Danda Seorang Selir

saujana, harem itu terlihat abyad.

padahal yuda baru saja rampung

ocehan anak kecil berbaju kirmizi

di depan ibunya yang wagu

enggan bernapas

terlanjur tumpas

bersama tanah yang semakin reras.

laut pun mengamuk

langit dibelah para ungkau

memboyong pecahan air mata

berselimut nasut

bertakhtakan kabut.

selir itu berhasil memakai mahkota dan memegang danda.

(*) Pamulang 17 September 2016

Kamu

kamu membuatku limbung. bingung. kamu kuyup oleh peluh pada hariba kepekatan langit sebelum fajar.

katupkan kedua pelupukmu. kecupanku mungkin terlalu disekat jarak. tapi waktu tidak statis. jangan mau kamu dikalahkan jam yang makin congkak karena enggan membuatmu lelap.

aku menanti hela napas yang keluar lembut dari hidungmu. bisikan rama-rama di pagi hari tak usah kamu hiraukan. bukankah kita berjanji temu di zirbad seusai malam?

(*) Pare, 3 Januari 2017

Melukis Puisi

di tubuhku tersirat embun

yang enggan jatuh sejak kemarin.

kamu menanti

menaksir mimpi

pada serpihan daun jati

yang kian meranggas

dari hari ke hari.

senja masih bungkam

dia terlalu bosan dengan puisi tentang cinta,

tentang kita.

kuas pada akrilik menyiratkan ayat-ayat

yang tak tersentuh diksi.

pada zamin yang melantunkan

tafsir kitab suci

varia warna menuntut agar kita

dipasung puisi dalam

sebuah kanvas berserabut matahari.

(*) Ciputat, 5 November 2016