-betul sembuh."

Mula-mula Harun tidak mau. Dan katanya dia dendam sekali kepada orang itu. Tetapi akhirnya dia nurut juga setelah Romo menyemburkan kata-kata ini:

"Memaafkan itu bukan buat dia, bukan berarti kamu juga harus menemuinya atau berhubungan lagi dengannya. Memaafkan itu seperti perutmu mengeluarkan tahi. Dan jika tahi itu tidak kamu buang, tahi itu akan menjadi racun untuk dirimu sendiri. Kamu akan menderita seumur hidup jika kamu tidak memaafkan orang itu, dan itu seperti selamanya kamu memanggul orang itu dalam hidupmu."

Kemudian Harun dibikin tidur hipnotis oleh Romo atas persetujuan Harun sendiri.

Dalam tidurnya itu, pikiran Harun disusupi oleh Romo kata-kata baik. Salah satunya adalah ini:

"Kamu jelas sekali ingat teladan Nabi Muhammad yang mengampuni semua yang menyakitinya, dan sekarang kamu sungguh-sungguh bisa meneladani nabi besar dan mulai bisa mengambil keputusan untuk mengampuni orang yang menyakitimu."

Dan ajaib, penyakit mag Harun betul-betul sembuh hanya dengan memaafkan orang yang dia benci.

Dan saya tidak ingin seperti Harun atau siapa pun, yang pikirannya mungkin terjebak oleh perasaan benci terhadap orang lain.

Saya ingin pikiran saya selalu dipenuhi oleh hal-hal menyenangkan dan orang-orang yang saya sukai dan lain sebagainya yang positif.

Dan omong-omong soal Romo Dewa, dia dikenal sebagai Guru Penyembuhan Ajaib dalam dunia penyembuhan. Kamu bisa melacak profilnya lebih lanjut di internet atau membaca buku-bukunya kalau mau.