Satu lagi drama Jepang yang bisa jadi referensi untuk ditonton, judulnya Ishi no Mayu a.k.a. Stone’s Cocoon (2015). Drama ini menceritakan tentang penyidikan kasus pembunuhan misterius. Berikut sinopsis cerita drama Ishi No Mayu dari Asiawiki (http://asianwiki.com/Stone's_Cocoon)

Toko Kisaragi (Fumino Kimura) is a detective who just transferred to 11 Section of the 1st Investigation Division at the Tokyo Metropolitan Police Department. Her father was also a detective.

A body is found under the basement floor of an abandoned building. The body has been cemented. Detectives hold a meeting to investigate the case. The murderer then calls the investigation headquarters.

The murderer introduces himself as Toremi. Toko Kisaragi becomes Toremi's negotiator. While giving hints about the murder, Toremi also ridicules and provokes the detectives. Toremi then calls and announces a second murder. The second victim is found and that person is also cemented.

Setelah dilakukan penyidikan, barulah diketahui kalau pembunuh misterius yang mengaku bernama Toremi adalah korban penculikan 17 tahun yang lalu. Saat itu, Toremi kecil diculik dan melihat ibunya disiksa oleh penculik sampai mati. Beberapa hari kemudian, Toremi kembali ke keluarganya dan hidup bersama ayahnya.

Si ayah kesal dan menceritakan bahwa dialah yang merencanakan penculikan tersebut untuk mendapatkan uang dari kakek Toremi. Sayangnya, kakek Toremi malah melapor ke polisi dan ayah Toremi tidak mendapatkan uang sepeser pun.

Toremi tumbuh menjadi anak pendendam dan anti sosial. Setelah dewasa, Toremi berencana membunuh semua pelaku penculikan dan pembunuh ibunya, termasuk anggota polisi yang tidak kompeten. Toremi membenci ketidakmampuan anggota polisi dalam mengungkap kasus penculikan dan pembunuhan 17 tahun yang lalu.

Pelaku kejahatan dapat hidup bebas, sementara Toremi hidup dalam ketakutan dan kehilangan ibunya. Setelah itu, anggota polisi juga tidak mampu mengungkap kematian ayahnya. Polisi menganggap ayah Toremi bunuh diri, padahal Toremilah yang membunuh ayahnya. Toremi tidak lagi percaya dengan polisi dan menghukum satu per satu pelaku pembunuhan ibunya.

Drama ini mengandung pesan sosial yang sangat penting, mengingat kekerasan terhadap perempuan dan anak di  kalangan masyarakat hingga kini masih sering terjadi. Di sisi lain, korban kekerasan belum mendapatkan perlindungan yang maksimal dari pemerintah maupun masyarakat.

Beberapa instansi pemerintah yang memiliki peran dalam perlindungan anak beranggapan bahwa keluarga menjadi lembaga pengasuhan terbaik bagi anak. Padahal, terdapat kemungkinan pelaku utama atau dalang dari tindakan kekerasan itu adalah keluarga terdekatnya.

Selain itu, penanganan terhadap pemulihan kejiwaan korban seringkali dilakukan untuk formalitas belaka atau hanya dilakukan dalam kurun waktu yang pendek (hanya dilakukan pendampingan selama 1 tahun). Ironisnya, lembaga yang memiliki kapasitas untuk membantu korban pulih dari trauma tidak jarang malah membicarakan ketidakmampuan si korban untuk berdamai dengan dirinya, dengan lingkungan sekitarnya.

Dilihat dari sudut pandang tersebut, si korban tentu memiliki alasan yang kuat untuk tetap menyimpan traumanya dan berpura-pura menunjukkan kepada lingkungan bahwa keadaannya baik-baik saja.

Kelemahan pemerintah dan masyarakat dalam melihat permasalahan kekerasan, terutama kekerasan psikis dapat menghadirkan permasalahan besar di kemudian hari. Belajar dari drama Ishi No Mayu, kita dapat melihat bahwa luka psikis yang dialami korban penculikan menjadikan korban memiliki sifat pendendam dan anti sosial.

Di sini kita dapat melihat bahwa pendampingan dari konselor harus dilakukan terus menerus, tidak hanya dalam hitungan minggu atau bulan. Pembentukan karakter membutuhkan waktu yang lama dan intensif. Korban tidak hanya membutuhkan nasihat, sebaliknya korban justru membutuhkan teman untuk mendengar dan memahami perasaannya.

Di samping itu, nasihat yang diberikan kepada korban juga seharusnya tidak menghakimi atau menggurui. Di titik ini, memang sulit bagi konselor untuk benar-benar memahami apa yang dirasakan korban. Konselor atau masyarakat dapat memulainya dengan mengikuti cara berpikir si korban.

Terakhir, saya sendiri berpendapat bahwa pesan utama dalam drama Ishi No Mayu ditujukan pada orang-orang yang bekerja sebagai penegak hukum. Jika pihak berwajib tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik, hukum rimba akan kembali berlaku.